Samuel Asset Bidik AUM Rp 18 Triliun i

Ilustrasi

Oleh : Devie Kania / GOR | Jumat, 4 Januari 2019 | 08:44 WIB

JAKARTA − PT Samuel Asset Management (SAM) menyasar total dana kelolaan (assets under management/AUM) mencapai Rp 18 triliun pada 2019. Target tersebut setara dengan peningkatan AUM sebesar 20% jika dibandingkan prognosa akhir 2018 senilai Rp 15 triliun.

Presiden Direktur Samuel Asset Management Agus Basuki Yanuar menyatakan, pihaknya optimistis pencapaian total AUM tahun 2018 berada dalam posisi Rp 15 triliun. Adapun komposisi AUM yang berasal dari pemasaran produk reksa dana menyumbang 60% dan sisanya berasal dari kontrak pengelolaan dana (KPD).

“Pada 2019 kami tetap fokus dengan pemasaran reksa dana maupun menjalankan mandat KPD. Dari segi KPD, bahkan perseroan baru meraih mandat dari salah satu dana pensiun di Eropa Barat untuk mengelola investasinya di Indonesia,” ujar Agus kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Sementara itu, dia menegaskan, produk Samuel Asset Management mayoritas masih terpusat dengan reksa dana saham dan campuran. Untuk prospek tahun 2019, Agus yakin, earning per share (EPS) emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan meningkat 12-13% dan mendukung penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 6.800-7.200.

”Kami positif untuk peluang penguatan IHSG, sekalipun akhir 2018 indeks ditutup terkoreksi secara year to date,” tegas dia.

Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup minus 2,54% hingga berada di level 6.194,5 pada 28 Desember 2018. Pasalnya, pada 29 Desember 2017 IHSG ditutup dalam level 6.355,65.

Optimisme mengenai peningkatan EPS dan IHSG, tutur Agus, antara lain berpatokan dengan indikasi tekanan terhadap rupiah mulai mereda. Sehingga, risiko peningkatan harga bahan baku atau kurs bagi para emiten mulai berkurang. Meninjau data investing.com, nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.410 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 3 Januari 2019.

Sementara, sebelumnya pada 31 Desember 2018 nilai tukar rupiah justru berada dalam level Rp 14.485 per dolar AS. Kemudian, lebih lanjut, Agus juga mengungkapkan, saat ini valuasi bursa saham di negara berkembang cenderung sudah rendah. Karena itu, dengan kondisi valuasi dan prospek yang masih menjanjikan, investor asing disinyalir kembali ke bursa saham Indonesia pada 2019.

Walau demikian, menilik data perdagangan di BEI pada 3 Januari 2019, posisi investor asing masih jual bersih (net sell) Rp 54,26 triliun dalam satu tahun ke belakang. Secara nominal, terdapat penurunan sekitar Rp 2 triliun jika dibandingkan posisi 2 Januari 2019 yang sempat menjangkau Rp 56 triliun.

Namun, ketika menilik data secara year to date sebetulnya investor asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) Rp 395,74 miliar. Adapun, khusus realisasi 3 Januari 2019 investor asing tercatat membukukan net buy Rp 188,27 miliar.

Sedangkan, pada hari yang sama, IHSG ditutup menguat 0,64% hingga berada dalam level 6.221,01. Kemudian, dari segi rata-rata price to earning (PE) ratio IHSG tercatat berada dalam posisi 14,7 kali. Adapun selain penguatan IHSG, Agus yakin, pada 2019 beberapa assets class di Indonesia, seperti harga surat utang Negara (SUN) juga akan kembali menguat.

Berdasarkan hal itu, dia berharap, terdapat perbaikan dan peningkatan kinerja dari reksa dana berbasis surat utang. Menilik data PT Infovesta Utama yang dirilis pada 2 Januari 2019, rata-rata tingkat pengembalian investasi (return) reksa saham minus 3,67%, reksa dana campuran minus 2,09%, dan pendapatan tetap pun minus 2,2% secara year to date sampai 28 Desember 2018. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES