Bumi Yakin Kreditor Minati Konversi Saham Perseroan i

Ilustrasi Bumi Resources Tbk

Oleh : Devie Kania / GOR | Senin, 3 Desember 2018 | 08:53 WIB

JAKARTA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperkirakan para kreditor atas utang yang telah direstrukturisasi perseroan pada 2017 akan lebih ramai mengonversi kepemilikan obligasi wajib konversi (OWK) atau mandatory convertible bond (MCB) menjadi saham perseroan. Pasalnya, Bumi Resources optimistis peningkatan kinerja perusahaan secara bertahap akan mendongkrak harga saham ke depan.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava menyatakan, pada 2017, pihaknya melakukan restrukturisasi atas utang sebesar US$ 4,3 miliar dengan tiga skema.

Perseroan mengonversi utang menjadi saham dengan harga Rp 926,16 per saham dan menerbitan OWK senilai US$ 600 juta dengan ketetapan harga pelaksanaan Rp 926,16 per saham untuk mengurangi utang sebanyak US$ 2,7 miliar.

Lalu, perseroan juga memastikan akan membayar utang senilai US$ 1,7 miliar ke dalam tiga tranche yang dibayarkan secara bertahap dan saat ini pembayaran sebagian tranche A berikut bunga sebesar US$ 167,5 juta. Namun, khusus OWK, dia mengaku, ada konversi sebesar US$ 10 juta dan kemungkinan belum akan ada lagi sampai akhir tahun.

“Tahun 2020, kami memperkirakan akan lebih banyak konversi OWK ke saham, meski demikian semua tergantung lagi dengan harga saham Bumi Resources ke depan,” ujar Dileep di Jakarta, akhir pekan lalu.

Meninjau data penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 November 2018, harga saham Bumi Resources sebesar Rp 130 per saham setelah naik 0,78%. Adapun jika menilik data pergerakan saham perseroan secara year to date, saham Bumi masih membukukan penurunan harga saham 51,85%. Namun, jika mengacu pergerakan selama tiga tahun terakhir, harga saham Bumi Resources justru telah menguat sebanyak 130%.

Untuk tahun 2020, Dileep mengakui, pihaknya masih mengincar kapasitas produksi batu bara hingga 100 juta metrik ton (MT). Adapun kontribusi batu bara kalori diyakini mencapai 45-50% terhadap total produksi saat itu.

Tahun ini, sebelumnya dia memperkirakan perseroan akan mencatatkan total produksi 80-83 juta MT dan naik menjadi 90-93 juta MT pada 2019. “Tren harga batu bara high rank cukup bagus sekarang ini dan semoga masih berlanjut pada 2019. Sedangkan batu bara tipe low rank, selama November-Desember 2018,sedikit tertekan harganya akibatlarangan impor di Tiongkok, tapi harapannya kondisi kembali membaik lagi ke depan,” ungkap dia.

Pembayaran Utang
Sampai kuartal I-2020, menurut Dileep, pihaknya akan menyelesaikan pembayaran utang tranche A dengan total US$ 600 juta dan trance B senilai US$ 600 juta pada kuartal I-2022. Sehingga, pada 2022, posisi debt to equity ratio (DER) perusahaan akan turun menjadi 0,31 kali.

Berdasarkan perhitungan DER tersebut, dia mengaku, perseroan akan memiliki kondisi permodalan yang lebih kuat berkat pengurangan utang tersebut. Selanjutnya, menurut dia, Bumi Resources akan melanjutkan pembayaran utang hingga 2023.

“Soalnya pada 2022, sisa utang kami akan masih sekitar US$ 407 juta dan perseroan akan selesaikan itu pada 2023,” tegas Dileep. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES