Narasi Ekspansi Alipay dan WeChat i

Remon Samora, Analis Bank Indonesia

Oleh : Remon Samora / GOR | Jumat, 11 Januari 2019 | 12:36 WIB

Ibarat gadis cantik yang sedang diincar banyak pria, demikian gambaran Alipay dan WeChat di mata perbankan Tanah Air. Hingga akhir tahun 2018 ada empat bank besar, yakni BCA, BRI, BNI, dan CIMB Niaga yang dikabarkan berminat menjalin kerja sama dengan dua pemain sistem pembayaran asal Tiongkok ini. Kolaborasi tersebut sejalan dengan persyaratan yang digariskan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik.

Selain dilatarbelakangi oleh pemenuhan terhadap ketentuan bank sentral, ketertarikan perbankan domestik terhadap dua penyedia aplikasi pembayaran nontunai ini berkaitan erat dengan besarnya potensi pendapatan nonbunga dari perputaran uang oleh wisatawan Tiongkok. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas masyarakat Negeri Tirai Bambu lebih nyaman bertransaksi secara nontunai menggunakan aplikasi besutan Tencent dan Alibaba.

Badan Pusat Statistik merilis jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia sepanjang Januari- Oktober 2018 sebanyak 1,87 juta. Dengan jumlah rata-rata belanja sebesar US$ 1.000 per orang, total nilai transaksi mencapai Rp 26,18 triliun. Artinya, potensi fee based income yang diperoleh setidaknya mencapai Rp 410 miliar atau sekitar 1,57% dari total nilai transaksi (Bank DBS, 2018).

Di samping itu, peluang ini akan dimanfaatkan perbankan untuk meraup dana berbiaya murah. Pasalnya PBI di atas juga mewajibkan penerbit uang elektronik selain bank untuk menempatkan dana float minimal 30% dalam bentuk giro pada Bank BUKU IV (bank dengan modal inti di atas Rp 30 triliun). Dana float ialah saldo mengendap di uang elektronik yang merupakan kewajiban penerbit kepada pengguna dan pedagang.

Tren QR Code
Ekspansi Alipay dan WeChat ke Indonesia tentu akan semakin meramaikan persaingan bisnis uang elektronik berbasis Quick Response (QR) Code. Apalagi momentum tersebut turut didukung oleh proses penyusunan standardisasi QR Code oleh Bank Indonesia yang akan rampung tahun 2019.

Maka tak heran Kartika Wirjoatmodjo, direktur utama Bank Mandiri memprediksi tahun 2020 akan terjadi perang besar antara pemain QR Code asing dan domestik. Bak gayung bersambut, kehadiran teknologi QR Code disambut antusias oleh para pemain lokal. Perbankan, operator seluler dan usaha rintisan (startup) turut berbondong-bondong mengadopsi inovasi ini untuk mendukung bisnis inti mereka.

Pada April 2018 Bank Indonesia mencatat terdapat 12 perusahaan yang telah mengantongi izin pembayaran berfitur QR Code. Di antaranya adalah Tcash (Telkomsel), Go-Pay (GO-JEK), Ovo (Grup Lippo), dan Yap (BNI).

Dalam konteks lebih luas, tidak dapat dimungkiri bahwa teknologi QR Code akan menjadi tren media pembayaran di masa depan. Fenomena ini sejalan studi Visa (2017) bertajuk “Innovations for a Cashless World: Consumer Desire and the Future of Payments”. Visa menyebut terdapat lima tren pembayaran di masa depan. Salah satunya ialah pergeseran dari penggunaan alat pembayaran berupa kartu menjadi gawai cerdas (smart device). Tren ini turut didukung oleh teknologi QR Code yang memudahkan terjadinya transaksi di manapun.

Perang QR Code sejatinya tidak hanya berlangsung di Indonesia. Fenomena ini justru telah berlangsung sebelumnya di Amerika Serikat. Dalam laporan berjudul “Bolstering Financial Inclusion in Indonesia”, Deloitte (2018) menyebut kehadiran Alipay dan WeChat di Negeri Paman Sam justru memicu adopsi teknologi QR Code dalam skala lebih luas.

Dua aplikasi ini bahkan telah menyulut ketertarikan jaringan toko ritel terbesar di Amerika, Walmart untuk menggunakan teknologi QR Code dalam aplikasi Walmart Pay. Meskipun hanya dibangun dalam sistem closed loop (berlaku hanya untuk pembelian produk dan jasa penerbit), Walmart menyatakan pembayaran dengan aplikasi ini justru meningkat signifikan. Nilai transaksinya ditaksir mengalahkan Apple Pay di pasar Amerika yang notabene telah diluncurkan lebih dahulu.

Transaksi Nontunai
Apabila skenario tren QR Code tersebut berjalan lancar, kehadiran duo raksasa Tiongkok ini diharapkan dapat mendukung Gerakan Nasional Non Tunai yang dicanangkan oleh Bank Indonesia. Keberhasilan Alipay dan WeChat dalam mengubah lanskap sistem pembayaran di Tiongkok menjadi less cash society patut menjadi topik diskursus menarik.

Sebagai perbandingan, mengutip laporan survei “Digital Payments: Thinking beyond Transactions”, PayPal menemukan bahwa 73% penduduk Indonesia masih lebih menyukai transaksi tunai. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata penduduk Asia pada umumnya yang mencapai 57%.

Sementara itu, penduduk Tiongkok hanya 25%. Rendahnya preferensi transaksi tunai Tiongkok didukung oleh tingginya tingkat kesadaran terhadap produk dompet elektronik seperti Alipay dan WeChat, yaitu sebanyak 83% dari jumlah penduduk.

Tidak hanya di Tiongkok, ekspansi dua aplikasi ini ke negara lain juga menuai kisah sukses serupa. Misalnya masuknya Alipay ke Finlandia pada tahun 2016. Aksi korporasi ini awalnya didorong oleh misi menyediakan layanan non tunai bagi wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke sana.

Untuk memuluskan aksi ini, Alipay bekerja sama dengan pemain lokal, ePassi. ePassi berperan sebagai penyedia layanan gerbang pembayaran yang menghubungkan Alipay dengan jaringan merchant di Finlandia.

Layaknya simbiosis mutualisme, kolaborasi ini pada akhirnya memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Alipay meraup kenaikan pendapatan dari sisi pertumbuhan nilai transaksi dan jumlah pengguna aplikasi di luar negeri. Alipay tercatat menjadi penyedia mobile payment terbesar di Finlandia dengan pangsa pasar sebesar 30%.

Di sisi lain, ePassi dapat memperluas jaringan merchant seiring dengan masifnya kunjungan wisatawan Tiongkok ke Finlandia yang diperkirakan naik tiga kali lipat dalam dua tahun. Finlandia kini diklaim sebagai negara pertama untuk mampu menyediakan layanan nontunai secara penuh bagi wisatawan Tiongkok.

Inklusi Keuangan
Ekspansi Alipay dan WeChat ke industri sistem pembayaran Indonesia tentu patut disambut positif sepanjang regulasi telah terpenuhi. Kehadiran kedua aplikasi ini berpotensi menyumbang sejumlah manfaat besar bagi negara kita. Berkaca dari pengalaman di negara lain, keberadaan Alipay dan WeChat terbukti mampu mendongkrak kunjungan wisatawan Tiongkok.

Terlebih lagi saat ini pemerintah sedang berupaya menggenjot penerimaan devisa pariwisata. Praktis kehadiran dua aplikasi ini akan turut mendukung pencapaian ambisi tersebut.

Dari perspektif makro ekonomi, ekspansi Alipay dan WeChat juga diekspektasikan memberikan ekses positif dalam jangka panjang. Yakni menstimulasi pemain baru teknologi finansial pembayaran dan percepatan adopsi teknologi QR Code bagi pelaku UMKM sebagai sasaran antara. Sementara sasaran akhirnya ialah menggapai cita-cita menuju less cash society dan inklusi keuangan yang semakin tinggi dan merata.

Remon Samora, Analis Bank Indonesia

(Tulisan ini adalah pandangan pribadi dan tidak mewakili lembaga tempat bekerja)



Selengkapnya
 
MORE STORIES