Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rachmat Kaimuddin, CEO Bukalapak.

Rachmat Kaimuddin, CEO Bukalapak.

MUHAMMAD RACHMAT KAIMUDDIN, CEO BUKALAPAK

'Open Minded'

Emanuel Kure, Senin, 9 Maret 2020 | 12:15 WIB

Setiap orang punya kiat sukses yang berbeda-beda. Namun, ada satu kunci sukses yang sifatnya ‘universal’, yaitu open minded (berpandangan terbuka).

Open minded sangat penting bagi siapa pun yang ingin meraih impian besar. Dengan berpandangan terbuka, seseorang akan terus memperluas wawasan, memperbaiki diri, beradaptasi, dan menyerap ilmu-ilmu baru, sehingga ia mampu melahirkan ide-ide brilian, berkreasi, dan berinovasi.

Seseorang yang open minded tak pernah gentar ketika berhadapan dengan tantangan. Sebab dalam benaknya terpatri keyakinan kuat bahwa ia pasti bisa menghadapi tantangan tersebut.

Nilai-nilai itulah yang diterapkan Muhammad Rachmat Kaimuddin, chief executive officer (CEO) Bukalapak, salah satu perusahaan online marketplace terbesar di Tanah Air.

Rachmat Kaimuddin maklum jika Buklapak selama ini diidentikkan dengan Achmad Zacky, founder sekaligus CEO sebelumnya, yang dalam satu dekade terakhir sukses mengantarkan Bukalapak menyandang status unicorn (startup yang memiliki valuasi US$ 1-9 miliar).

Sukses yang dipetik Zacky tidak membuat Rachmat keder untuk mengambil tantangan baru. Ketika dipercaya melanjutkan milestone yang telah dibangun Zacky, mantan Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk itu tak menampiknya.

“Saya melihatnya sebagai kesempatan sekaligus tantangan baru untuk membawa Bukalapak menjadi yang terbesar di Indonesia,” kata Muhammad Rachmat Kaimuddin kepada wartawan Investor Daily Emanuel Kure dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.

Meski berlatar belakang bankir, Rachmat Kaimuddin yakin ia tidak akan sulit beradaptasi untuk memimpin Bukalapak. Rachmat melihat banyak kesamaan antara perbankan dan online marketplace, yaitu bagaimana mempertemukan penjual dengan pembeli dan mempertemukan kreditur dengan debitur.

“Intinya bagaimana saya open minded terhadap hal-hal baru,” tutur Rachmat, yang pernah menjabat sebagai Managing Director PT Bosowa Corporindo Indonesia dan Chief Financial Officer (CFO) Baring Private Equity Asia, Singapura.

Bagi Rachmat Kaimuddin, pemimpin perusahaan tak hanya dituntut memiliki kemampuan manajerial yang jempolan. Ia juga harus punya upaya lebih (extra effort) untuk mempelajari hal-hal baru.

Hal-hal baru hanya bisa terserap jika ia selalu open minded. Dengan open minded, seorang CEO bisa terus mengasah diri, berkreasi, dan berinovasi. Hanya dengan open minded pula ia mampu mengambil tindakan yang tepat bagi perusahaan.

Apa yang mendorong Rachmat Kaimuddin banting stir dari bank ke e-commerce/online marketplace? Apa obsesinya? Apa pula strategi yang disiapkannya? Berikut petikan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Background pendidikan saya adalah insinyiur elektro. Sempat belajar coding juga sih. Terus saya ambil manajemen bisnis untuk program MBA.

Awalnya saya memulai karier sebagai hardware design engineer di perusahaan di Amerika Serikat (AS). Begitu lulus kuliah dari AS, saya bekerja di sana kira-kira setahun. Setelah itu saya pulang ke Indonesia. Di Indonesia, saya mulai bekerja pada 2003.

Kebetulan, di Indonesia saya banyak mengerjakan hardware design. Kebetulan di Indonesia waktu itu industrinya belum ada. Akhirnya saya dapat pekerjaan di perusahaan konsultan manajemen, yaitu BCG (Boston Consulting Group).

Pada 2006, saya sekolah lagi, ambil MBA (Master of Business Administration) di AS. Saat itulah saya menemukan dunia baru, yaitu dunia investment. Saya tertarik di situ, lalu pada saat summer, saya ikut program International Finance Corporation (IFC) World Bank di Jakarta.

Sepulang dari AS, saya bekerja di perusahaan private equity fund. Awalnya di Indonesia, lalu di perusahaan Asia yang headquarter-nya di Hong Kong, tetapi saya kepala kantor di Indonesia.

Salah satu tugas saya adalah mencari perusahaan untuk invest, kemudian kami bantu untuk mengembangkannya. Setelah bagus, sahamnya dijual. Dalam perjalanan itu, saya juga sempat diminta untuk menjadi direksi.

Pada 2014, saya diminta untuk bantu salah satu perusahaan konglomerasi di Indonesia timur, yaitu Bosowa Group. Kebetulan waktu itu Bosowa ingin beli saham di Bank Bukopin. Mereka cari orang untuk bantu di holding-nya, sekaligus juga menjadi komisaris di Bank Bukopin. Saya melakukan fungsi itu. Pada 2018, saya diminta pemegang saham untuk full time di Bukopin. Lalu pada akhir 2019, saya ke Bukalapak.

Apa yang membuat Anda tertarik bekerja di dunia e-commerce/online marketplace?

Saya secara pribadi nggak terlalu melihat perbedaan antara dunia keuangan dan e-commerce. Saya lebih melihat persamaannya. Di banking dan e-commerce, dua-duanya saya sebut bisnis intermediary. Di bank, kami menyimpan uang masyarakat di deposito dan menyalurkannya sebagai pinjaman. Ibaratnya mempertemukan deposan dan kreditur.

Di e-commerce, kami mempertemukan penjual dan pembeli. Persamaannya di situ. Selain itu, kami harus menjaga transaksi terjadi.

Di bank banyak sekali transaksinya setiap hari, begitu pula di e-commerce. Dari sisi itu, saya melihat ada persamaan yang cukup fundamental. Filosofinya, kami mempertemukan dua pihak yang saling membutuhkan.

Khusus untuk Bukalapak, sebenarnya saya sangat tertarik karena misi Bukalapak itu kan ingin membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), atau dalam hal ini mass market, barangkali dari sisi merchant. Memang visi awalnya adalah memberdayakan UMKM di seluruh Indonesia, melalui teknologi.

Sebelumnya saya memang mengagumi teman-teman di Bukalapak karena berhasil menjadikan Bukalapak sangat bermanfaat bagi banyak orang. Maka ketika ditawari, saya anggap ini matching dan opportunity yang datang, ya saya ambil.

Kiat Anda dalam meraih kesuksesan?

Kalau di Bukalapak, saya belum berani bilang sukses, karena saya di sini mungkin baru sekitar dua bulan. Tetapi, saya memang beberapa kali diberi kepercayaan oleh orang-orang.

Yang pasti, kalau untuk sekolah, saya selalu coba dua hal. Pertama, selalu open mind untuk belajar. Saya memang senang mempelajari hal-hal baru. Kedua, saya selalu open untuk dikasih challenge.

Kalau misalnya dikasih tanggungjawab yang lebih, mindset saya selalu bilang bisa. Tentunya saya pelajari ilmunya, supaya saya benar-benar bisa. Ketiga, saya coba untuk terus menjaga kepercayaan orang. Untuk itu, saya selalu berupaya untuk bekerja dengan baik, jujur, dan berintegritas.

Gaya kepemimpinan Anda?

Memimpin itu kan intinya bagaimana bisa menggerakkan resource, termasuk kolega. Tugas pemimpin harus bisa menjelaskannya. Nah, itu coba saya lakukan di Bukalapak. Saya menjelaskan tujuannya. Kenapa kami mau ke sana? Itu saya jelaskan melalui cara-cara yang bisa dipahami. Apalagi anak-anak sekarang susah dipaksa.

Bisnis kan mau menambah revenue, menjaga biaya, menjaga karyawan, menjaga infrastruktur, menjaga investor, menjaga pelanggan. Hal-hal seperti ini harus dijelaskan. Penjelasannya harus bisa diterima. Itu yang selalu saya coba.

Kedua, saya juga berusaha untuk lebih accessible. Teman-teman bisa datang, open untuk mengutarakan pendapat. Sebab, saya kan tidak tahu semuanya, mereka yang tahu.

Saya juga sampaikan kepada mereka bahwa mereka bisa sampaikan ke saya kalau keberatan atau nggak setuju. Yang penting bisa mendapatkan hal terbaik.

Yang terkahir, ketika sudah komit, make decision, yah saya akan meminta mereka untuk akuntabel. Kalau ada data yang berubah, atau situasi berubah, pasti kami duduk lagi.

Strategi Anda memajukan Bukalapak?

Ini mungkin sedikit berbeda dengan tempat saya yang dulu (Bukopin). Di bidang teknologi ini luas sekali kesempatannya. Kalau cerita growth, saya di sini sudah bertemu banyak orang. Ini kok sepertinya bisa dikerjakan. Sekarang ini kami mesti lebih disiplin aja, mana yang akan dikerjakan atau yang menjadi prioritas, sebab pasarnya masih luas.

Perdagangan di ritel e-commerce saja nggak sampai 10%, mungkin hanya 5%. Jadi, masih banyak yang dikerjakan. Kami juga tahu, masih banyak sekali barang hasil produksi UMKM yang belum terlihat. Padahal, kalau menadapatkan akses pasar, atau mendapatkan bantuan, bisa jadi demand-nya bisa mengglobal.

Jadi, yang pertama, challenge-nya besar, opportunity-nya besar. Kami harus mengatur ritme dan resources ini, sehingga teman-teman bisa fokus.

Kami banyak sekali bertemu dengan pihak pemerintah maupun UMKM. Mereka sangat ingin masuk ke platform online. Itu kan peluang sebenarnya.

Kedua, mengingatkan teman-teman bahwa Bukalapak punya misi tersendiri. Kami berdayakan UMKM. Kami fokus di situ, semua resources kami fokus di situ.

Strategi kami adalah open minded terhadap banyak peluang, mana yang diprioritaskan mendapat effort supaya bisa tereksekusi dengan baik. Saya harus menyampaikannya secara baik misi perusahaan kepada karyawan, untuk menjaga motivasi mereka.

Seberapa menarik bisnis e-commerce/marketplace di Tanah Air?

Dengan banyaknya peluang, pasarnya sangat menjanjikan. Perdagangan itu kan sangat luas. Selama ini selalu ada yang ingin memonopoli perdagangan, tetapi itu tidak selalu berhasil.

Misalnya mesin seaerch engine, namanya Google. Sekarang setiap orang punya. Google itu kan di seluruh dunia. Tetapi di tiap wilayah berbeda-beda, karena memang agak sulit untuk memonopoli pasarnya. Terus yang offline, ada minimarket. Ada minimarket bersebelahan, produknya sama, tetapi masih jalan juga. Kami sebagai pelaku sangat optimistis.

Kesan Anda setelah masuk Bukalapak?

Ada dua kesan yang menarik bagi saya. Pertama, secara personal, untuk kali pertama dalam hidup saya bekerja di perusahaan, saya termasuk yang paling tua di sini. Dulu, di kantor sebelumnya, untuk level saya ini, saya merasa yang paling muda. Di sini, saya mungkin termasuk yang paling tua. Mungkin top 30 dari 2.100 karyawan. Ini menarik bagi saya.

Kedua, saya bertemu banyak pejabat pemerintah. Di situ saya melihat banyak sekali harapan terhadap e-commerce, khususnya Bukalapak.

Banyak sekali yang dapat kita kerjakan bersama. Saya juga selalu menyempatkan diri bertemu para pelapak dan mitra. Kalau mendengar cerita mereka, misalnya berkat Bukalapak mereka bisa mencari nafkah, income bertambah, itu menjadi energy booster bagi saya.

Obsesi Anda untuk industri e-commerce/marketplace Indonesia?

Bukalapak kan punya sekitar 80 juta user, baik pelapak, mitra, maupun pengguna. Rinciannya 5 juta pelapak, 3,3 juta mitra, dan 70 juta pengguna online. Kalau yang beli dari mitra, kami nggak hitung.

Dari situ, kami mendengar cerita, hidupnya berubah karena menggunakan platform kami. Cita-cita saya simple, saya ingin Bukalapak tetap ada sampai 100 tahun lagi. Masih gede dan masih memberikan manfaat.

Mas Zacky sudah melewati 10 tahun memimpin perusahaan ini. Katanya hanya 4% perusahaan bisa bertahan lebih dari 10 tahun. Jadi, saya dapat, udah lewat. Terus hanya ada 433 unicorn di dunia. Terus hanya 0,0045% perusahaan yang bertahan selama 100 tahun.

Ini tantangan. Oleh karena itu, saya ingin ikut bersama teman-teman membangun fondasi ke depan, sehingga bisa mewujudkan cita-cita itu.

Bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?

Ini tantangannya. Minimal kalau pagi saya mengantar anak ke sekolah. Bergantian karena sekolahnya berbeda-beda. Saya juga coba bagi waktu weekend untuk diri saya sendiri dan keluarga, minimal untuk makan bersama, mengobrol, atau do something.***

 

Biodata

Nama lengkap: MUHAMMAD RACHMAT KAIMUDDIN.

Pendidikan:

* 2006-2008: MBA, Stanford Graduate School of Business (AS).

* 1998-2001: BSE, Massachusetts Institute of Technology (AS).

Karier:

* 2018 - 2019: Director Finance and Planning PT Bank Bukopin Tbk.

* 2014 - 2018: Komisaris PT Semen Bosowa Maros Indonesia.

* 2016 - 2018: Managing Director PT Bosowa Corporindo Indonesia.

* 2014 - 2018: CFO Baring Private Equity Asia Singapore / Indonesia.

* 2012 - 2014: Vice President / Chief Rep Officer Indonesia.

* 2012: Penasihat Dewan Direksi PT Toba Bara Sejahtera Tbk.

* 2011 - 2012: Group CFO PT Amstelco Indonesia Tbk.

* 2008 - 2018: Principal Quvat / Principia Management Group Indonesia.

* 2009 - 2011: Managing Director / CFO PT Cardig Air Services Indonesia.

* 2007: International Finance Corporations, Indonesia

* 2003 - 2006: Senior Associate The Boston Consulting Group Asia Tenggara.

* 2001 - 2002 Hardware Design Engineer, Teradyne Inc (AS).

 

Baca juga:  https://investor.id/figure/antara-buku-duren-dan-seafood

 

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN