Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
U Saefudin Noer, Presiden Direktur Perum Jasa Tirta II. Foto: Investor Daily/IST

U Saefudin Noer, Presiden Direktur Perum Jasa Tirta II. Foto: Investor Daily/IST

U SAEFUDIN NOER, Presiden Direktur Perum Jasa Tirta II

Kuncinya Fleksibel, Adaptif, dan Berpikiran Terbuka

Eko Adityo Nugroho, Selasa, 30 Juli 2019 | 00:06 WIB

Bekerja di berbagai macam posisi tidak sulit bagi seorang U Saefudin Noer. Maklum, berbagai jabatan lintas bidang pernah diembannya, mulai dari dosen, konsultan manajemen, bankir, direktur keuangan, presiden komisaris, hingga presiden direktur, posisinya saat ini di Perum Jasa Tirta II.

Apa yang membuat Saefudin tidak shock dan tetap mampu melaksanakan setiap amanat yang diembannya? “Kata kuncinya be flexible, be adaptive, be open minded,” kata Saefudin Noer kepada wartawan Investor Daily Eko Adityo Nugroho di Jakarta, belum lama ini.

Saefudin memegang teguh nilai-nilai survival bahwa yang bisa bertahan dan berhasil bukanlah yang paling pandai, paling kuat, paling besar, atau paling kecil, melainkan yang paling bisa beradaptasi. “Maka saat ada tugas baru, cara beradaptasilah yang menentukan berhasil atau tidaknya seseorang,” tutur dia.

Kemampuan Saefudin dalam beradaptasi dan menjalankan berbagai tugas (multitasking) diperoleh dari pengalamannya bekerja di perusahaan multinasional. Ia terbiasa disiplin, berpikir sistematis, taktis, mengikuti etika, berempati, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain. “Tidak semua orang bisa begitu, tetapi ini bisa dilatih. Kuncinya mencoba adaptif dan terus melatih diri,” ujar dia.

Di luar itu, Saefudin Noer senantiasa berupaya menjaga integritas. Bagi eksekutif yang juga dikenal sebagai penyair ini, integritas amat menentukankeberhasilan seseorang untuk tetap survive. “Integritas adalah ‘mata uang’ yang bisa dipakai di manamana,” tegas dia.

Saefudin juga percaya bahwa untuk bisa bertahan dan memimpin, seseorang harus memiliki pengetahuan yang beragam. “Bukan ijazah yang bisa membuat seseorang naik ke atas, tetapi karakter, kecakapan, konektivitas, kinerja, dan cara berpikirnya,” papar dia.

Berikut penuturan lengkapnya:

Apa kunci sukses Anda sehingga bisa memegang berbagai jabatan dengan latar belakang berbeda-beda?

Manusia adalah makhluk paling sempurna, yang bisa menyerap, mengatasi masalah, dan survive dalam kondisi apa pun. Dia punya pancaindra, pikiran, pengetahuan, keterampilan, dan pembelajaran baru sebagai sumber daya yang tak terbatas. Waktu juga sumber daya, tapi terbatas.

Kalau manusia bisa mengelola waktu yang terbatas itu dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada dalam dirinya, dia akan berhasil. Ini kan hanya cara berpikir. Itu sebabnya, setiap mendapatkan pekerjaan baru, saya kosongkan pikiran. Itu agar informasi apa pun bisa diterima untuk mengatasi masalahmasalah baru. Starting from zero.

Kalau saya tidak mengerti, tidak defense. Semakin saya defense, semakin banyak ilmu yang tidak masuk. Istilah saya, lupakan CV (curriculum vitae) dan mulai dengan visi dan mimpi.

Perjalanan karier Anda dimulai dari mana?

Setelah jadi dosen di Universitas Indonesia (UI), pekerjaan pertama saya adalah menjadi konsultan manajemen di perusahaan asingmultinasional yang basisnya di Punta Gorda, Florida, Amerika Serikat. Itu perusahaan bereputasi dunia, sehingga saya didik untuk berpikir dan bersikap secara benar dalam berbagai kultur, karena klien kami berasal dari berbagai bangsa.

Dengan begitu, saya terbiasa menghadapi banyak orang, seperti dari Jepang, Amerika, maupun Indonesia, sesuai gayanya dengan standar skill global. Begitu diminta bergabung ke perbankan pada 1990-an, saya cuma kosongkan ilmu lama dan terima pendidikan banker hingga mendapat berbagai macam sertifikasi. Begitu juga saat bekerja di pelabuhan.

Bagaimana Anda bisa cepat beradaptasi dengan pekerjaan baru?

Dari pengalaman bekerja sebelumnya, saya terbiasa untuk disiplin, berpikir sistematis, mengikuti etika, tactical, relationship, berempati, dan berkontribusi positif dalam setiap pekerjaan. Lama-kelamaan, itu tertanam dalam diri saya, sehingga saya bisa cepat beradaptasi. Dalam perjalanannya, saya bisa bekerja multitasking. Relatif agak fleksibel. Tidak semua orang bisa begitu, tetapi ini bisa dilatih. Kuncinya mencoba adaptif dan terus melatih diri sendiri.

Adaptif itu yang membuat Anda dipercaya menduduki jabatan tertentu?

Dalam banyak hal, yang bisa survive dan berhasil bukan yang paling lemah, paling pandai, paling kecil, paling kuat, tetapi yang bisa beradaptasi. Itu kata kunci bagi siapa pun. Maka saat ada tugas baru, cara beradaptasilah yang menentukan berhasil atau tidaknya.

Kata kuncinya be flexible, be adaptive, be open minded. Selain itu, integrity adalah ‘mata uang’ yang bisa dipakai di manamana. Selanjutnya membangun relationship atau koneksi dengan semua stakeholder dan semua profesi lainnya. Kalau kita bisa selalu memberi kontribusi, solusi, dan berempati, cara berpikir kita akan diterima dan dilihat banyak orang. Akhirnya kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Itu juga yang saya tanamkan kepada anak saya.

Menurut Anda, seberapa penting latar belakang pendidikan bagi karier seseorang?

Hidup itu mesti lengkap. Mungkin pesannya adalah jangan percaya pada satu pengetahuan. Pada dasarnya, yang terpenting dari pendidikan adalah membangun karakter dan membentuk pola berpikir kita. Kalau karakater tidak berhasil dibangun, dia tidak akan berhasil. Bukan ijazah yang bisa membuat dia naik ke atas, tetapi karakter, ability, connectivity, performance, dan cara berpikir.

Bahkan, tidak ada cita-cita saya berdasarkan gelar sarjana. Namun, saya selalu ingin menjadi bosnya, meski profesinya dokter. Jadi, ini semacam challenge. Kesempatan memimpin itu bukan berdasarkan pendidikan, tetapi berdasarkan kemampuan mengelola banyak hal, menghadapi masa depan, membekali diri, dan bergaul dengan banyak orang.

Perbedaan bidang yang Anda tangani saat ini dengan sebelumnya?

Kalau dulu kan berhubungan dengan shipping liner, bea cukai, kapal asing, kargo, kontainer, perusahaan yang bergerak dari negara ke negara. Sekarang harus berpikir dari sisi sumber daya air (SDA). Air ini mirip-mirip uang, ada debit dan kredit. Kalau air sedang banyak, tidak boleh dihamburhamburkan. Ketika tidak punya uang, berarti perlu hemat.

Jadi, yang dipikirkan sekarang, bagaimana menjamin ketersediaan air bagi masyarat dan petani agar sawah tidak mengalami fuso, dan ini terkait dengan mendukung terjaganya ketahanan pangan nasional.

Di sisi listrik, air ini kan bisa menghasilkan listrik, baik yang ada sekarang maupun energy baru dan terbarukan nanti. Selain itu, ada pekerjaan bagaimana menyelamatkan lingkungan, bumi, planet, mencegah banjir di samping masalah profit dan people. Kelihatannya pekerjaan ini berbeda. Tetapi sebenarnya masih berkaitan dengan bagaimana beradaptasi, berkontribusi menjaga lingkungan, integritas, koneksi, agar seluruh pekerjaan besar yang diberikan kepada kami bisa diselesaikan dengan cara tepat dan cepat.

U Saefudin Noer, Presiden Direktur Perum Jasa Tirta II. Foto: Investor Daily/IST
U Saefudin Noer, Presiden Direktur Perum Jasa Tirta II. Foto: Investor Daily/IST

Bisa cerita tentang Jasa Tirta II?

Jasa Tirta II adalah badan usaha milik negara (BUMN), dulu namanya Perum Otorita Jatiluhur. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 94 Tahun 1999 tentang Perum Jasa Tirta II, pemerintah mengubah dan menyesuaikan namanya menjadi Perum Jasa Tirta II.

Pemerintah menyesuaikan kembali ruang lingkup tugas dan kegiatan usaha Jasa Tirta II melalui PP Nomor 7 Tahun 2010 tentang Perum Jasa Tirta II guna turut melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program di bidang ekonomi dan pembangunan nasional, terutama di bidang pengusahaan dan pengelolaan SDA. Juga untuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya perusahaan guna menghasilkan barang dan jasa berdasarkan prinsip pengeloalaan perusahaan yang sehat.

Tugas dan tanggung jawab Jasa Tirta II yaitu melaksanakan pengusahaan dan pengelolaan SDA wilayah sungai. Wilayah kerja Jasa Tirta II mencakup 74 sungai dan anak sungai yang menjadi kesatuan hidrologis di Jawa Barat bagian utara, terdiri atas wilayah Sungai Citarum dan sebagian wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, yang meliputi daerah seluas kurang lebih 12 ribu km2.

Wilayah pelayanan Jasa Tirta II berada di Jawa Barat dan DKI Jakarta, yaitu sebagian Kotamadya Jakarta Timur, Kota dan Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, sebagian Kabupaten Indramayu, sebagian Kabupaten Sumedang, Kota Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, sebagian Kabupaten Cianjur, serta sebagian Kabupaten Bogor.

Rencana Anda untuk Jasa Tirta II ke depan?

Saya ingin perusahaan ini bertransformasi dengan melihat sumber daya yang ada, seperti waduk sungai, tanah, aset, properti, wilayah pariwisata, dan air. Aset itu bisa dioptimalkan untuk sementara waktu sebelum ada peraturan baru mengenai jasa tirta.

Saya juga mau membuat kultur baru, bukan lagi kebiasaan yang apa adanya. Jadi, perlu inovasi. Apalagi tiap potensi memiliki model dan proses bisnis yang berbedabeda. Makin banyak potensi yang pengusahaannya manageable, profesional, dan komersial, makin banyak pula tambahan pendapatan bagi perusahaan. Maka menjaga konservasi lingkungan, kekeringan, manajemen banjir, konflik SDA, serta energi baru dan terbarukan menjadi lebih profesional sebagai perusahaan, bukan sebagai badan. Itu juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Itu hope dan dream kami.

Model bisnis Jasa Tirta II mengacu ke mana?

Saya terinspirasi oleh Korean Water Corporation yang sudah ada di 30 negara operasi dengan lebih dari 70 proyek di seluruh dunia. Mereka sudah bisa mengelola sungai di Korea Selatan dan punya power plant yang banyak. Kami sampai hari ini hanya beroperasi di dua wilayah sungai dan dua provinsi.

Selain sudah punya air minum, mereka punya air minum dalam kemasan, konsep kota cerdas berbasis SDA. Sebab, menurut mereka, tidak ada kota tanpa air, tidak ada negara tanpa air. Tidak ada air berarti tidak ada energi dan kehidupan, sehingga mereka memprotect lingkungan.

Karena itu, kami jadikan mereka benchmark untuk belajar dan kami sudah menandatangani kerja samanya. Langkah ini ternyata didukung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan dan Kementerian BUMN. Bahkan, saat penandatanganan kerja sama, menteri lingkungan Korea juga hadir.

Bisakah Jasa Tirta II seperti perusahaan Korea?

Setiap ide baru tentu ada challenge. Cuma nanti tinggal diuji mana yang lebih besar kemanfaatannya. Tetapi saya percaya karena ada contoh yang berhasil di negara lain. Hanya saja, kalau menggunakan benchmark ini maka sudah sepatutnya Jasa Tirta II diberikan kewenangan full untuk mengelola SDA dari hulu hingga ke bawah.

Seluruh PLTA di atas air harus dijadikan usahanya Jasa Tirta, sehingga alokasi air untuk kepentingan usaha dan komersial bisa di-manage oleh satu tangan. Tentu boleh bermitra dengan swasta atau BUMN untuk membangun PLTA. Cuma, kendali dan kekuasaan pengelolaan harus dipegang oleh BUMN yang punya kewenangan lebih, sehingga tidak ada lagi konflik dalam alokasi dan sharing SDA antara petani dan kepentingan komersial.

Kendala utamanya ada di mana?

Menurut saya, pemerintah sudah saatnya mengatur kembali kewenangan hak-hak pengusahaan dan pengelolaan lahan serta hak peningkatan usaha Jasa Tirta dalam mengoptimalkan SDA nasional. Jadi, hak pengusahaannya diperluas, hak pengelolaan lahannya diberikan. Karena itu, kami mengusulkan adanya perubahan peraturan.

Apa yang kami lakukan ini merupakan sebuah perbaikan, bukan perubahan. Kita inginbanyak melakukan perubahan, tetapi belum tentu mengarah pada perbaikan. Jangan tergoda perubahan kalau tidak merngarah pada perbaikan. Change is good but improvement is better.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN