Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Diana Dewi

Diana Dewi

Kreativitas adalah Cara Terbaik untuk Bertahan

Rabu, 11 November 2020 | 07:00 WIB
Kunradus Aliandu (kunradus@investor.co.id)

Pandemi Covid telah menyebabkan banyak perusahaan gulung tikar. Hanya pengusaha kreatiflah yang bisa bertahan.

Pandemi Covid-19 yang merebak di Tanah Air sejak Maret lalu telah menimbulkan dampak luas di berbagai sektor usaha. Hampir semua jenis usaha terjun bebas.

Penutupan akses (lockdown) yang diberlakukan negara-negara eksportir menyebabkan rantai pasok (supply chain) global terganggu. Alhasil, selain terkendala bahan baku, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, kesulitan memasarkan produknya.

Apalagi setelah pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah untuk meredam penyebaran virus corona.

Dunia usaha makin terjepit setelah daya beli masyarakat tergerus. Para pengusaha dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit, yakni melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk mem-PHK karyawan agar roda bisnis bisa tetap berputar, atau menutup perusahaannya.

Intinya Kreativitas

Kondisi yang serba sulit di masa pandemi telah memaksa para pengusaha mengubah strategi pemasarannya. Bahkan, tak sedikit pengusaha yang mengubah model bisnisnya.

Di bidang pemasaran, para pengusaha umumnya beralih ke layanan online, baik lewat e-commerce maupun marketplace. Sebagian pengusaha memilih perpaduan antara online dan offline (omnichannel).

Penjualan secara online terbukti lebih efektif pada era pandemi, terutama selama PSBB diterapkan secara ketat. Soalnya, penjual dan pembeli tidak perlu bertemu secara fisik.

"Intinya ada pada kreativitas. Kreativitas adalah cara terbaik bagi perusahaan untuk bertahan dan menyelamatkan perusahaan dan aset lainnya, yaitu karyawan," tutur Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Seperti para pengusaha dan pimpinan perusahaan lainnya, Direktur Utama PT Garindo Food International yang juga Komisaris PT Suri Nusantara Jaya dan Komisaris PT Suri Nusantara Jaya Logistik ini pun mengubah strategi bisnisnya dengan mengintensifkan penjualan secara online.

Diana berupaya semaksimal mungkin agar perusahaan pengolahan dan bahan makanan yang dikelolanya tetap survive dan tidak sampai mem-PHK karyawan. “Perusahaan kami selalu menganggap karyawan adalah aset perusahaan. Jadi, PHK adalah jalan terakhir," ujar perempuan kelahiran Jakarta, 27 Juli 1965, itu.

Diana Dewi mengakui, omzet perusahaannya turun selama pandemi. Namun, hal itu tidak sampai memicu PHK karyawan. "Kami berupaya melakukan efisiensi serta mengintensifkan promosi dan penjualan melalui e-commerce dan marketpace. Kami juga melakukan promosi dan pemasaran lewat online shop di media sosial,” papar dia.

Program PEN

Sebagai Ketua Umum Kadin DKI, Diana Dewi mengapresiasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang tengah dijalankan pemerintah. "Beberapa program tersebut secara nyata telah membantu dunia usaha untuk bertahan di tengah pandemi,” ucap dia.

Hanya saja, menurut Diana, dampak pandemi Covid-19 dari hari ke hari semakin berat saja. Itu sebabnya, ia mengusulkan agar pemerintah pusat dan pemda memberikan lebih banyak relaksasi dan stimulus kepada dunia usaha.

Mantan wakil bendahara umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DKI Jakarta ini juga berharap Pemprov DKI membuka kesempatan yang lebih luas kepada sektor swasta dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, perlu ada sebuah skema baru berupa dana darurat bagi pelaku UMKM yang dapat diakses secara mudah dan cepat. Pemprov DKI pun perlu memberikan konsultansi dan pembinaan kepada para pelaku UMKM agar mereka bisa bertahan dan cepat pulih.

“Apabila pemerintah tidak membantu dunia usaha untuk bangkit, pemulihan ekonomi nasional akan berjalan sangat lambat,” tegas Diana yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Industri Pengolahan Daging Sapi, Ayam, dan Ikan Skala UKM dan Rumah Tangga (Aspedata).

Diana mengakui, kondisi saat ini berbeda jauh dengan krisis moneter 1997-1998. Pada 1997-1998, UMKM justru tampil sebagai penyelamat ekonomi nasional. Sebaliknya, sekarang UMKM lebih rentan kolaps akibat turunnya daya beli masyarakat dan tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

"Jadi, UMKM sekarang memang sangat menderita. Maka selain perlunya dana darurat bagi UMKM, pemerintah pusat dan daerah harus melibatkan UMKM secara masif dalam belanja rutin pemerintah," kata Diana.

Diana Dewi menjelaskan, kue besar yang selama ini hanya dinikmati kelompok perusahaan besar dan BUMN mesti dibagi menjadi paket kecil-kecil yang dapat diakses para pelaku UMKM. "Jika ini diterapkan, saya yakin ekosistem dunia usaha akan segera pulih,” tandas dia.

Diana juga menekankan pentingnya penegakan hukum (law enforcement) dalam menjalankan PSBB agar masyarakat lebih disiplin melaksanakan protokol kesehatan. “Tingkat disiplin masyarakat harus menjadi perhatian serius. Jika protokol kesehatan tidak dijalankan secara ketat, pandemi akan sulit diakhiri, sehingga pemulihan ekonomi pun bakal memakan waktu lebih lama,” ujar dia.

Fokus ke Perbaikan

Sebagai negara besar, kata Diana Dewi, Indonesia memiliki daya tarik bagi investor, baik lokal maupun asing. Investasi bisa menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang dapat mengeluarkan Indonesia dari jurang resesi. Sejumlah lembaga internasional pun memprediksi Indonesia bisa mengalami pertumbuhan positif pada kuartal I-2021.

“Untuk itu, pemerintah harus benar-benar fokus memperbaiki ekosistem dunia usaha. Jika dunia usaha pulih, ekonomi kita akan kembali ke level sebelum Covid-19,” tutur dia.

Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dalam outlook terbarunya yang dirilis pada September 2020 memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun ini berada pada kisaran minus 3,3%. Setelah terpuruk pada 2020, ekonomi Indonesia pada 2021 diperkirakan bisa kembali ke level 5,3%.

Sementara itu, dalam proyeksi pemerintah, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2020 masuk fase resesi dengan perkiraan minus 2,9% hingga minus 1,1%. Secara keseluruhan, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini minus 1,7% hingga minus 0,6%.

Diana Dewi sepakat bahwa untuk mendorong ekonomi, daya beli masyarakat harus dipulihkan. Daya beli yang meningkat akan menumbuhkan permintaan (demand), sehingga dunia usaha bisa bangkit lagi. "Kuncinya, daya beli masyarakat yang naik secara otomatis akan memicu pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Diana menegaskan, selama pandemi, para pengusaha harus berbenah dan melakukan konsolidasi. Itu pula yang dilakukan Diana Dewi di perusahaannya. “Kami optimistis masa-masa berat saat ini dapat dilalui dengan baik,” ucap dia.***

Baca juga: Berkebun, Harapan, dan Rasa Syukur

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN