Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia. (ist)

Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia. (ist)

Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia

Mengemban Tanggung Jawab dengan Cara yang Benar

Senin, 10 Mei 2021 | 15:33 WIB
Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Menjadi akuntan bukanlah cita-cita Johanna Gani. Namun, jalan hidup telah menuntun perempuan kelahiran 1968 ini untuk memilih profesi akuntan.

Ketekunan, pantang menyerah, terus belajar, serta berupaya menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan cara yang benar telah mengantarkan Johanna ke puncak karier sebagai Chief Executive Officer (CEO)/Managing Partner Grant Thornton Indonesia.

Tentu ada pergulatan batin tatkala Johanna terjun ke jalur karier sebagai akuntan. Namun, pada akhirnya ia tidak lagi memaknai karier sebagai pekerjaan yang harus dijalani untuk mendapatkan penghasilan semata.

Johanna menjadikan karier sebagai media, di mana pemikiran, pandangan, pengaruh, dan kontribusi positif dapat ia berikan demi kepentingan lebih luas.

“Perspektif ini yang menjadi kekuatan dan penyemangat saya untuk dapat menjalankan semua tugas dan tanggung jawab sebagai CEO,” ujar dia.

Johanna percaya transparansi dan kejujuran merupakan hal utama, termasuk jujur atas ketidaksempurnaan, kelemahan, atau kesalahan yang mungkin terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana merespons kelemahan dan kesalahan tersebut, lalu menjadikannya lebih baik.

“Respons terhadap kelemahan dan kesalahan justru akan membuka cara berpikir dan pandangan orang-orang dalam organisasi bahwa kelemahan dan kesalahan bukan alasan sebagai penghalang untuk terus bertumbuh dan berkembang,” papar dia.

Bagi Johanna Gani, belajar dari kelemahan dan kesalahan bukan hanya akan mendorong seseorang menjadi lebih baik, tapi juga membuatnya paham jati diri. “Jadi, yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari kelemahan dan kesalahan. Itulah yang akan menentukan menjadi apa dan siapa diri kita,” tegas dia.

Lalu, apa sebenarnya cita-cita Johanna Gani? Kenapa ia kemudian memilih profesi akuntan? Apa filosofi hidupnya? Mengapa pandangan hidupnya tentang akuntan berubah 180 derajat? Berikut penuturan lengkapnya kepada wartawan Investor Daily, Totok Hari Subagyo di Jakarta, baru-baru ini.

Bisa cerita perjalanan karier Anda hingga posisi sekarang?

Cita-cita awal saya adalah menjadi seorang psikolog. Namun, ketika saya lulus SMA, ayah menganjurkan saya untuk mengambil kuliah akuntansi. Ayah saya saat itu bekerja sebagai auditor, namun tidak memiliki register negara untuk akuntan.

Lulus sebagai sarjana ekonomi jurusan akuntansi, saya memulai karier sebagai auditor di Touche Ross Indonesia pada 1992. Kemudian pada 1993 saya bergabung dengan Grant Thornton Indonesia.Bersamaan dengan itu, saya mulai mengikuti beberapa level ujian guna mendapatkan sertifikat register negara untuk akuntan.

Sejujurnya saat itu motivasi saya hanya untuk menyenangkan hati ayah saya. Maka setelah saya mendapatkan izin berpraktik sebagai akuntan beregister negara pada 1996 dan memasukkan nama keluarga Gani sebagai bagian dari nama kantor akuntan publik (KAP) di tempat saya bekerja, saya merasa tugas saya telah selesai.

Namun, pada 2007 terjadi restrukturisasi cukup besar pada KAP tempat saya bekerja, yang ‘memaksa’ saya menerima posisi Pemimpin Rekan (Managing Partner) KAP tersebut.

Sejak itu, pandangan saya berubah 180 derajat. Saya tidak lagi melihat karier sebagai pekerjaan yang harus saya jalani sebagai kewajiban untuk mendapatkan penghasilan, melainkan sebagai media, di mana pemikiran, pandangan, pengaruh, dan kontribusi positif dapat saya berikan bagi kepentingan yang lebih luas, terutama bagi seluruh staf beserta keluarganya, pihak-pihak yang berhubungan, dan komunitas di sekitar organisasi kami.

Perspektif ini yang terus menjadi kekuatan dan penyemangat saya untuk dapat menjalankan semua tugas dan tanggung jawab sebagai CEO.

Nilai-nilai hidup yang Anda pegang?

Mengenali tujuan yang Tuhan berikan kepada saya membuat saya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengemban tugas dan tanggung jawab pekerjaan saya dengan cara yang benar.

Bagi saya, posisi apa pun itu, merupakan kesempatan dan anugerah yang sangat berharga yang diberikan Tuhan untuk memenuhi panggilan hidup dan memberikan kontribusi terbaik yang kita miliki kepada orang lain.

Di samping itu, ketekunan dan tidak mudah menyerah atau putus asa adalah modal utama dalam menjalani pekerjaan. Saya juga terus belajar bagaimana bisa merespons dengan benar atas kesempatan yang ada dan pada waktu yang tepat. Saya belajar untuk terus bertumbuh dan memiliki kemampuan dalam menavigasi situasi, kondisi, persoalan, dan orang-orang di sekitar saya.

Menurut saya, keberhasilan yang dicapai sebuah organisasi merupakan hasil usaha dan kerja keras semua orang di dalam organisasi tersebut. Kolaborasi dan kerja sama sebagai tim dan keluarga membuat organisasi kami dapat bertumbuh dan berkembang bersama-sama.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?

Lead by example merupakan hal paling efektif untuk menjadikan filosofi yang ingin kita tanamkan dapat menjadi budaya kerja dalam organisasi.

Tone from the top yang diaplikasikan secara konsisten dan berkesinambungan juga perlu diterapkan untuk mentransformasi organisasi. Selan itu, keterbukaan dan fleksibilitas terhadap pemikiran dan cara kerja anggota tim penting diterapkan untuk mencapai hasil sesuai ekspektasi.

Saya juga menekankan pentingnya transparansi dan kejujuran. Dengan menunjukkan ketidaksempurnaan, kelemahan atau kesalahan yang mungkin terjadi, lalu kita merespons kelemahan dan kesalahan tersebut untuk menjadikannya lebih baik justru akan membuka cara berpikir dan pandangan orang-orang dalam organisasi bahwa kelemahan dan kesalahan bukan penghalang untuk terus bertumbuh dan berkembang.

Jadi, yang terpenting adalah bagaimana kita merespons dan belajar dari kelemahan dan kesalahan tersebut. Itulah yang akan menentukan menjadi apa dan siapa diri kita.

Grant Thornton memberikan perhatian besar pada kesetaraan gender, apa alasannya?

Tidak hanya Grant Thornton Indonesia, Grant Thornton Global sejak lama memprioritaskan kesetaraan gender di dunia kerja. Salah satu laporan tahunan kami, Women in Business bahkan khusus membahas pemetaan posisi perempuan di berbagai negara.

Untuk Grant Thornton Indonesia, saat ini posisi peremuan yang menduduki posisi senior manajemen atau di jenjang Partner dan Director sudah mencapai 50%. Bagi kami, hal tersebut bukan kebetulan. Aspek ini sangat penting untuk melihat kacamata bisnis dari dua sisi gender yang dapat saling melengkapi guna mencapai pertumbuhan yang optimal.

Perempuan dan pria mempunyai sifat, pandangan, pemikiran, kekuatan, kelemahan, serta fokus yang berbeda. Sebagai contoh, pria cenderung memiliki pemikiran yang terkotak-kotak, sedangkan perempuan biasanya dapat menghubungkan titik-titik pemikirannya secara keseluruhan.

Pria cenderung memakai data dalam mengeksekusi strateginya, sedangkan perempuan cenderung menggunakan intuisi dan sifat nurturing-nya. Pria cenderung fokus pada satu pekerjaan, sedangkan perempuan cenderung dapat melakukan multi tasking.

Semua contoh perbedaan itu bukan mengenai benar atau tidak. Perbedaan-perbedaan ini merupakan aset yang berharga untuk mengoptimalkan strategi organisasi atau perusahaan.

Bagaimana positioning Grant Thornton di Indonesia saat ini?

Baik secara global maupun nasional, Grant Thornton berada pada kelompok organisasi penyedia layanan konsultasi di bidang finansial setelah The Big Four. Secara cakupan wilayah operasi, saat ini kami memiliki lebih dari 130 member firm di seluruh dunia. Pada era digital ini memiliki industry expertise dari 130 negara merupakan salah satu kekuatan kami, selain pengalaman yang cukup panjang.

Grant Thornton Indonesia bertumbuh 10 kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Mungkin bukan pertumbuhan yang ambisius, tetapi kami berusaha mengelola organisasi ini untuk memiliki pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan (sustainable) dengan fokus pada kualitas dan profesionalisme, selain ketepatan waktu.

Sebagai bagian dari profesionalisme, kami memiliki tanggung jawab untuk ikut mengedukasi dan mendampingi perusahaan-perusahaan di Indonesia guna meningkatkan good corporate governance (GCG) dan kualitas laporan keuangan organisasi, bukan semata-mata fokus pada formalitas dan tepat waktu.

Menerapkan GCG dan kualitas keuangan, termasuk laporan keuangan, dengan sendirinya akan mengoptimalkan tumbuh kembang organisasi secara berkelanjutan.

Kiat Anda mengelola perusahaan selama pandemi?

Pada masa pandemi Covid-19 ini, kami berupaya untuk beradaptasi atau stay agile sesuai rekomendasi kami kepada perusahaan-perusahaan. Jadi, kami berupaya untuk tetap dinamis dalam membuat prioritas untuk fokus-fokus bisnis yang penting. Tentu dengan mengutamakan cash management serta memanfaatkan teknologi dan digital transformation.

Dalam setahun terakhir ini, kami menerapkan work from home. Kami melakukan diskusi dan meeting secara virtual, baik internal maupun eksternal, untuk mengurangi risiko yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan seluruh karyawan. Crisis management team (CMT) juga terus proaktif menjaga dan memantau seluruh keamanan dan kesehatan karyawan, baik di rumah, di kantor, maupun di tempat klien kami.

Target Grant Thornton ke depan?

Kami harus memastikan organisasi kami tumbuh secara sehat dan berkelanjutan serta mampu membantu dan mendampingi klien-klien kami untuk terus bertumbuh secara optimal. Selain itu, tentunya kami berharap dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan melalui berbagai program yang kami jalankan.

Stay agile atau agility merupakan salah satu nilai yang dianut Grant Thornton. Melihat cepatnya perkembangan teknologi yang berpengaruh pada cara kerja perusahaan dan generasi muda saat ini, saya memahami core business kami perlu memiliki kemampuan beradaptasi tinggi dan bertransformasi digital untuk menyesuaikan ritme kebutuhan klien dan organisasi.

Obsesi Anda?

Regenerasi adalah tujuan yang ingin saya capai, baik secara pribadi maupun dalam perusahaan. Saya akan berjuang dengan menginvestasikan waktu, tenaga, dan hidup saya, bukan hanya untuk mewariskan materi, bisnis atau perusahaan kepada generasi berikutnya. Namun yang jauh lebih penting adalah nilai-nilai yang benar, yang merupakan modal utama bagi mereka untuk menjalani bisnis dan kehidupan.***

 

 

Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia. (ist)
Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia. (ist)

Menginvestasikan Hidup untuk Tuhan dan Orang lain

Johanna Gani menyadari sepenuhnya bahwa selain sebagai Chief Executive Officer (CEO), ia adalah istri dan ibu dari dua orang anak yang telah dewasa.

Johanna juga maklum bahwa ia memiliki peran yang berbeda, baik di rumah, di kantor, maupun di masyarakat. Alhasil, ia paham setiap peran dan tanggung jawabnya.

“Dengan menyadari hal itu, saya dapat merencanakan dan mengatur jadwal saya, baik untuk keluarga, pekerjaan, maupun komunitas di sekitar saya,” ujar ibu dari Alvin dan Natasha ini.

Kunci Johanna hanya satu, yakni disiplin. Karena disiplin dan konsisten, Johanna dapat memenuhi tanggung jawab pada masing-masing area, yakni keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.

Johanna percaya bahwa karier adalah bagian dari rencana Tuhan. Itu sebabnya, ia menjadikan karier sebagai cara untuk menjalankan peran yang diberikan Tuhan.

“Tuhan menciptakan saya untuk suatu panggilan dan tujuan. Dengan demikian, bagi saya, hidup adalah menjalani peran yang Tuhan berikan, baik sebagai istri, ibu, anak, maupun CEO, atau mungkin peran-peran yang lain di masa depan,” tegas dia.

Karena itu pula, Johanna berupaya mengemban tanggung jawab sebaik-baiknya. “Itulah tujuan hidup saya. Hidup ini bukan mengenai materi atau diri sendiri. Hidup adalah mengenai bagaimana kita dapat menggunakan dan menginvestasikan waktu, tenaga, dan hidup untuk Tuhan dan orang lain, sehingga setiap aktivitas kita memiliki tujuan dan dapat dipertanggungjawabkan,” papar dia.

Johanna merasa beruntung berada dalam keluarga yang mendukungnya untuk berbagi peran dan tanggung jawab. “Ayah saya adalah panutan dan mentor terbaik dalam karier saya. Begitu pula dengan ibu saya yang bersedia mengorbankan waktu, tenaga, dan hidupnya untuk menjaga anak-anak saya dari bayi sampai SMA ketika saya harus bekerja,” tutur dia.

Di sela kesibukannya, Johanna masih menyisihkan waktu untuk menyalurkan hobinya memelihara tanaman hias. Selain menikmati keindahannya, saya belajar mengenai bagaimana kehidupan akan bertumbuh apabila kita dengan sabar dan konsisten menyirami dan memberi pupuk kepada kehidupan tersebut,” ujar dia.

Setiap hari Sabtu, Johanna biasanya pergi ke coffee shop dengan suaminya, Muliawan. Lalu pada waktu-waktu tertentu, ia menyempatkan makan siang atau makan malam dengan anak-anaknya. Sedangkan setiap Minggu malam, bersama keluarga besarnya, ia berkumpul untuk ibadah virtual dan makan malam. Itulah cara Johanna Gani menyeimbangkan hidup. (tk)

 

Biodata

Nama: Johanna Gani S.E,. CA, CPA, FCPA (Aust.)

Pendidikan:

1987-1991 : Universitas Trisakti, Jakarta.

2008 : Grant Thornton International Partners’ Development Programme.

2009 : Duke University - Grant Thornton International Partners’ Development Programme.

2019 : Harvard Business School - Grant Thornton Senior Leadership Programme.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN