Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan

Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan

Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan

Menoreh Prestasi dari Lapangan yang Hampir Mati Suri

Euis Rita Hartati, Rabu, 11 September 2019 | 19:17 WIB

Sebagai BUMN migas, PT Pertamina menjadi tulang punggung dan andalan negara baik dalam hal produksi minyak dan gas, maupun setoran pendapatan pajak, royalti dan lainnya. Prestasi dan kinerja Pertamina tersebut, tak lepas dari peran sejumlah anak perusahaan, salah satunya adalah PT Pertamina EP Cepu (PEPC) yang memberi kontribusi sangat strategis. Dari sisi keuangan, pada 2018 PEPC menyumbang keuntungan terbesar yakni US$ 842 juta atau 25% dari total keuntungan Pertamina.

Dari sisi produksi, Lapangan Banyu Urip yang dikelola bersama ExxonMobil dan BUMD, menghasilkan minyak 220 ribu barrel oil per day (bopd)/barel per hari (bph), atau sepertiga dari total produksi nasional. Proyek lainnya yang tengah digarap adalah lapangan gas Jambaran Tiung Biru (JTB).

Meski belum berproduksi, proyek JTB yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dan telah ditetapkan oleh Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) ini memiliki banyak kisah menarik di belakangnya, selain sejumlah prestasi yang telah diraih.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai proyek Jambaran Tiung Biru, wartawan Investor Daily Euis Rita Hartati berkesempatan mewawancarai Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan di ruang kerjanya, belum lama ini. Berikut petikan wawancaranya:

 

Apa saja proyek yang tengah digarap PEPC?

Pertamina EP Cepu atau PEPC ini salah satu anak perusahaan Pertamina di hulu. Saat ini kami mengelola dua aktivitas yakni Lapangan Banyu Urip yang khusus memproduksi minyak, bekerja sama dengan ExxonMobil, dalam hal ini Mobil Cepu dan beberapa BUMD. Kita dan Exxon memiliki persentase yang sama 45%, sisanya BUMD, dengan operator ExxonMobil.

Produksi Banyu Urip ini cukup banyak, bahkan terbesar di Indonesia yakni 220 ribu barrel oil per day (bopd), hampir sepertiga produk nasional. Dari 220 ribu bopd ini, PEPC dapat share (bagian) 45%, yakni sekitar 93 ribu bopd. Itu produksi kita di tahun 2018, dan itu meningkat dibanding 2017.

Sampai dengan semester pertama 2019, produksi minyak juga naik dari 93 bopd menjadi 96 ribu bopd. Ini adalah satu prestasi dari sisi produksi minyak.

Untuk gas, kami punya proyek Jambaran Tiung Biru (JTB). Di sini Pertamina memiliki saham 92%, sisanya Pertamina EP 8%. Sama seperti Banyu Urip, dulunya ini dimiliki Exxon juga dan BUMD. Tapi ini sekarang kita yang punya.

 

Mengapa proyek ini akhirnya bisa dikuasai Pertamina?

Dulu saat dengan ExxonMobil, perhitungan capital expenditure (capex) nya hampir US$ 2 miliar, dengan produksi 172 mmscfd. Di tengah perjalanan, harga jual gas dengan capex sebesar ini mencapai US$ 8 per mmscfd dengan eskalasi 2% per tahun. Kondisi harga gas ini tidak bisa di-absorb(serap) oleh pasar, karena kemahalan.

Dulunya kita rencanakan gas ini untuk PLN dan pabrik pupuk. Tapi PLN dan pabrik pupuk juga menolak. Akhirnya proyek ini seperti mati suri. Bagi Exxon proyek ini secara keekonomian juga tidak menarik kalau harga gas di bawah US$ 8. Lalu pemerintah melalui Kementerian ESDM menginstruksikan Pertamina EP Cepu untuk mengambil alih dari ExxonMobil.

Lokasi Pemboran Jambaran Tiung Biru
Lokasi Pemboran Jambaran Tiung Biru

Lalu apa yang dilakukan PEPC?

Setelah kita ambil alih, yang pertama kita lakukan adalah efisiensi terhadap capex. Hasilnya, efisiensi hampir US$ 500 juta. Jadi, capex yang semula US$ 2 miliar menjadi sekitar US$ 1,5 juta. Dengan capex yang turun ini ada potensi penurunan harga jual gas. Ternyata harga bisa ditekan menjadi US$ 6,7 per mmscfd, tanpa eskalasi, jadi flat selama 12 tahun.

Di perjalanan waktu, desain yang dulu kita susun bersama meninggalkan problem, terdapat es di dalam plant. Ini berarti plant nya harus di-shutdown untuk mengeluarkan es, dan ini tidak reliable untuk dioperasikan. Jalan keluarnya ada 2 yakni pertama menambah peralatan untuk menghilangkan es. Tapi kalau itu dilakukan berarti capex akan nambah. Alternatif kedua yakni ganti teknologi. Akhirnya yang kita ambil adalah ganti teknologi. Dengan teknologi baru, kita malah bisa menghemat fuel dan produksi naik dari 172 mscfd menjadi 192 mmscfd.

Prestasi kedua, produk ikutan gas ini yakni sulfur (H2S). Pada desain awal, sulfur dalam bentuk butiran solid (pellet). Kalau dalam bentuk bubur, ini tidak laku di industri. Kalaupun diterima, harganya murah, karena mereka harus menambah plant untuk mengubah menjadi cair. Nilai positif dari proyek adalah kita bisa turunkan 40-50% kebutuhan impor sulfur nasional, dengan harga lebih komersial.

Ketiga, kita me-manage proyek dengan kualifikasi world class. Buktinya, aktual progras proyek ini malah di atas plan (rencana). Ini agak jarang terjadi untuk proyek , rata-ata actual di bawah plan. Kalau kita per Juli lalu actual 26%, padahal plan kita 25%, jadi kita maju 1%.

Berikutnya, kita juga mendapatkan aspek HSSE. Sudah hampir 2 juta jam kerja zero accident. Itu menunjukkan bahwa kita juga bisa me-manage proyek ini dari segi security.

 

Bagaimana dengan pendanaan proyek?

Nah, ini adalah prestasi berikutnya, yakni dari sisi pembiayaan atau pendanaan proyek. JTB tidak kita bebankan dari korporat biayanya yang mencapai US$ 1,5 miliar. Tapi kita melakukanya dengan skema project financing. Kita tawarkan ke lender secara konsorsium, baik luar negeri dan dalam negeri. Hasilnya, kita ada 10 lender yang berkomitmen, maing-masing 7 dari luar negeri dan 3 dari dalam negeri. Dan pertama kalinya dalam sejarah mengikutsertakan bank syariah dari Malaysia.

Dengan mekanisme project financing ini, tidak ada yang kita gadaikan. Tapi yang kita jual adalah keekonomian dari proyek JTB itu sendiri. Kita dapatkan komitmen US$ 1,8 miliar, dari kebutuhan capex US$ 1,5 miliar. Itu menunjukkan bahwa JTB itu bankable baik dari pengelolaan maupun proyek itu sendiri.

 

Hubunaan dengan masyarakat sekitar bagaimana, apakah ada resistensi?

Kita mengelola proyek ini tidak lepas dari engagement kita dengan masyarakat. Betapa banyaknya kegiatan yang menurut kita itu mestinya resisten dengan masyarakat sekitarnya. Contohnya kita sangat butuh banyak tanah urukan dari Tuban ke Bojonegoro yang jaraknya hampir 40 km. Rata-rata 1 hari ada 100 truk yang membawa tanah ke lokasi. Bisa dibayangkan hilir mudiknya kendaraan yang masuk daerah desa.Tapi tidak ada satupun penduduk yang menstop. Mereka welcome, karena kita libatkan masyarakat di proyek itu.

Dari beberapa CSR kita, ada 2 yang jadi primadona, pertama pelatihan membatik bagi ibu-ibu dan kedua pelatihan menjadi peternak ayam petelur. Sekarang ayamnya sudah berproduksi. Walaupun belum semua kebutuhan Bojonegoro terpenuhi dari CSR, tapi mereka sudah mandiri. Sudah berputar hasil jualnya. Bahkan di desa lain sudah minta telurnya.

Area Jambaran Tiung Biru
Area Jambaran Tiung Biru

Kapan targetnya JTB ini berproduksi?

Target realisasi sampai akhir tahun 2019 mencapai 35-40% . Untuk sampai berproduksi, targetnya Juli 2021, tinggal 2 tahun lagi. Nantinya semua produk kita jual ke Pertamina korporat. Selain itu, kita punya rencana mau develop lapangan yang lain. Karena masih banyak lapangan lain onshore yang potensial, masih ada sekitar 10.

Dalam waktu dekat kita akan develop Cendana sekitar 50 mmscfd. Lalu ada Alas Tua. Selama ada peminat (buyer), kita akan percepat lapangan lain.Jadi, JTB selesai Cendana juga selesai. Sehingga kita harapkan produksi akan terus tumbuh, tidak stagnan.

Jadi, Saya kira JTB ini sesuatu yang spektakuler , bisa menginspirasi kawan-kawan yang muda, bahwa teryata kita bisa membuat sesuatu sejarah , membangun fasilitas yang world class. Ini bisa jadi role model untuk project lain

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN