Sarana Menara Raih Pinjaman Rp 720,83 Miliar i

Ilustrasi Sarana Menara Nusantara

Oleh : Rahajeng KH / GOR | Jumat, 8 Februari 2019 | 08:57 WIB

JAKARTA - PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mendapatkan fasilitas pinjaman dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) Cabang Singapura, senilai JPY 5,67 miliar atau Rp 720,83 miliar. Kredit tersebut memiliki jangka waktu tiga tahun enam bulan sejak penandatanganan.

Sekretaris Sarana Menara Irfan Ghazali mengatakan, pinjaman tersebut akan digunakan oleh anak usaha perseroan, PT Iforte Solusi Infotek dan PT Komet Infra Nusantara, anak dari PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).

“Dana digunakan untuk membiayai kebutuhan umum , modal kerja, ser ta pengeluaran lainnya,” kata Ir fan, dalam siaran resminya, di Jakarta, Kamis (7/2).

Bunga atas fasilitas pinjaman adalah jumlah per tahun dari Tokyo Interbank Offering Rate (Tibor) dan margin yang berlaku 0,70%. Untuk itu Protelindo akan berperan sebagai penjamin karena Iforte dan KIN merupakan anak usahanya.

Sebelumnya, melalui anak usahanya PT Iforte Solusi Infotek, menerima pengalihan hak atas saham dari PT Komet Infra Nusantara (KIN) sebanyak 924.999 saham, atas saham PT Quattro International. Irfan mengatakan nilai pembelian dari pengalihan saham tersebut senilai Rp 323,66 miliar.

Baik Komet Infra Nusantara maupun Iforte Solusi merupakan anak usaha perseroan. Pengalihan saham ini dilakukan karena Quattro dan Iforte memiliki lini bisnis yang sama, yakni fiber optik. Dengan begitu, kinerja kedua perusahaan diharapkan bisa memberikan kontribusi positif pada kinerja perseroan.

“Perubahan pemegang saham Quattro diharapkan bisa berdampak positif terhadap finansial perseroan,” kata Irfan.

Irfan mengatakan transaksi ini tidak mengubah pengendalian dalam Quattro, karena kedua perusahaan tersebut merupakan anak usaha yang dikendalikan perseroan. Hingga kuartal III-2018 mencatatkan pendapatan Rp 4,34 triliun.

Pada pertengahan 2018 perseroan mengakuisisi perusahaan PT Komet Infra Nusantara (KIN). Ekspansi anorganik itu membuat SMN memiliki tambahan sebanyak 1.400 menara dengan penyewa sekitar 2.000. Pada tahun lalu, Sarana Menara menyiapkan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar Rp 2 triliun.

Di antaranya sebesar Rp 1,1 triliun direalisasikan pada Juni 2018. Belanja modal tersebut akan digunakan untuk pembangunan menara, terdiri atas menara baru, kolokasi, maintenance, dan pembayaran sewa lahan ke pemilik lahan. Selain itu digunakan sebagai belanja non menara, seperti very small aperture terminal (VSAT) dan kabel fiber (fiber optics).

Buyback
Selain itu, pada tahun lalu perseroan juga melakukan pembelian kembali (buyback) saham untuk 2.550.573.125 lembar saham setara 5% dari jumlah saham yang beredar senilai Rp 1,5 triliun. Perusahaan induk PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), PT Iforte Solusi Infotek, dan KIN tersebut sebelumnya melakukan pemecahan nilai saham (stock split) dengan rasio 5:1.

Direktur Utama Sarana Menara Aming Santoso menjelaskan, tren terakhir memperlihatkan industry telekomunikasi di Indonesia masih terus bertumbuh dan memiliki kebutuhan berkesinambungan untuk berinvestasi pada infrastruktur telekomunikasi.

Menurut manajemen perseroan, harga saham perseroan saat ini belum menggambarkan nilai sesungguhnya dari fundamental perseroan. Dalam tiga tahun terakhir pendapatan perseroan naik hingga 30%, sedangkan harga saham tetap stagnan selama periode tersebut.

“Dengan persetujuan buyback saham ini kami berharap untuk terus dapat berinvestasi di bisnis kami sementara juga melakukan returning value bagi para pemegang saham,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, langkah tersebut juga melengkapi kebijakan dividen perseroan. Pihaknya berencana untuk menyimpan saham hasil pembelian saham di pasar sebagai saham treasury.

“Kami akan mempertimbangkan saham treasury sebagai satu opsi metode pembayaran transaksi apabila ada transaksi akuisisi di masa mendatang,” tuturnya.

Saat ini perseroan melihat beberapa pihak yang tertarik dengan adanya komponen saham sebagai salah satu alat pembayaran atas proses transaksi akuisisi. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES