Program Upsus Jagung Hemat Devisa Rp 31 Triliun i

Andi Amran Sulaimen. (Sumber: twitter)

Oleh : Tri Listiyarini / GOR | Kamis, 8 November 2018 | 16:43 WIB

JAKARTA- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan upaya pemerintah dalam menggenjot produksi jagung nasional melalui program Upaya Khusus (Upsus) Peningkatan Produksi Jagung menuai hasil yang memuaskan. Terbukti, produksi jagung hingga saat ini mampu mencukupi kebutuhan domestik dan sudah diekspor 372 ribu ton. Bahkan, selama tiga tahun pelaksanaan Upsus tersebut, pemerintah berhasil menghemat devisa sekitar Rp 31 triliun.

Mentan Amran menjelaskan, upaya pencapaian swasembada jagung dilakukan Kementan melalui Upsus Peningkatan Produksi Jagung dengan peningkatan indeks pertanaman lahan sawah, penanaman di lahan kering, dan integrasi jagung di lahan sawit. Selain itu dilakukan penanganan pascapanen serta membangun kemitraan antara petani dengan Gabungan Pengusaha Pakan Ternak (GPMT).

“Jika tidak ada program Upsus dan hanya dilakukan program yang biasa-biasa saja, Indonesia diyakini tahun ini dipastikan impor 3,87 juta ton, yaitu 3,50 juta ton impor yang telah dinolkan ditambah 372 ribu ton dari realisasi ekspor 2018. Ini artinya program Upsus Jagung selama tiga tahun bisa menghemat devisa 9,60 juta ton senilai Rp 31 triliun,” kata Mentan.

Melalui Upsus Jagung, pemerintah berhasil melakukan pengurangan impor jagung sejak 2016. Jika pada 2015 total impor jagung 3,50 juta ton, selanjutnya pada 2016 menurun menjadi 1,30 juta ton, dan pada 2017 ditekan lagi menjadi nol impor jagung pakan ternak. Secara kumulatif, impor jagung pakan ternak yang disetop dari 2016 hingga 2018 sejumlah 9,20 juta ton, dengan rincian 2016 menghemat tidak impor 2,20 juta ton, 2017 menghemat tidak impor 3,50 juta ton, dan 2018 menghemat tidak impor 3,50 juta ton. Bahkan, pada 2018 telah dilakukan ekspor 372 ribu ton.

Sejak 2016-2018 sebagian pabrik pakan melakukan upaya-upaya rasionalisasi agar pakan bisa murah dengan mencampurkan gandum sebagai substitusi sebagian jagung. Kenaikan nilai dolar AS membuat pabrik pakan melakukan rasionalisasi dengan menggantikan sebagian komponen bahan pakan semula dari gandum impor menjadi dari jagung lokal. “Akibatnya, izin impor gandum pakan sebanyak 200 ribu ton untuk pabrik pakan besar tidak direalisasikan, namun mereka menggantikannya dengan membeli jagung lokal,” kata dia, Rabu (7/11).

Dampak pengalihan gandum ke jagung oleh pabrik pakan besar mengakibatkan jagung yang biasa diserap peternak kecil mandiri menjadi terserap oleh pabrik pakan besar. Akibatnya, pasokan jagung pakan ternak yang tersedia diserap seluruhnya oleh pabrik pakan besar, kebutuhan total jagung pakan 18 juta ton per tahun atau 1,50 juta ton per bulan dengan di antaranya untuk peternak kecil mandiri sebesar 2,64 juta ton per tahun atau 220 ribu per bulan.

Dampak selanjutnya, kata Amran, pada waktu tertentu peternak kecil tidak memperoleh pasokan. Kondisi inilah yang terjadi pada pertengahan Oktober hingga awal November 2018, ketersediaan jagung bagi peternak kecil berkurang dan harganya menjadi naik tidak terjangkau. Inilah yang membuat para peternak kecil protes berteriak menjerit.

“Dengan memperhatikan teriakan peternak kecil mandiri, pemerintah berupaya hadir menyelesaikan masalah yang ada dengan opsi impor jagung 50-100 ribu ton bagi peternak kecil sebagai tindakan jaga-jaga. Jumlah impor ini sangat kecil dibandingkan prestasi ekspor jagung 372 ribu ton dan setop impor 3,50 juta ton tiap tahun. Jika harga jagung nasional turun, jagung eks impor tidak dikeluarkan ke pasar,” ujar Mentan. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES