Kemtan Kembangkan Teknologi Sulap Rawa Jadi Sawah i

Varietas padi di lahan rawa Inpara 2.

Oleh : / HA | Jumat, 12 Oktober 2018 | 18:53 WIB
Kategori :

Jakarta - Kementerian Pertanian (Kemtan) tengah mengembangkan lahan rawa sebagai areal tanam baru dengan memanfaatkan potensi lahan rawa sekitar 9,53 juta hektare (ha).

Pengembangan lahan rawa menjadi tema sentral pada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 yang akan digelar di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 18-21 Oktober 2018 nanti. Akan ada 4.000 hektare lahan rawa yang dikembangkan di Kalsel, sekitar 750 ha sudah diolah lahan dan ditanami, dan direncanakan siap dipanen langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Kepala Balai Penelitian Lahan Rawa (Balittra) Hendri Sosiawan mengatakan saat ini lahan sawah irigasi hanya seluas 8,1 juta ha, masih perlu pengembangan areal tanam baru seperti lahan kering 144,5 juta ha, rawa lebak 25,2 juta hektare, dan lahan pasang surut 8,9 juta ha. Meski masih luas, tidak semua lahan itu cocok untuk pertanian.

"Lahan rawa di Indonesia punya karakteristik ekosistem secara alami bersifat rapuh (fragile). Hal ini disebabkan berbagai cekaman abiotik seperti keracunan zat besi, kadar asam yang rendah, rendaman, salin serta rentan terhadap serangan penyakit blast," kata Hendri dalam keterangan tertulis yang dterima redaksi, Jumat (12/10).

"Tantangan penanganan lahan rawa yang belum tersentuh teknologi memang bukan pekerjaan mudah, tetapi butuh kesabaran dan kecermatan dalam pengelolaanya."

Untuk mengoptimalkan lahan rawa perlu teknologi pengelolaan lahan yang tepat dan terpadu serta penggunaan varietas padi yang adaptif di lingkungan rawa. Hingga 2017, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mendukung pengembangan pertanian di lahan rawa dengan mempersiapkan aneka inovasi, termasuk dengan menghasilkan 35 varietas unggul padi yang adaptif di lahan pasang surut dan rawa lebak.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Priatna Sasmita mengatakan varietas-varietas tersebut dirakit untuk mengatasi permasalahan utama di lahan rawa.

"Pada Gelar Inovasi Teknologi (Geltek) yang menjadi rangkaian HPS, Balitbangtan ingin menunjukkan kepada petani dan masyarakat luas bahwa varietas unggul padi rawa punya potensi untuk dikembangkan dan bahkan bisa ditiru di ekosistem lahan rawa di provinsi lain," jelasnya.

Sementara itu, Peneliti BPTP Balitbangtan Kalsel Rina Dirgahayu menjelaskan bahwa saat ini demonstration farming (demfarm) padi rawa seluas 60 hektare di Geltek HPS menampilkan empat varietas inbrida padi rawa (Inpara) yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9, sedangkan untuk padi sawah irigasi/tadah hujan yang juga ditanam varietas Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan.

“Kondisi tanaman antar varietas saat ini bervariasi, ada yang sedang berbunga hingga fase pengisian biji. Performa tanaman sangat bagus sehingga menjadi daya tarik petani setempat,” jelas Rina.

Pemulia di BB Padi, Indrastuti A Rumanti, mengatakan sejauh ini BB Padi bersama dengan peneliti BPTP Balitbangtan Kalsel menyiasati kondisi lahan yang kompleks ini dengan sejumlah modifikasi, yakni dengan penggunaan mikroba (Agrimeth) untuk meningkatkan vigor benih, ameliorant (kapur pertanian) untuk meningkatkan pH tanah, biotara (bahan organik khusus untuk rawa), dan penerapan sistem tanam jajar legowo 2:1 untuk meningkatkan populasi.

Lalu digunakan juga biosilika untuk meningkatkan ketahanan varietas terhadap serangan hama/penyakit, penanaman refugia untuk meningkatkan musuh alami, trap barrier system (TBS), pengomposan dan umpan racun untuk pengendalian tikus, penggunaan insektisida dan fungisida selektif untuk pengendalian hama/penyakit, penerapan tata air mikro menggunakan sistem aliran satu arah untuk mencuci racun mineral, dan pemupukan menggunakan PUTR modified berupa penambahan kalium yang sangat diperlukan di lahan rawa.

“Beberapa kendala yang terakhir terjadi antara lain kekeringan dan pH rendah yang berpengaruh pada keluarnya malai. Namun semua itu bisa diatasi dengan meningkatkan kandungan pH air yang dimasukkan ke petak pertanaman," tambah Indrastuti.

Pengelolaan pertanaman yang optimal dan pemberian treatment modifikasi telah berhasil mengatasi cekaman-cekaman yang terjadi. Saat ini Inpara 2, Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 sudah berumur 90-95 hari HSS (Hari Setelah Semai) dan mulai memasuki fase pengisian, sedangkan Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9 Agritan masih memasuki fase pembungaan.



Selengkapnya
 
MORE STORIES