Reprofiling Utang, Garuda dan Jasa Marga Incar Pendanaan Eksternal i

Pesawat Garuda Indonesia.

Oleh : Devie Kania / GOR | Rabu, 2 Januari 2019 | 10:09 WIB

JAKARTA – Dua emiten yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN) tengah berencana menggalang dana eksternal untuk keperluan reprofiling struktur utang. Dua emiten tersebut, yaitu PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra menyatakan, perseroan berniat mengambil pinjaman baru sebagai bentuk reprofiling utang pada 2019. Pinjaman tersebut berupa valuta asing (valas) dan sumber dananya akan berasal dari pinjaman perbankan.

“Tahun 2019, kami akan ambil pinjaman valas senilai US$ 500 juta (Rp 7,25 triliun) untuk profiling utang lama,” ujar dia yang kerap disapa Ari Askhara kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Meski demikian, dia belum menginformasikan detil terkait rencana perolehan pinjaman sebesar US$ 500 juta tersebut, namun menilik laporan keuangan Garuda Indonesia sampai kuartal III-2018, perseroan memiliki total pinjaman jangka panjang dari perbankan sebesar US$ 109,76 juta. Dari nominal tersebut, porsi utang emiten ini yang akan jatuh tempo dalam kurun waktu satu tahun mencapai US$ 31,4 juta.

Rata-rata suku bunga dari pinjaman tersebut, mencapai 4,84-6% untuk utang berupa valas dan kisaran 7,7-11% atas pinjaman berdenominasi rupiah. Sementara itu, laporan keuangan Garuda Indonesia juga menunjukkan bahwa perseroan masih memiliki utang obligasi berkelanjutan I senilai US$ 200,72 juta dan trust cer tificates sebesar US$ 500 juta melalui Garuda Indonesia Global Sukuk Limited.

Untuk reprofiling utang, Direktur Keuangan Jasa Marga Donny Arsal pun mengakui, perseroan memiliki agenda tersebut pada 2019. Namun, perseroan belum menentukan pilihan instrumen secara spesifik.

Sebaliknya, Jasa Marga tengah mengkaji instrumen sukuk, obligasi tanpa kupon (zero coupon bond), ataupun surat utang dengan penerapan suku bunga berjenjang. “Semua kami kaji, tapi kembali lagi dengan kondisi pasar ke depan. Adapun instrument tersebut perseroan kaji untuk reprofiling utang terkait tenor dan tingkat suku bunganya,” papar dia.

Lebih lanjut Donny menyatakan, perseroan juga akan melanjutkan rencana menggalang dana melalui kontrak investasi kolektif dana investasi infrastruktur (KIK-dinfra) yang diterbitkan PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) dengan target dana maksimum Rp 1,5 triliun pada kuartal I-2019.

Kemudian, Jasa Marga juga akan mempertimbangkan potensi melakukan sekuritisasi pendapatan salah satu ruas tol kembali pada 2019.

“Target dana KIK-Dinfra masih Rp 1,5 triliun, lalu aset dasarnya tetap terbagi antara surat utang dan ekuitas. Namun, proporsi keduanya bisa berubah dari rencana sebelummya, sebagai contoh bisa dimulai dulu dengan ekuitas dengan nilai Rp 300 miliar,” ujar dia.

Mengenai KIK-Dinfra, sebelumnya Jasa Marga dan MMI sempat berencana meluncurkan produk tersebut pada kuartal IV-2018. Donny menyampaikan, saat ini pihaknya tengah menanti potensi insentif untuk instrument KIK.

Adapun wacana insentif pajak penghasilan (Pph) untuk KIK dan surat utang korporasi, sempat disampaikan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan pada semester II-2018. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES