Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lanny Budiati, Direktur Utama  BCA Digital. (Foto: Investor Daily/Emral)

Lanny Budiati, Direktur Utama BCA Digital. (Foto: Investor Daily/Emral)

Lanny Budiati, Direktur Utama BCA Digital

Nikmatnya Membangun dari Titik Nol

Senin, 24 Mei 2021 | 12:00 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

Pernah dirotasi di tempat kerja? Rotasi dapat memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi pekerja. Tak sedikit perusahaan yang rutin melakukan rotasi sebagai salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan potensi karyawan.

Dengan mempelajari berbagai keterampilan secara bergantian, karyawan dapat memahami dan menggali kemampuan utamanya serta mendapat tanggung jawab baru yang akan sangat berguna bagi perkembangan kariernya. Dengan begitu, karyawan semakin terlibat dengan proses peningkatan produktivitas perusahaan.

Hal itu pula yang dirasakan Lanny Budiati, direktur utama PT Bank Digital BCA (BCA Digital). Memilih berkarier sebagai bankir, ia telah menduduki berbagai posisi di bidang bisnis, operasional, dan support, baik di cabang maupun kantor pusat BCA, sebelum akhirnya ditunjuk menjadi orang nomor satu di BCA Digital. Pengalaman Lanny di unit kerja lama tidak pernah ditinggalkan ketika ia berada di unit kerja barunya.

"Saya punya prinsip jangan ganti baju. Setiap pekerjaan ibarat punya bajunya masing-masing. Tugas dan key performance indicator (KPI) yang berbeda, challenge yang berbeda. Meskipun begitu, setiap kali pindah unit kerja, saya berprinsip jangan ganti baju, tapi rangkapin bajunya,” kata Lanny.

Lanny Budiati mencontohkan, jika KPI di bagian bisnis adalah target sales, maka KPI di bagian operasi lebih pada ketelitian, keakuratan, dan level layanan (service level) yang ingin dicapai.

“Dengan memahami kepentingan unit yang berbeda, kita diharapkan menjadi orang bisnis yang tahu kesulitan operasional, menjadi orang operasional yang mendukung bisnis, menjadi orang support yang paham cara membantu cabang-cabang untuk mencapai target bisnisnya," urai Lanny.

Bagi Lanny, jika setiap rotasi direspons dengan 'mengganti baju' dan memakai 'baju baru', rotasi tidak akan bermanfaat. "Kalau rotasi ke tempat lain, kita jadi lebih paham, pakai baju dirangkap lagi, dirangkap lagi, itu membuat kita semakin lengkap. Rotasi banyak membantu saya menjadi tahu challenge di tempat lain," ujar dia.

Karena punya banyak 'baju rangkap', Lanny Budiati selalu antusias menggarap bidang-bidang baru. Meski harus pontang-panting, ia menganggap bekerja dari titik nol adalah seni bekerja yang layak dinikmati. “Saya menikmati saat membangun dari nol, itu menyenangkan,” tutur dia.

Perempuan kelahiran 10 Oktober 1967 ini memang senang bekerja di service industry. Tak mengherankan jika sejak lulus kuliah, ia sudah terjun ke industri perbankan hingga saat ini. Lanny diangkat menjadi direktur utama berdasarkan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Desember 2019 dan mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 28 Februari 2020.

BCA Digital, bank digital milik bank swasta terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), bakal segera diluncurkan di pengujung semester I-2021. Berikut petikan lengkap wawancara wartawati Investor Daily, Nida Sahara dengan Lanny Budiati di Jakarta, baru-baru ini:

Bisa cerita perjalanan karier Anda hingga berada di posisi saat ini?

Sejak lulus kuliah, karier saya selalu di banking, mulai management trainee, lalu bertugas di beberapa cabang serta unit kerja di kantor pusat BCA, dan terakhir sebagai kepala Kantor Wilayah BCA Jawa Barat. Di BCA, saya posnya sudah banyak, delapan atau sembilan pos.

Saya memang suka challenge, biasanya setelah 2-3 tahun, saya dirotasi. Kalau tidak dirotasi, saya minta, saya punya cukup banyak pengalaman di unit kerja BCA. Kalau pengalaman lebih banyak, wawasan juga bertambah. Saya pernah di business, operation, dan support. Saya pernah ke bank lain juga, yaitu Bank Bali dan Citibank, kemudian kembali ke BCA sampai sekarang.

Ada orang yang kariernya spesialis, dari staf sampai jadi pimpinan, unit kerjanya fokus di satu tempat. Kalau saya kariernya berpindah-pindah. Bagi saya, bertemu challenge baru lebih happy, kenalannya banyak orang baru, bekerja dengan tim yang berbeda lagi, itu pengalaman karier.

Mungkin itu juga yang dilihat direksi BCA waktu assign saya ke BCA Digital, karena saya suka set up sesuatu yang baru, mencoba approach baru, menggunakan framework baru. Di BCA Digital, pekerjaannya juga begitu, jauh dari comfort zone, meletakkan fondasi, explore banyak hal, lari-larian sih, tetapi saya menikmati saat membangun dari nol. Menurut saya, itu menyenangkan.

Apa kunci sukses Anda?

Ada beberapa hal, pertama sense of belonging. Apa pun pekerjaannya, kita harus punya rasa memiliki. Dengan begitu, pasti kita kejar hasil yang bagus. Kedua, saya punya prinsip jangan ganti baju. Base on pengalaman yang banyak pindah-pindah, saya merasa beberapa orang kalau pindah unit kerja, KPI-nya sudah beda lagi. Kemudian dia ganti baju lama di unit lamanya dan pakai baju baru di unit barunya.

Menurut saya, itu tidak tepat. Alangkah bagusnya kalau sudah pernah di bagian bisnis pakai baju bisnis. Lalu ketika dipindah ke operation, tidak boleh ganti baju bisnisnya, tapi dirangkapin. Ketiga, yang sering saya lakukan juga adalah ATM, singkatan dari 'amati', 'tiru', dan 'modifikasi'. Saya percaya tidak ada yang baru di muka bumi, pasti pernah ada, dan yang paling mudah adalah melihat best practice di lapangan.

Orang-orang yang berhasil biasanya melihat prestasi orang lain, kemudian berpikir kok dia bisa ya? Apa sih yang dia lakukan? Itu bagian dari 'amati'. Kemudian kita bisa 'tiru' action-nya. Action yang sama akan menghasilkan result yang sama. Boleh diikuti caranya, ditiru, tapi jangan berhenti di situ. Maka kita harus lakukan 'modifikasi' supaya lebih bagus dan disesuaikan dengan kondisi kita.

Selain itu, jangan pernah berpuas diri terhadap apa yang sudah kita punya. Mesti ngulik, kalau orang Jawa bilang. Saya lihat banyak orang bekerja bagus, tapi berhenti di konten saja.

Saya setuju konten harus bagus, mesti valid, tapi jangan berhenti di konten, harus pikir bagaimana packaging yang menarik, yang memberikan value added bagi kontennya. Kita juga mesti pikirkan delivery-nya yang memudahkan user, yang mendekatkan tujuan.

Menjadi bankir memang cita-cita Anda?

Saya merasa cocok dengan service industry daripada di pabrikan (manufaktur). Saya lebih happy di service industry. Di banking, saya bisa melayani banyak orang, produk-produknya dapat dirasakan masyarakat luas, sehingga bisa mencerahkan hari orang lain.

Waktu di front line, kami bertemu banyak nasabah. Bagi saya, itu nasabah ke-100. Tapi bagi nasabah, saya adalah yang pertama kali mereka temui. Bagaimana melayani nasabah dengan baik, itu hal yang menyenangkan. Apalagi setelah mereka merasakan produk-produk kami dan bisa mengelola keuangannya secara lebih baik.

Gaya kepemimpinan Anda?

Saya berusaha menyeimbangkan. Saya akan empowering tim dan terjun langsung saat tim membutuhkan. Tidak hanya tahu beres semua. Saat tim butuh bantuan, saya harus turun untuk membantu dan membukakan jalan.

Saya juga ingin tim saya punya mindset yang menjawab pertanyaan What will you do when everyone is counting on you? Jadi, kalau masing-masing dari mereka merasa penting, pasti mereka akan all out.

Setiap orang pasti punya keinginan untuk berhasil, apa pun posisinya dan siapa pun orangnya. Tugas saya sebagai atasan adalah menjadikan tim kami berhasil, membuat masing-masing dari mereka berhasil. Itu dimulai dari mengenali diri sendiri. Dalam berkomunikasi dengan mereka, saya berupaya menyesuaikannya dengan karakter masing-masing.

Saya juga berorientasi pada strength based approach. Mengenali kekuatan masing-masing karyawan dan membuat mereka lebih unggul. Saya percaya Tuhan memberikan kekuatan yang berbeda-beda. Kita perlu mengenali kekuatan terbesar yang kita punya.

Dengan begitu, kita bisa dengan sadar menggunakan kekuatan itu dalam menjalankan tugas-tugas kita, sehingga bisa berkolaborasi dan bersinergi dengan orang yang kekuatannya berbeda, saling melengkapi.

Sekarang kami sedang menyiapkan tumbler dengan top 5 strengths masing-masing karyawan. Kami ingin mereka bangga dengan kekuatannya dan dapat menggunakannya secara optimal. Top 5 strengths itu adalah achiever, activator, relator, responsibility, dan learner.

Strategi Anda memajukan BCA Digital?

BCA Digital belum launching. Kami akan launching pada akhir semester I tahun ini. Masa pandemi ini jadi momentum digitalisasi di bidang apa pun. Digitalisasi mendapatkan momentumnya sekarang.

Sebelumnya orang mungkin ragu untuk belanja secara online, mereka lebih prefer untuk beli baju datang langsung ke toko secara fisik. Tetapi karena pandemi, mereka mencoba transaksi online. Ternyata bajunya benar dikirim dan sesuai pesanan. Itu menaikkan confidence mereka.

Demikian juga transaksi banking, orang menjadi lebih terbiasa menggunakan mobile banking daripada pergi ke kantor cabang. Kebiasaan baru masyarakat ini sejalan dengan bisnis BCA Digital karena produk kami pun berbasis smartphone.

BCA Digital lahir sepenuhnya pada ekosistem digital. Kami tidak punya cabang, branchless. Kantor cuma satu di The City Tower. Jadi, lahirnya buat kaum digital savvy, orang-orang yang sudah biasa bertransaksi di handphone. BCA Digital akan muncul dengan tampilan yang lebih fresh, enak dilihat, lebih menyenangkan, tapi juga reliable dan transaksinya cepat.

Nilai lebih BCA Digital dibanding bank digital lain?

Masyarakat dimanjakan oleh banyak bank digital. Yang akan memenangi persaingan adalah bank digital yang mengerti benar kebutuhan nasabah.

Bagi kami, cepat itu penting, tapi security juga sangat penting. Kami main di antara keduanya, bagaimana nasabah tetap secure, karena kalau dipotong-potong nasabah khawatir juga. Ini banking, bukan wallet yang saldonya tidak terlalu banyak. Jadi, imbang, nasabah feel secure, mendapatkan kecepatan dan kenyamanan, user experience. Ketiga hal itu yang akan diberikan BCA Digital.

Filosofi hidup Anda?

Saya terinspirasi oleh tokoh wayang Gatotkaca. Gatotkaca itu satu-satunya tokoh wayang yang tidak punya senjata. Arjuna punya panah, Bima punya gada rujakpala. Gatotkaca tidak punya senjata. Tapi dengan apa yang ada, apa yang dia punya, yaitu kepalan tangannya, dia maju berperang bersama Pandawa. Karena itu dikenal istilah Kepalan Gatotkaca.

Kita semua mesti begitu, dengan apa yang kita punya dan apa yang ada, kita bisa kerjakan. Circle of influence, apa yang bisa kita pengaruhi di situ, kita kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Obsesi Anda dalam pekerjaan dan hidup?

Saya ingin BCA Digital menjadi bank kesayangan masyarakat Indonesia, membantu masyarakat mengelola keuangannya dengan lebih baik. Kalau obsesi pribadi, saya ingin melihat anak saya tumbuh besar, sukses, dan berpegang teguh pada Tuhan.

Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga?

Menurut saya, ibu yang bekerja itu sangat challenging. Target di kantor harus achieved, report card anak harus bagus. Kalau tidak, bisa di-complain suami. Tumbuh kembang anak harus dijaga, mood suami juga dijaga.

Ibu bekerja itu mesti pintar-pintar juggling, mana yang bisa diprioritaskan duluan. Di BCA, Pak Armand Hartono, coach saya selalu bicara K3, yaitu kesehatan, keluarga, dan kerja. Jadi, bukan kerja kerja kerja.

Apa yang Anda kejar dalam hidup?

Bermanfaat bagi orang banyak. BCA Digital itu kan segmennya milenial. Milenial sadar bahwa dirinya boros. Kami ingin ikut kasih edukasi, bantu kasih tools agar mereka bisa mengelola keuangan secara lebih baik, sehingga bisa meraih cita-citanya. Bersama BCA Digital, saya ingin berkontribusi agar perekonomian Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Peran keluarga dalam karier Anda?

Penting banget. Saya tidak bisa kerja kalau anak dan suami bilang jangan bekerja. Kalau dipaksakan, nanti tidak tenang. Itu bedanya ibu dan bukan ibu. Kalau bukan ibu, pulang kerja malam, capek lalu tidur. Kalau ibu, pulang kerja cepat-cepat mandi, lalu temani anak baca buku, baca cerita, ada effort lebih yang dilakukan. Saya bersyukur dapat full support dari suami dan anak-anak. ***

 

Lanny Budiati, Direktur Utama  BCA Digital. (Foto: Investor Daily/Emral)
Lanny Budiati, Direktur Utama BCA Digital. (Foto: Investor Daily/Emral)

Penggemar Tintin

Tintin, tokoh utama serial komik The Adventures of Tintin, adalah favorit Lanny Budiati, commander in chief BCA Digital. Lanny memilih Tintin karena tokoh petualang yang melegenda di seantero dunia itu memiliki sifat pemberani, baik hati, dan punya banyak teman yang loyal.

Lanny sampai saat ini masih suka membaca komik Tintin. Ia bahkan memiliki spot khusus untuk komik dan ikon karya seniman Belgia, Hergé alias Georges Remi tersebut.

"Tintin itu kemana-mana, around the world, dia ke Uni Soviet, ke Amerika. Saya suka koleksi komik Tintin di rumah, saya juga koleksi minifigure, ada yang besar, dari gantungan kunci sampai sarung bantal,” tutur Lanny yang memperoleh gelar Magister Manajemen (MM) dari Universitas Tarumanagara.

Ketertarikan Lanny Budiati pada Tintin ternyata tidak sengaja. Saat traveling ke Bali, ia melihat roket Tintin berukuran besar di toko suvenir. “Eh, lucu, jadi saya beli dan bawa pulang, kemudian dicat ulang. Sejak itu, saya jadi kolektor Tintin. Di rumah saya ada satu pojok yang isinya Tintin, poster-poster, dan hiasannya, juga ada Snowy,” papar dia.

Sebelum pandemi Covid-19 menyerang, Lanny Budiati gemar traveling. "Traveling itu penting dan menyenangkan. Traveling adalah waktunya bounding dengan keluarga," cerita Lanny.

Namun, sekarang, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga menonton Netflix. Semenjak pandemi, ibu dua anak ini punya banyak waktu luang untuk keluarga dan saudara. (nid)


Biodata


Nama: Lanny Budiati.

Jabatan: Direktur Utama PT Bank Digital BCA (BCA Digital).

Pendidikan:

- Magister Manajemen (MM) Universitas Tarumanagara, Jakarta (1999).

Karier:

- Direktur Utama BCA Digital (28 Februari 2020 – sekarang).

- Kepala Kantor Wilayah BCA Jawa Barat (2018-2020).

- Kepala Sentra Layanan Perdagangan dan Pembayaran Internasional BCA (2013-2018).

- Personal Banker Head Cabang Landmark Citibank (2000-2001).

- Area Bank Manager Bank Bali (1998-2000).

- Berbagai jabatan di BCA sejak 1991.


 


 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN