BTN Siap Ambil Pembiayaan Perumahan bagi MBR i

Global Business Summit yang diselenggarakan Asosiasi Real Estate Sedunia (FIABCI) di Nusa Dua, Bali, Kamis (6 Desember 2018).

Oleh : Imam Muzakir / GOR | Jumat, 7 Desember 2018 | 00:11 WIB

NUSA DUA- Minimnya anggaran pemerintah yang hanya mampu 20% untuk pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk siap menjadi integrator dalam menggerakkan sektor riil melalui pembiayaan perumahan bagi masyarakat kelas bawah.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, Perseroan berkomitmen untuk membantu pemerintah mewujudkan program rumah rakyat pada tahun depan dan saat ini BTN telah mampu membiayan rumah sekitar 4,2 juta unit yang mendapat dukungan pembiayaan dari Bank BTN.

“Kami telah menjadi market leader untuk bisnis pembiayaan perumahan (KPR). Bahkan untuk KPR Bersubsidi kita mencapai 94%,” ungkap Maryono disela Global Business Summit yang diselenggarakan Asosiasi Real Estate Sedunia (FIABCI) di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12).

Menurut Maryono, pada tahun ini Bank BTN memiliki target pembiayaan perumahan mencapai 750 ribu rumah. Dan itu optimis tercapai, sehingga pada tahun depan akan ditingkatkan menjadi 850 ribu. “Kebutuhan akan perumahan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kelas menengah. Dan untuk itu peran para pengembang terus dibutuhkan,” ujarnya.

Pemerintah tambah Maryono, saat ini memiliki Program Satu Juta Rumah guna memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat yang terus bertumbuh. BTN sebagai salah satu pendukung dari keseluruhan ekosistem industri perumahan membantu dari sisi pembiayaan, para pengembang membantu dari sisi penyediaan pasokan. Dan pemerintah pusat membantu dari sisi kebijakan dan pengalokasian subsidi bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR).

“Penyediaan perumahan tidak hanya urusan bank sebagai penyedia pembiayaan atau pengembang sebagai supplier. Tapi itu juga butuh peran pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan iklim usaha yang kondusif dengan perijinan yang ramah,” jelasnya.

Selain dalam upaya terus meningkatkan penyaluran KPR, Bank BTN terus mengembangkan potensi pasar yang ada dengan bergerak ke area digital. Bahkan untuk melayani segmen milenial, perseroan juga telah meluncurkan KPR milenial.

“Keterjangkauan BTN melalui outlet laku pandai, digital banking serta kerjasama dengan stakeholder tentunya akan memperkuat sumber pembiayaan,” ujarnya.

Berdasarkan data penyaluran KPR yang dilakukan BTN untuk MBR dalam program satu juta rumah mulai tahun 2015 terus mengalami peningkatan. Jika ditotal sejak 2015 hingga akhir September 2018, BTN telah menyalurkan KPR sebanyak 2.311.421 unit senilai Rp242,918 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari KPR subsidi sebanyak 1.571.740 unit senilai Rp106,523 triliun dan KPR non-subsidi mencapai 739.681 unit senilai Rp136,395 triliun.

Pencapaian Program Sejuta Rumah BTN dari tahun ke tahun terus meningkat, jika pada tahun 2015 KPR yang disalurkan perseroan baru mencapai 474.099 unit senilai Rp52,452 triliun, maka tahun 2016 penyaluran KPR mengalami kenaikan signifikan menjadi 595.566 unit senilai Rp63,995 triliun. Kemudian angkanya kembali naik pada 2017 sebanyak 667.312 unit senilai Rp71,538 triliun.

Presiden Asosiasi Real Estate Sedunia (FIABCI) Asia Fasifik Soelaeman Soemawinata mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi oleh negara dalam penyediaan rumah rakyat yang murah adalah soal pendanaan jangka panjang yang murah. Sehingga masyarakat mampu memiliki hunian yang terjangkau dan berkualitas.

“Peran pembiayaan ini sangat penting bagi pengembang dalam mengembangkan rumah rakkyat,” kata Eman. Karena itu peran perbankan sangat dibutuhkan bagi pengembang untuk membangun rumah rkayat di seluruh Indonesia.

Sementara itu Senior Housing Specialis World Bank, Dao Harison mengungkapkan dalam era digital inovasi teknologi yang membantu menciptakan pasar baru (disruptive innovation) dalam membantu pemerintah Indonesia untuk pengembangan rumah terjangkau.

“Saya melihat dari sisi pengembangan pembiayaan, tujuan ini agar masyarakat mendapatkan rumah layak terjangkau artinya sesuai standar dan Indonesia berada di cincin api, maka diperlukan keamanan,” ujarnya.

Ditambahkan, dengan pengembangan tekonologi juga bisa membuat rumah Hijau. Bank dunia juga sudah memiliki teknologi dalam pembangunan gedung agar bisa tahu seberapa besar hijaunya. Teknologi bisa membantu, bagaimana untuk bekerja, ini bukan sekedar profesi tapi juga perubahan," tegas Dao Harison. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES