Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ike Andriani, Direktur Utama PT Romandri Rajawali Indonesia.

Ike Andriani, Direktur Utama PT Romandri Rajawali Indonesia.

Ike Andriani, Direktur Utama PT Romandri Rajawali Indonesia

Sukses Berasal dari Kejujuran dan Loyalitas

Kamis, 1 April 2021 | 08:15 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Berasal dari keluarga tak mampu tidak membuat Ike Andriani minder, apalagi patah semangat. Dia terus membangun mimpinya secara mandiri. Bekerja mulai dari titik nol hingga akhirnya menduduki posisi puncak, tidak pula membuatnya berpuas diri.

Ike Andriani adalah entrepreneur sejati. Tak ada kamus menyerah dalam hidupnya. Saat bisnis budidaya jamur tiram yang dirintisnya limbung akibat hantaman pandemi, ia tidak menutup bisnisnya seperti dilakukan banyak pebisnis lain. Ike justru memutar otak untuk mengubah bisnisnya agar tetap survive.

Ada satu motivasi yang menjadikan Ike Andriani tahan banting, yaitu menyelamatkan para petani jamur dan para karyawan. Ia sadar banyak orang yang terlibat dan menggantungkan nasib kepada perusahaannya. "Bagi saya, itu kepuasan sendiri. Saya tidak perlu untung besar, yang penting ekonomi masyarakat sekitar bisa berjalan," tutur dia.

Boleh jadi karena motivasi itulah bisnis yang dirintis Ike Andriani secara perlahan terus berkembang. Penjualan kaldu jamur dan aneka produk makanan berbahan jamur yang diproduksi ibu dua anak ini terus meningkat.

Bagaimana kisah sukses dan suka duka menjalankan bisnis, berikut penuturan lengkap Ike Andriani kepada wartawati Investor Daily, Euis Rita Hartati di kantornya, belum lama ini.

Bisa cerita awal mula Anda merintis bisnis budidaya jamur?

Sebelum terjun di bisnis ini, saya menggeluti bisnis konveksi bersama satu partner. Namun, karena satu dan lain hal, bisnis kami mandek. Akhirnya mitra saya menawarkan bisnis budidaya jamur. Karena tidak tahu apa-apa soal budidaya jamur, saya hanya bertindak sebagai investor.

Satu kali saya bertemu langsung dengan komunitas petani jamur di Jonggol dan berdiskusi banyak hal. Saat itu, saya cuma berpikir bahwa saya perlu membantu para petani ini. Mereka butuh orang yang menginvestasikan kumbung (rumah jamur) di rumah mereka. Akhirnya saya investasi untuk beberapa petani, itu saya lakukan pada 2017. Hasil para petani itu kami pick up tiap hari, lalu mitra saya yang menjualnya ke pasar-pasar tradisional.

Saat itu permintaan di pasar terus meningkat. Mitra saya pun mengusulkan agar kami membuatnya sendiri. Karena tidak punya lahan, saya menyewa lahan untuk membangun kumbung. Awalnya saya bangun satu kumbung, lalu berkembang terus. Hasilnya makin meningkat. Ternyata bukan hanya jamurnya yang bisa kami bisniskan, tapi juga baglog atau media untuk budidaya jamur juga bisa kami buat. Walaupun recehan, tapi ada kepuasan, karena dalam membuat baglog ini banyak melibatkan ibu-ibu, mereka bisa cari nafkah di situ.

Saya beli mesin sendiri, steamer, semua saya lengkapi, sehingga berkembang terus. Banyak petani lokal yang ambil baglog ke kami, bahkan banyak yang utang, nanti bayarnya kalau sudah panen. Jadi, secara tidak langsung kami ikut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Bagi saya, itu kepuasan sendiri. Saya tidak perlu untung besar, yang penting ekonomi masyarakat sekitar bisa berjalan. Mungkin karena niat itu, Tuhan kasih jalan. Ternyata ada orang yang kasih lahan 3 ha untuk kami kelola lagi. Tapi dari 3 ha itu, kami baru buat 20 kumbung.

Saat bisnis tengah berkembang, tiba-tiba pandemi muncul. Jamur menumpuk karena tidak terserap pasar. Bagaimana bisa terserap, karena pasar banyak yang tutup. Di situlah tantangan yang harus kami lewati.

Apa yang Anda lakukan untuk menyiasati keadaan?

Barang menumpuk, saya tidak mungkin menyetop produksi, karena banyak petani yang menggantungkan nasibnya di belakang ini semua. Lalu stok jamur yang melimpah kami keringkan. Memang sebenarnya sebelum pandemi, saya sudah berpikir untuk membuat produk turunan atau olahan jamur, seperti nugget, bakso, dan lainnya. Tapi karena saat itu saya juga punya bisnis lain, sehingga belum terlaksana.

Akhirnya dari jamur yang dikeringkan, kami olah menjadi produk kaldu. Tapi itu tidak bisa langsung jadi, karena harus bolak-balik eksperimen, uji lab, uji rasa. Setelah dapat rasa yang pas, kami buat kaldu secara kemasan dengan nama Kaldu Jamur Ratubunda.

Ternyata produk ini laku di pasaran walaupun penjualannya baru terbatas via media sosial saja. Bulan pertama bisa laku 5.000 botol. Usut punya usut, ternyata di masa pandemi, kesadaran dan kepedulian orang tentang kesehatan makin meningkat, dan itu mendorong orang mencari produk yang sehat.

Dari situ, akhirya kami makin serius untuk mengelola produk ini. Tak hanya kaldu jamur, tapi juga produk olahan lainnya yang sehat. Akhirnya saya membuat dua lini bisnis, yakni FH Mushroom yang khusus menangani budidaya jamur, FH Food untuk menangani aneka produk olahan jamur, sedangkan bidang pemasaran dan lainnya di bawah PT Romandri Rajawali Indonesia.

Bagaimana persaingan bisnisnya?

Bisnis ini memang tengah naik daun. Bahkan brand-brand bumbu masak ternama yang sebelumnya terkenal dengan kaldu dari daging sapi dan ayam juga mulai mengeluarkan varian kaldu jamur. Tapi kami yakin masih punya market tersendiri, apalagi kandungan produk kami murni jamur. Yang lain itu ada yang cuma perisai atau rasa jamur. Kami sosialisasikan produk kami di semua lini sosial media dan juga pasar tradisional.

Produk kami diterima dengan baik, walaupun belum dipromosikan secara masif. Di pasar tradisional, kami baru masuk Jabodetabek. Tapi kalau yang beli putus sudah banyak pesanan dari luar kota, seperti Bali dan Ternate. Sejak November tahun lalu sampai saat ini, sekitar 10 ribu botol sudah terjual.

Prospek bisnis ini ke depan?

Kaldu jamur ini bisnis jangka panjang, karena saingan kami cukup berat, pemainnya banyak. Tapi, kalau kami yakin dengan produk kami dan apa yang kami berikan adalah yang terbaik, saya optimistis ini prospektif. Produk ini non-MSG (monosodium glutamate), sangat sehat. Paling tidak, melalui produk ini, kami ikut mengurangi konsumsi vetsin di masyarakat.

Kiat Anda memimpin perusahaan?

Saya membuka dan menjalankan bisnis sendiri memang baru 2-3 tahun terakhir. Sebelumnya, selama 18 tahun, saya kerja di perusahaan lain, bekerja untuk orang lain. Saya bekerja dari level bawah, sampai akhirnya saya menjadi pimpinan. Dari sana saya belajar mengenal tim.

Dalam memimpin, saya tidak menganggap diri saya sebagai bos dan karyawan sebagai bawahan, melainkan sebagai satu tim. Jadi, biasanya siapa pun yang bekerja dengan saya, pasti merasa nyaman karena mereka merasa saya memperlakukan mereka sebagai tim, bukan atasan dan bawahan. Sekarang pun, saya dengan karyawan begitu. Ketika di bawah, kami tanggung sama-sama. Ketika di atas, mereka juga ikut merasakan.

Tapi memang gaya kepemimpinan seperti ini ada kelemahannya. Kadang-kadang ada di momen tertentu saya sedang 'sensitif', seperti kurang dihargai. Kalau sudah seperti itu, saya kembalikan ke posisi masing-masing.

Apa kunci sukses Anda?

Loyalitas, kerja keras, dan berdoa. Kerja keras saja nggak cukup karena Tuhan yang tentukan jalur kita. Kalau tidak punya loyalitas, hasilnya nothing. Loyalitas dan kredibilitas itu berproses dan dibangun dalam waktu lama. Itu yang saya berikan, baik ketika saya bekerja di perusahaan lain, maupun ketika saya berbisnis dan menjalankan usaha sendiri.

Di bisnis pengadaan, kebanyakan mereka yang mencari saya. Mereka tentu tidak akan percaya begitu saja kalau kenalnya baru 1-2 tahun. Saya yakin, kalau kita memberikan maksimal, loyalitas dan kepercayaan, orang akan berikan juga hal yang sama.

Siapa yang menjadi role model Anda?

Kebetulan saya bekerja lama dengan Pak Indra (Indra Charismiadji, pakar pendidikan). Beliaulah yang menjadi role model saya. Banyak hal yang saya ambil dari beliau. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari beliau.

Beliau melihat saya tidak dari latar belakang pendidikan, tapi dari kemampuan saya hingga akhirnya saya bisa menduduki posisi penting sebagai direktur keuangan. Apa pun yang saya lakukan di sini juga sama. Jadi, yang mau kerja di sini tidak harus punya ijazah pendidikan tertentu, yang penting dia mampu atau tidak.

Kalau di keluarga, karena saya perempuan satu-satunya maka role model saya adalah bapak saya. Yang saya lihat dari beliau adalah nilai-nilai yang ditanamkan, salah satunya adalah kejujuran. Apa pun ceritanya, itu yang dipegang teguh, dan itu saya pakai juga di bisnis. Kejujuran itu yang paling utama.

Ada satu cerita. Kakak saya pamit mengaji, tapi ternyata malah pergi nongkrong. Pulangnya disabet (dicambuk). Kami saat itu sedih melihatnya, kasihan. Tapi bukan itu nilai yang diambil, bukan karena tidak mengaji, tapi kenapa harus bohong. Dari sana tertanam di hati kami bahwa hidup itu harus jujur.

Apa sebenarnya cita-cita Anda ?

Terus terang, saya berasal dari keluarga tidak punya, jadi saya tidak punya cita-cita. Saat itu, yang jadi prioritas saya adalah bagaimana caranya cepat kerja dan cari uang. Jadi, selepas SMA, saya tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada dana. Saya punya sahabat enam orang, saya yang mengantar sahabat-sahabat saya untuk mendaftar kuliah.

Kebetulan hoki, lulus SMA saya sudah bisa langsung kerja, menjadi resepsionis. Jadi, dari situ saya berproses. Saya fokus bekerja dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk biaya kuliah. Setelah dana cukup, saya ambil kuliah sekretaris.

Tidak puas sampai di situ, saya belajar finansial. Perlahan, karier saya berkembang, lalu dipercaya pegang bagian keuangan. Kemudian di perusahaan terakhir yang cukup ternama di Asia Pasifik, saya menjabat sebagai direktur keuangan selama enam tahun.

Pada titik terakhir, terlintas keinginan saya untuk punya usaha sendri. Kalau punya usaha sendiri kan kita mampu memberikan apa yang bisa kita berikan kepada orang secara maksimal. Sebaliknya, kalau bekerja di orang itu terbatas.

Bagaimana Anda membagi waktu?

Semua ada momennya, ada waktunya masing-masing. Waktu untuk keluarga dan waktu untuk bekerja. Sebelum menikah, saya sudah bekerja. Maka ketika akan menikah, saya sejak awal sudah sampaikan ke calon suami bahwa jangan pernah menyuruh saya tinggal di rumah.

Jadi, begitu menikah, saya sudah punya komitmen dengan suami dan kami setuju. Begitu punya anak pun prosesnya sama. Saya tetap bekerja. Anak diberi pengertian bahwa kami bekerja untuk mereka juga. Saya merasa apa yang saya lakukan itu untuk keluarga, dan mereka lihat itu. Apa yang saya hasilkan juga dirasakan mereka. Jadi, tidak ada kekecewaan di keluarga atas apa yang saya lakukan.

Nilai-nilai yang Anda tanamkan kepada anak-anak?

Saya tidak menuntut anak-anak saya untuk menjadi anak paling pintar. Tidak memasang target tertentu. Yang saya minta kepada mereka adalah lakukan segalanya semaksimal yang mereka mampu. Yang penting berusaha saja, ikuti prosesnya. Saya yakin proses tidak akan mengkhianati hasil. Saya malah sering merasa takjub, apa yang saya kira tidak bisa dilakukan anak saya, ternyata mereka mampu dan hasilnya baik.

Apa lagi yang ingin Anda capai dalam hidup?

Saya setiap tahun selalu punya target. Yang biasanya rutin saya lakukan adalah setiap tahun saya selalu memberangkatkan beberapa anggota keluarga untuk menjalankan ibadah umrah. Intinya saya senang berbagi. Kalau bisnis saya berjalan lancar, saya ingin bisa juga memberangkatkan karyawan maupun petani jamur untuk menjalankan umrah. Makanya saya berharap produk saya bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, karena akan ada banyak orang yang terbantu, mulai dari hulu hingga hilir.***

 

 

Ike Andriani, Direktur Utama PT Romandri Rajawali Indonesia.
Ike Andriani, Direktur Utama PT Romandri Rajawali Indonesia.

Traveling Bersama Teman-teman

Sesibuk apa pun dalam menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan pengusaha, Ike Andriani selalu menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan favoritnya.

“Kita harus punya me time. Biasaya saya selalu punya target, dalam satu tahun itu traveling ke satu tempat. Selain jalan dengan keluarga, saya selalu sempatkan jalan-jalan hanya dengan teman-teman. Rasanya seru,” kata Ike.

Sejumlah tempat pun telah dia kunjungi, dari negara-negara Asia, Amerika, hingga Eropa. Di Indonesia, hampir semua kota, dari Sabang sampai Merauke, telah di singgahinya. “Keliling Indonesianya kebanyakan karena terkait proyek-proyek yang saya tangani. Proyek pengadaan kan di kabupatem dan provinsi. Jadi, tidak murni liburan,” ujar dia.

Dalam setiap tempat yang disinggahinya, Ike Andriani selalu mencicipi kuliner khas setempat. Tak lupa dia juga mencari suvenir khas sebagai oleh-oleh. Meski kerap keliling dunia, Ike mengaku tidak pernah mengoleksi barang tertentu. “Jadi, saya keluar negeri seperti nggak ada bekasnya. Saya lihat teman mengoleksi tempelan kulkas, akhirnya saya ikutan juga,” tutur dia.

Selama pandemi Covid-19, Ike Andriani tidak melakukan kegiatan traveling, baik di dalam maupun luar negeri. “Selama pandemi kumpul di rumah saja. Semoga pandemi segera berakhir dan kita bisa bebas melakukan aktivitas lagi. Bukan hanya traveling, tapi juga bisnis,” ujarnya. (es)

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN