Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Carmelita Hartoto, Presiden Direktur PT Andhika Lines. Foto: Investor Daily/IST

Carmelita Hartoto, Presiden Direktur PT Andhika Lines. Foto: Investor Daily/IST

Menunggu Stimulus untuk Bertahan

Kamis, 30 Juli 2020 | 14:00 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

Pandemi telah mengharu biru sektor pelayaran. Namun, peluang untuk survive masih ada. Apa syaratnya?

Pandemi Covid-19 berdampak luar biasa terhadap kehidupan manusia. Efek negatifnya tentu bisa dilihat dari bagaimana pandemi membuat geger hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari aspek sosial hingga perekonomian.

Tapi, ada juga dampak positif pandemi corona. “Kini, manusia dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang baru yang mengasah kreativitasnya untuk menyiasati pandemi,” kata Presiden Direktur PT Andhika Lines, Carmelita Hartoto kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam prediksi Carmelita, bakal ada perubahan signifikan pada budaya dan kebiasaan masyarakat pascapandemi Covid-19 yang juga menuntut perubahan model bisnis perusahaan secara global. Kelak, mayoritas kegiatan bisnis dilakukan secara online tanpa tatap muka.

"Mungkin sebagian sudah seperti itu saat ini, tapi belum seluruhnya. Kondisi ini akan mempercepat konektivitas seluruh kegiatan secara online. Hanya pelaku usaha yang tanggap dan mampu beradaptasi secara cepat yang bisa bertahan dari perubahan ini," tegas Carmelita.

Tinggalkan Cara Lama

Carmelita Hartoto menekankan, para pengusaha tidak bisa lagi melakukan aktivitas bisnis dengan cara-cara lama. Mereka, mau tidak mau, harus mengubah model bisnisnya dari offline ke online. Itu pula yang diterapkan Andhika Lines dalam mengatasi tantangan pandemi Covid-19.

"Kami mempelajari kebiasaan baru masyarakat. Kami juga mulai beradaptasi secara cepat terhadap tuntutan pengguna jasa. Yang jelas, kami tidak mungkin berbisnis dengan cara-cara lama. Kami harus cepat melakukan segala sesuatunya secara online," papar perempuan kelahiran Surabaya, 22 Juni 1969, itu.

Carmelita mengakui, pandemi Covid-19 membuat perusahaan pelayaran yang dipimpinnya dihadapkan pada kondisi sulit. Hal itu terjadi secara merata pada hampir semua sektor usaha. Untuk menyiasatinya, Andhika Lines melakukan berbagai macam efisiensi sampai merenegosiasi kontrak kerja bersama pengguna jasa agar tak terjadi pemutusan kontrak.

Carmelita Hartoto mengungkapkan, perusahaan yang bergerak di sektor transportasi laut dan logistik termasuk yang terdampak pandemi paling berat. Mereka mengalami penurunan omzet sejalan dengan turunnya volume muatan dan terganggunya cashflow akibat penundaan pembayaran jasa dari pelanggan yang juga kesulitan meraih pendapatan gara-gara pandemi.

Dalam catatan Carmelita, sektor kapal wisata dan kapal penumpang mengalami penurunan omzet paling parah, hingga 100%. Sedangkan kapal peti kemas mengalami penurunan omzet 10-25%.

“Sektor muatan yang lain, seperti muatan curah padat, cair, dan angkutan lepas pantai atau offshore pun umumnya terikat kontrak. Jadi, pandemi Covid juga mengganggu cashflow industri pemberi jasa,” tutur dia.

Selain diterjang pandemi, kata Carmelita, transportasi laut menghadapi tantangan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang memicu kenaikan biaya operasional akibat selisih harga valuta. Soalnya, pembelian suku cadang kapal menggunakan dolar AS, padahal pendapatannya dalam rupiah.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sektor transportasi laut juga tertekan pelemahan harga minyak dunia yang mengakibatkan terganggunya kinerja transportasi laut bidang lepas pantai.

“Kondisi itu terjadi karena mereka harus melakukan negosiasi ulang, bahkan menghadapi pemutusan kontrak dari pengguna jasa yang memangkas produksi,” ujar dia.

Aturan Berbeda

Carmelita Hartoto menjelaskan, pemerintah sebetulnya telah menerbitkan insentif melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 44/2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib Pajak Terdampak Pandemi Covid-19. Tetapi, untuk terus mendukung keberlangsungan para pelaku usaha, terutama di sektor transportasi, masih ada sejumlah stimulus yang dinantikan.

“Salah satunya untuk permodalan usaha bagi sektor transportasi nasional dan modal operasional untuk mengatasi masalah cashflow,” ucap dia.

Selama ini, beban bunga yang dikenakan kepada sektor transportasi masih terbilang tinggi. Para pengusaha juga kesulitan membayar pinjaman. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang sudah memberikan petunjuknya kepada bank umum nasional. Namun, sejauh ini belum ada petunjuk teknis (juknis) yang lengkap.

“Misalnya mengenai bagaimana memberikan relaksasi dalam penjadwalan kembali (rescheduling) pinjaman dan bagaimana pemberian pinjaman modal kerja dengan bunga lunak untuk mengatasi gangguan cashflow,” tutur Carmelita.

Ternyata masing-masing bank memiliki aturan main yang berbeda-beda. "Dana stimulus pemerintah untuk sektor swasta masih sangat kurang. Di samping itu, stimulus dari bank swasta sangat sulit diharapkan karena menyangkut kinerja para kreditur dan akan memengaruhi kenerja mereka ke depan. Lagi-lagi, aturan tiap bank berbeda. Kami berharap OJK dan Bank Indonesia (BI) bisa melakukan hal lebih," tandas Carmelita. ***

Baca juga: Harus Segera Bangkit demi Bantu Pemulihan Ekonomi

 

 

 

 


 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN