Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono.

Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono.

Perusahaan Nomor Satu, Keluarga Paling Utama

Rabu, 25 November 2020 | 10:59 WIB
Parluhutan Situmorang

Semasa kecil, Destiawan Soerwardjono ternyata bercita-cita menjadi dokter. Namun, ia berubah pikiran saat duduk di bangku SMA.

"Waktu kelas II SMA, saya harus menempuh pendikan 1,5 tahun akibat adanya perubahan tahun ajaran baru dari Januari menjadi Juli. Itu terjadi tahun 1979," tutur dia.

Karena itu pula. Destiawan akhirnya memutuskan untuk kuliah di teknik sipil. Hasrat menjadi insinyur sipil juga didukung keinginannya untuk membatu adik-adiknya guna melanjutkan pendidikan.

"Keluarga kami masuk kategori cukup saja. Itu membuat saya berpikir kembali untuk meneruskan cita-cita menjadi dokter. Kuliah di kedokteran kan membutuhkan waktu lama, bisa sampai sembilan tahun. Sejak itu, saya mengubah cita-cita menjadi seorang insinyur,” ujar dia.

Keinginan menjadi insinyur juga dipengaruhi pekerjaan sang ayah selaku pemborong kecil-kecilan. Selama masa sekolah, Destiawan ikut membantu ayahnya untuk bekerja dan terlibat dalam pengerjaan proyek, seperti pengadaan material, membeli peralatan, dan membayar gaji tukang. Rupanya, hal itu ikut berperan dalam mengubah cita-citanya dari dokter menjadi insinyur sipil.

Namun, keinginan Destiawan Soerwardjono menjadi insinyur sipil sempat terkendala setelah ia gagal tes masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu, dia memilih jurusan teknik sipil di Institut Teknologi Bandung (ITB) atau Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Meski demikian, keinginannya untuk menjadi insinyur tidak padam. Tahun berikutnya, Destiawan mengikuti kembali tes masuk perguruan tinggi negeri. Akhirnya ia diterima di juruan teknik sipil Universitas Brawijaya, Malang.

Tantangan Berkarya

Usai menamatkan kuliah, Destiawan mulai bekerja sebagai karyawan percobaan di Wijaya Karya (Wika). Perusahaan inilah yang membentuk dirinya piawai memimpin berbagai proyek di dalam maupun luar negeri, serta sukses memberikan keuntungan yang besar bagi perseroan.

Berkat prestasinya, Destiawan didapuk masuk jajaran direksi di perusahaan BUMN karya tersebut. Selam tujuh tahun menjadi direksi, Destiawan ikut berperan menyukseskan pengerjaan proyek-proyek Wika.

Per Juni lalu, Destiawan mendapat amanah dari Kementerian BUMN untuk menempati posisi direktur utama Waskita Karya. “Awalnya saya merasa bahwa saya belum selesai di Wika, tapi ada yang membutuhkan pemikiran dan kerja saya di Waskita," kata dia.

Destiawan menganggap penunjukannya menjadi orang nomor satu di Waskita merupakan tantangan untuk berkarya. Itu pula yang membuatnya semangat berkarya di Waskita.

"Penempatan baru di Waskita merupakan tantangan bagi saya. Saya sama sekali tidak terbebani. Justru saya tertantang bagaimana mengembalikan Waskita menjadi perusahaan besar seperti sebelumnya dan bisa menyelesaikan permasalahan,” tegas dia.

Dalam menjalai hidup ini, Destiawan memegang teguh prinsip bahwa ia harus bisa melakukan hal-hal bermanfaat bagi orang lain (masyarakat), keluarga, dan negara. “Saya memang memiliki ego, tapi ego saya bisa dikecilkan demi melayani, baik dalam keluarga maupun perusahaan," tutur dia.

Karena itu, ia selalu berdoa memohan kepada Tuhan agar diberikan kesehatan dan bisa berkarya lebih banyak lagi kepada keluarga, orang lain, dan bangsa ini. "Moto hidup tersebut bukan saya buat-buat, tetapi terbentuk dari perjalanan selama hidup saya,” ujar dia.

Di tengah kesibukannya sebagai direktur utama, Destiawan selalu mengedepankan komunikasi secara intensif dengan istri dan anak-anaknya.

“Saya memiliki prinsip keseimbangan perusahaan dengan keluarga, yaitu perusahaan yang nomor satu dan keluarga paling utama. Saat perusahaan membutuhkan, saya harus melakukan yang terbaik. Saat perusahaan tidak membutuhkan, saya mencurahakan hidup bagi keluarga,” papar dia.*** 

Lihat juga: Komunikasi yang Baik Memudahkan Segala Hal

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN