Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ADRIAN GUNADI,  Co-Founder & CEO Investree. Foto: Investor Daily/EMRAL

ADRIAN GUNADI, Co-Founder & CEO Investree. Foto: Investor Daily/EMRAL

ADRIAN GUNADI, Co-Founder & CEO Investree

Sukses Diukur dari Legasi

Emralsyah/Totok Subagyo, Selasa, 23 Juli 2019 | 12:35 WIB

Ukuran kesuksesan setiap orang pasti berbeda-beda. Tapi ada satu standar kesuksesan yang berlaku universal, yaitu legasi (legacy). Seseorang akan dianggap sukses bila ia mewariskan hal-hal positif kepada bidang yang digelutinya, sekaligus memberikan manfaat besar kepada orang-orang di sekitarnya.

Legasi itulah yang sedang dibangun Adrian Gunadi, bersama PT lnvestree Radhika Jaya (Investree), perusahaan finansial teknologi (fintech) yang melayani pinjaman dari pengguna ke pengguna atau peer to peer lending (P2PL).

Adrian berharap upayanya tidak cuma mendatangkan manfaat kepada masyarakat, terutama para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tapi juga kepada industri fintech lending yang masih terbilang baru di Indonesia.

“Yang akan dilihat adalah apa legacy kita. Sebagai pelopor fintech lending, kami tidak hanya membangun perusahaan yang memberikan akses kredit kepada UMKM. Kami pun ikut membangun industri baru ini,” kata Adrian Gunadi kepada wartawan Investor Daily Totok Subagyo dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi Co-Founder & Chief Executive Officer (CEO) Investree tersebut, keberhasilannya memajukan perusahaan dan industri fintech juga akan memberinya sesuatu yang tidak bisa diukur secara materi, yakni kepuasan batin. “Jika itu tercapai tentu akan membawa kepuasan tersendiri, sebab pertanyaan mendasarnya adalah apa kontribusi yang bisa kita lakukan terhadap problem, terhadap akses kredit UMKM,” ujar dia.

Di Investree, Adrian Gunadi menerapkan gaya kepemimpinan tim sepak bola. Ia memosisikan diri sebagai pelatih (coach) atau manajer yang harus mengoptimalkan potensi unggul masing-masing individu untuk menjadi sebuah tim yang padu dan hebat. Sebagai coach, ia juga harus memberikan solusi, menyiapkan strategi, mendampingi tim, dan memelihara semangat mereka agar selalu bermental pemenang.

“Menjalankan bisnis start-up berbeda dengan bekerja di korporasi biasa. Perjuangan founder perusahaan rintisan adalah bagaimana dia membangun serta meningkatkan value company,” tutur Adrian.

Adrian Gunadi bukanlah pendatang baru di industri keuangan. Sudah sekitar 20 tahun ia malang-melintang di dunia perbankan lokal dan internasional. Adrian terlibat dalam membangun model bisnis perusahaan di sektor perbankan, mulai dari membuat jaringan konvensional di bidang syariah dan SME platform, hingga keuangan mikro dan e-banking di bidang ritel.

Selama bekerja di berbagai institusi finansial, Adrian kian paham masih banyak individu dan pelaku usaha yang kesulitan memperoleh akses pembiayaan. Inklusi finansial di Tanah Air belum berjalan efektif. Maka, terbesitlah ide untuk mendirikan perusahaan fintech lending.

“Misi Investree sebagai online marketplace sederhana, yakni mempertemukan orang yang butuh pendanaan dengan orang yang bersedia meminjamkan dananya. Kami mendigitalisasi inklusi finansial,” papar Adrian Gunadi, mengisahkan awal Investree didirikan. Berikut penuturan lengkapnya:

ADRIAN GUNADI,  Co-Founder & CEO Investree. Foto: Investor Daily/EMRAL
ADRIAN GUNADI, Co-Founder & CEO Investree. Foto: Investor Daily/EMRAL

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga mendirikan Investree?

Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) pada 1999, saya memulai karier sebagai management trainee di Citibank. Enam tahun kemudian saya mendapatkan beasiswa kuliah S2 di Rotterdam School of Management Erasmus University, Belanda. Kemudian saya bergabung dengan Standard Chartered Bank untuk mengelola Islamic Finance di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2005.

Dua tahun di Dubai, saya dipanggil kembali ke Indonesia untuk memegang unit usaha syariah (UUS) di PT Bank Permata Tbk. Saat itu, Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk sedang memulai transformasi organisasi setelah mengambil alih Bank Permata pada 2004. Lalu saya menjabat sebagai Managing Director Retail Banking di Bank Muamalat pada 2009-2015. Di Bank Muamalat inilah mulai ada pemikiran mendirikan Investree.

 

Apa ide awal Investree didirikan?

Konsep fintech di dunia sudah berkembang sejak 2008. Lalu, muncul pemikiran bagaimana menggunakan layanan teknologi untuk jasa keuangan agar lebih mudah diakses masyarakat. Kami melihat ada peluang di Indonesia. Kemudian kami mendirikan Investree pada 2015.

Saya berkolaborasi dengan profesional perbankan berpengalaman, Bapak Dr Amiruddin sebagai Co-Founder & Commissioner. Misi Investree sebagai online marketplace sederhana, yakni mempertemukan orang yang butuh pendanaan dengan orang yang bersedia meminjamkan dananya.

Kami hadir sebagai marketplace yang mempertemukan peminjam (borrower) dengan pemberi pinjaman (lender) secara online dengan skema P2PL. Investree tidak mengelola dana, hanya mempertemukan peminjam dengan pemberi pinjaman layaknya sebuah marketplace.

Ide kami, selain memanfaatkan peluang bisnis fintech, kami ingin memberikan solusi atas problem akses kredit di Indonesia. Investree memberikan solusi kepada UMKM untuk mendapatkan modal kerja dan alternatif diversifikasi portofolio bagi lender yang mendapatkan keuntungan dari pendanaannya melalui Investree.

Dengan semangat untuk meningkatkan inklusi keuangan serta memberikan kemudahan akses kredit di Indonesia, Investree hadir dengan slogan 'Semua Bisa Tumbuh'. Borrower bisa tumbuh karena kemudahan akses kredit modal kerja, demikian juga lender bisa meningkatkan keuntungannya.

 

Bagaimana perkembangan Investree saat ini?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan izin kepada PT lnvestree Radhika Java (Investree) sebagai perusahaan layanan pinjaman online berbasis P2PL berdasarkan Surat Keputusan OJK, 13 Mei 2019. Saat ini tercatat ada lima fintech lending yang mengantongi izin OJK.

Per April 2019, Investree berhasil membukukan catatan total fasilitas pinjaman Rp 2,49 triliun dan nilai pinjaman tersalurkan Rp 1,86 triliun, dengan rata-rata tingkat pengembalian (return) 16,4% dan tingkat keberhasilan pembayaran pinjaman dalam 90 hari atau TKB 90 sebesar 99,01%.

Gagal bayar (default) Investree hingga kuartal I-2019 sebesar 0%. Itu karena Investree membidik pinjaman produktif. Sebagai perbandingan, data OJK per Februari 2019, rasio pinjaman bermasalah fintech lending terdaftar berkisar 3%.

 

Keunggulan Investree dibanding yang lain?

Bagi borrower, mereka bisa memperoleh akses modal kerja dengan cepat, fleksibel, tanpa jaminan fixed asset, dan bisa mendapatkan pinjaman modal kerja hingga Rp 2 miliar, dengan bunga berkisar 12-20% per tahun. Cukup kompetitif, hampir sama dengan bank kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) II.

Bagi lender, bisa mendanai mulai dari Rp 1 juta dan return berkisar 12-20% per tahun. Investree hanya akan mendapatkan fee atas jasa mempertemukan. Itulah konsep P2PL.

Pembeda Investree dengan pemain fintech lain adalah dari sisi teknologi dan segmen pasarnya. Investree tidak membidik segmen umum, tapi fokus ke segmen UMKM, untuk pinjaman modal kerja produktif.

Kami bekerja sama dengan korporasi untuk membantu supply chain financing. Itulah yang kami digitalisasi, dengan konsep scoring model yang berbeda dengan perbankan, menggunakan alternatif data dan membuat semuanya ke dalam platform yang aksesibilitasnya jauh lebih cepat.

 

Rencana pengembangan Investree?

Selain produk konvensional, kami kembangkan produk syariah. Investree adalah satu-satunya platform P2PL yang berizin OJK dengan dua unit usaha, yakni konvensional dan syariah. Produk syariah diluncurkan awal 2018, dan tahun ini kami targetkan dapat memberikan pinjaman syariah Rp 600 miliar.

Mulai tahun ini, kami tidak hanya melihat Indonesia. Sebab, aspirasi kami adalah ingin menjadi perusahaan global. Kami sudah mulai masuk Thailand dan berlanjut ke Filipina.

Kami percaya kolaborasi adalah kunci berkembangnya industri fintech. Masih banyak PR di industri ini. Regulasi sudah ada, tetapi perlu terus dikembangkan. Ini bagian dari amanah saya sebagai Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI), yang ditunjuk OJK menaungi fintech P2PL.

Kami bersinergi untuk memperkuat aturan OJK. Sekarang AFPI membawahkan 99 perusahaan. Ini bagian kerangka memperkuat industri fintech. Kami ingin industri fintech lending yang berkualitas dan berkesinambungan.

 

Model kepemimpinan yang Anda terapkan?

Sebagai pehobi olahraga, pendekatan saya adalah bahwa pemimpin mesti memosisikan diri sebagai coach. Bagaimana mengoptimalkan potensi unggul dari masing-masing individu untuk menjadi sebuah tim yang padu dan hebat. Sebagai coach, saya juga harus terlibat langsung, memberikan solusi, taktik atau strategi, mendampingi tim, serta tahu kapan harus mendorong atau bahkan menarik diri atau tim.

Menjalankan bisnis start-up berbeda dengan bekerja di korporasi. Perjuangan founder perusahaan rintisan adalah bagaimana dia membangun serta meningkatkan value company.

Sekarang, ketika saya tidak di perbankan, style-nya harus berbeda. Di Investree, selain prinsip manajemen yang berlaku di korporasi, kami gabung dengan prinsip manajemen yang diterapkan perusahaan referensi kami, seperti Amazon atau Google.

Hal-hal prinsip terkait tata kelola perusahaan yang baik (GCG) tetap dijalankan. Namun, kami tambahkan dengan unsur kreativitas, unsur inovasi, unsur kolaborasi. Di situlah seninya memimpin perusahaan rintisan. Kami juga harus cepat dalam pengambilan keputusan.

 

Gaya Anda relevan dengan generasi milenial?

Yang saya pahami, anak milenial memang tidak suka dengan rutinitas, tetapi kaya ide kreatif dan tetap bisa bekerja sama dalam tim. Karakter demikian itu bisa menjadi poin tambahan untuk berkarya di Investree. Dengan masa kerja relatif singkat, kami sudah berikan tanggung jawab besar untuk mengelola proyek dengan model Squad. Squad terdiri atas orang teknologi informasi (TI) dan divisi lainnya, mereka berkolaborasi untuk meraih sukses bersama.

Kuncinya, berilah mereka kebebasan kreativitas, tapi kita juga mesti tahu kapan harus memberikan pengarahan. Kita harus tegas, tidak boleh plinplan, tak boleh ragu-ragu. Generasi milenial membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat, dengan segala risiko yang sudah diantisipasi.

 

Nilai-nilai yang Anda formulasikan dalam budaya kerja di Investree?

Sesuai moto kami, 'Semua Bisa Tumbuh', tidak hanya berlaku ke eksternal, yaitu borrower dan lender, tetapi juga ke internal, yaitu para karyawan. Kami sudah memberikan tantangan kepada karyawan yang baru bekerja. Karena, menurut saya, cara terbaik untuk melatih orang adalah memberikan tantangan.

Kami juga mengimplementasikan gaya kolaborasi teknologi yang kami pelajari di Swiss, sekaligus menyediakan wahana pembelajaran dan pengembangan diri bagi seluruh karyawan. Harapannya, Investree bisa meluluskan kader fintech berkualitas. Karena potensi fintech di Indonesia luar besar, perkembangan teknologi yang sedemikian cepat, tetapi masih banyak gap financial inclusion.

Investree juga sudah aktif dalam kegiatan CSR (corporate social responsibility). Selain bekerja sama dengan Rumah Zakat, Investree sejak 2018 mendukung operasional Kapal Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga, membantu pengobatan masyarakat di pulau-pulau terluar yang belum memiliki fasilitas rumah sakit.

 

Makna sukses menurut Anda?

Yang akan dilihat adalah apa legacy yang bisa kami buat, pemberdayaan yang bisa Investree lakukan. Apa yang kami lakukan sebenarnya bisa di-share. Sebagai pelopor fintech lending, kami tidak hanya membangun Investree, tetapi juga industri baru ini.

Jika itu tercapai, tentu membawa kepuasan tersendiri. Sebab, pertanyaan mendasarnya adalah apa kontribusi yang bisa kami lakukan terhadap problem, terhadap akses kredit bagi UMKM.

Jadi, dalam konteks 'Semua Bisa Tumbuh', kami ingin ada terobosan dalam pengembangan industri baru ini dan bisa berkesinambungan. Apa yang kami lakukan di awal ini semoga bisa menjadi fondasi perkembangan industri fintech ke depan.

Harusnya Indonesia bisa menjadi salah satu hub fintech di dunia. Jika saya bisa menjadi bagian pencapaian itu, itu sukses bagi saya pribadi, dan bagian dari ibadah, bagi industri dan negara.

 

Sebagai Ketua Umum AFPI, apa pesan Anda kepada para calon pendiri perusahaan rintisan?

Pertama, segmen fintech itu sangat luas. Pesan saya, calon founder idealnya membidik segmen secara spesifik, agar memudahkan dalam pengembangannya. Idealnya, pendiri perusahaan fintech memiliki kompetensi, atau mengajak co-founder yang mengerti industri jasa keuangan.

Menjalankan start-up fintech berbeda dengan perusahaan start-up e-commerce atau start-up transportasi. Regulasi fintech banyak, jangan sampai salah mengaplikasikannya di dalam bisnis model.

Poin berikutnya bagaimana dari awal bisa berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya dengan regulator. Contoh, Investree berkolaborasi dengan PT Bank Danamon Tbk untuk cash management dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai lender. Juga berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan dalam mendistribusikan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN