Ronald Andi Kasim: Rasa Memiliki Lahir dari Rasa Saling Menghormati i

Ronald Andi Kasim, Country Director Trusting Social Indonesia. (Sumber: Investor Daily/EMRAL)

Oleh : / GOR | Jumat, 7 Desember 2018 | 08:42 WIB

Rasa memiliki (sense of belonging) selalu ada di urutan teratas kunci sukses sebuah perusahaan. Semakin besar sense of belonging para karyawan terhadap perusahaan, semakin besar pula peluang perusahaan itu untuk berkembang karena segenap karyawan akan sepenuh hati mendedikasikan dirinya kepada perusahaan.

Apa saja yang bisa membuat karyawan memiliki sense of belonging terhadap perusahaan? Fasilitas dan gaji (sallary) jelas termasuk di antaranya. Tapi jangan lupa, rasa hormat (respek) timbal balik antara bawahan dan atasan juga bisa membangkitkan rasa memiliki terhadap perusahaan.

“Rasa memiliki, menurut saya, adalah salah satu unsur paling penting dalam mencapai kesuksesan bagi sebuah perusahaan. Rasa memiliki membuat kita selalu bersemangat dan bekerja optimal,” kata Ronald Andi Kasim kepada tim Investor Daily di Jakarta baru-baru ini.

Karena alasan itu pula, Ronny –panggilan akrab Ronald Andi Kasim-- selalu membudayakan rasa hormat kepada anak buah atau teman sejawat, di mana pun ia bekerja, termasuk di PT Trusting Social Indonesia, perusahaan credit score yang kini dipimpinnya. Budaya perusahaan (corporate culture) berlandaskan saling menghormati memang sudah identic dengan gaya kepemimpinan (leadership) Ronald Andi Kasim, yang lama berkarier di industri keuangan.

”Saya memperlakukan bawahan sebagai rekan kerja. Sebagai pemimpin, saya respek kepada mereka, maka mereka juga akan menaruh respek kepada saya. Jika perusahaan ingin maju, harus ada rasa memiliki di kalangan karyawan. Rasa memiliki lahir dari rasa hormat,” papar dia.

Berbekal rasa hormat dan rasa memiliki, Ronny sedang menggapai salah satu impian yang telah lama dipendamnya, yaitu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di segala lapisan dengan cara membuka akes pendanaan bagi mereka. Obsesi pribadi itu bakal diwujudkannya bersama Trusting Social Indonesia, yang terafiliasi dengan Trusting Social Singapura dan telah beroperasi di sejumlah negara.

Trusting Social memiliki teknologi kecerdasan artifisial yang bisa menganalisis kebiasaan seseorang berdasarkan data telepon genggamnya. Dari hasil analisis data-data itu, seseorang bisa saja mendapatkan rekomendasi kredit meski sebelumnya dinyatakan tidak layak mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan (tidak bankable).

Ronny mengaku prihatin melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang belum mendapat akses pembiayaan dari lembaga keuangan, khususnya perbankan. Berdasarkan survey Bank Dunia, hanya 36% atau sekitar 90 juta penduduk dewasa Indonesia yang memiliki rekening di bank. Itu artinya ada 170 juta lebih masyarakat di Tanah Air yang belum bisa mengakses pembiayaan dari perbankan.

Apa saja upaya Ronald Andi Kasim untuk mewujudkan mimpinya? Apa pula target Trusting Social Indonesia yang juga tercatat sebagai penyelenggara financial technology (fintech) berbasis sistem pembayaran? Berikut penuturan lengkap eksekutif yang pernah memimpin PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan PT Pefindo Biro Kredit tersebut:

Anda pernah berkarier di mana saja?
Setelah lulus SMA, saya kuliah di Amerika Serikat (AS) mengambil finance and banking, baik untuk bachelor maupun master. Setelah selesai, saya kembali ke Indonesia pada 1994. Kebetulan saat itu Pefindo baru didirikan. Saya termasuk analyst rating yang pertama bergabung. Pada 1998, Indonesia terkena krisis moneter. Saya kembali ke AS untuk mencari kerja. Saya dapat pekerjaan di First National Bank of Omaha (di Omaha, Nebraska). Saya di sana sampai lima tahun. Kemudian perusahaan di-spin off menjadi divisi investment banking, karena aturan di sana mewajibkan pemisahan kegiatan bank reguler dengan investasinya.

Setelah itu saya pindah ke perusahaan konsultan manajemen risiko, masih di AS, tapi di kota Arizona. Tugasnya memberikan one stop solution untuk manajemen risiko. Di sana sekitar empat tahun. Selanjutnya saya diajak pindah ke Fermat, yang kantor representatifnya di Dubai. Lalu saya diminta membantu mengurus klien di Asia, sehingga akhirnya saya gabung ke Fermat cabang Singapura. Waktu saya di sana, perusahaan diakuisisi Moody’s Investors Service. Salah satu proyek saya adalah membantu Standard Chartered di Singapura dan saat itulah saya berkenalan dengan manajemen Bank Permata. Saat itu mereka sedang memperbaiki sistem manajemen risiko. Saya ditugaskan untuk membantu. Kemudian pada 2008, saya bergabung dengan Bank Permata.

Setelah itu saya bertemu pendiri Pefindo. Saya ditawari kembali ke Pefindo. Pada 2010, melalui rapat umum pemegang saham (RUPS), saya ditunjuk menjadi Direktur Utama Pefindo hingga 2015. Lantas Pefindo diminta mendirikan biro kredit pertama di Indonesia, seperti lembaga pengelola infomasi perkreditan. Maka didirikanlah lembaga baru, supaya data yang diberikan otoritas bisa dikelola secara professional oleh suatu entitas. Tapi entitas ini juga diatur dan diawasi otoritas. Pefindo diminta mungkin karena Pefindo juga berhasil menjaga data-data rahasia yang dikelolanya.

Akhirnya didirikanlah Pefindo Biro Kredit. Hingga Maret 2017, tugas saya selesai. Pefindo Biro Kredit sudah memiliki sekitar 100 anggota lembaga keuangan. Baru setelah itu saya bergabung ke Trusting Social.

Yang membuat Anda tertarik untuk bergabung?
Produk utama Trusting Social adalah credit score. Sesuai filosofi yang saya pegang, saya ingin berbuat sesuatu yang disruptive system secara positif. Dulu kan konsentrasinya lebih ke sebuah perusahaan. Apa yang terjadi di perusahaan, terutama perusahaan terbuka, bagaimana agar mereka di-cover oleh lembaga independen, sehingga lebih dikenal untuk mendapatkan pinjaman.

Sekarang lebih ke individu, masyarakat secara personal. Statistik menunjukkan sekitar 70% masyarakat kita belum menikmati perkreditan atau pembiayaan yang disediakan bank atau perusahaan pembiayaan (multifinance). Banyak yang masih memakai jasa tengkulak, padahal dana yang mereka butuhkan mungkin tidak banyak. Intinya, masyarakat tidak memiliki akses untuk mendapatkan pinjaman dalam jumlah kecil dan jangka waktu pendek dari lembaga keuangan. Jadi, sebagian besar masih pinjam ke rentenir.

Alasan utama kenapa bank dan multifinance di Indonesia belum bisa memberikan perkreditan kepada masyarakat tertentu adalah tidak adanya informasi tentang individu. Misalnya seorang pedagang pasar, mungkin dari sisi usia sudah berumur, dari pengalaman berdagangnya sudah puluhan tahun. Tapi dia belum pernah mendapatkan fasilitas pinjaman, makanya belum ada bank yang memberikan.

Ini kan seperti ayam dan telur, yang mana duluan. Hanya satu hingga dua bank yang berani ambil risiko. Nah, lewat alat yang kami punya, ada informasi tentang calon debitur tersebut. Informasi ini mestinya cukup bagi bank atau perusahaan multifinance untuk memproses fasilitas kreditnya.

Ada semacam tantangan idealisme?
Kalau menganalisa individu layak atau nggak mendapat kredit, sekarang kan hanya dilihat dari aktivitas kreditnya seseorang. Kalau ia sudah memiliki kartu kredit, tinggal dilihat performa pembayarannya. Kalau bayarnya lancar, dia bisa dengan mudah mendapatkan kredit baru. Masalahnya, di Indonesia, dari 130 juta masyarakat dewasa, mungkin hanya 30 juta yang datanya dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Masih ada 90-100 juta orang yang data aktivitas pembayarannya belum ada. Kalau hanya mengacu pada aktivitas pembayaran (payment behavior), masyarakat bawah tidak bisa dilayani. Ini mimpi saya, bagaimana caranya agar kelompok masyarakat tersebut bisa mendapaatkan akses pembiayaan. Setelah bertemu founder Trusting Social, saya tahu ternyata sudah ada alat dan solusi melalui teknologi kecerdasan artifisial yang bisa menganalisis kebiasaan seseorang dari data telepon genggamnya. Informasi data yang dikelola perusahaan komunikasi cukup kaya, bukan hanya masalah kapan beli pulsa, tapi juga lokasi, siapa yang suka dikontak, semua terekam.

Itu yang kami analisis. Kami akan menganalisis secara anonim. Jadi, indentitasnya tidak terekspos, sehingga ada acuan yang bisa dipakai untuk credit scoring. Bukan berdasarkan aktivitas pembayaran, tapi kebiasaan alternatif.

Apa yang menarik dari industri keuangan?
Saya tertarik menganalisis keuangan karena ada gabungan keahlian dan ilmu dalam melihat angka-angka di laporan keuangan. Selain itu, ada seni tersendiri untuk memahami angka-angka tersebut. Kami kan sering berinteraksi dengan manajemen dan pemilik, sehingga harus bisa memahami arti di balik angkaangka laporan keuangan. Seninya di sana, dan saya menyukainya.

Gaya kepemimpinan Anda?
Saya banyak belajar dari para pimpinan saya terdahulu. Yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika bekerja di Bank of Omaha. Pimpinan saya berbeda dengan tipikal pemimpin yang lain. Kalau kita masih baru kan bukan hanya respek yang dicari, tapi juga unsur ketakutannya. Zaman dulu, mana ada yang berani pulang lebih dulu dari bosnya. Bos saya dulu tidak memperlakukan saya seperti anak buah, tapi lebih ke rekan kerja. Ia menghargai saya tidak hanya yang berhubungan dengan pekerjaan, tapi juga di luar perusahaan.

Saya Islam dan minoritas di sana, tapi atasan saya mencoba memahami kebutuhan saya beribadah salat lima waktu, kemudian dia berinisiatif menyiapkan ruangan kecil untuk salat. Kuncinya bukan hanya memberikan perintah, tapi juga mendengar serta memiliki pikiran terbuka dan respek. Itu yang ingin saya terapkan di perusahaan yang saya pimpin. Saya memperlakukan bawahan sebagai rekan kerja. Sebagai pemimpin, saya respek kepada mereka, sehingga saya juga mendapatkan respek balik dari mereka. Rasa hormat akan menumbuhkan rasa memiliki di kalangan karyawan, terhadap perusahaan.

Di sini kami tidak memusingkan harus datang jam 08.00 atau pulang jam 17.00, yang penting profesional. Kalau tidak ada rapat kantor, silakan kerja dari rumah atau tempat lain. Yang penting pekerjaan diselesaikan tepat waktu dan kualitasnya sesuai dengan yang ditetapkan. Tapi kami sangat memperhatikan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sejak proses rekrutmen, kami sudah harus memastikan bahwa yang akan bergabung dengan kami adalah SDM-SDM jempolan.

Kunci keberhasilan Anda?
Kunci keberhasilannya adalah rasa saling memiliki terhadap perusahaan, terhadap pekerjaan, terhadap teman-teman kerja. Itu yang membuat saya selalu bersemangat.

Target Anda untuk perusahaan?
Trusting Social ditargetkan menjadi entitas yang mendominasi layanannya di suatu negara. Kami ada di Vietnam, Filipina, dan India. Dalam waktu dekat, kami juga akan ada di Bangladesh. Kalau kami masuk di skor kredit berdasarkan kebiasaan alternatif, kami ingin mendominasi dalam arti positif. Artinya, produk kami menjadi acuan dan layanan, dipakai oleh mayoritas pasar, dalam hal ini lembaga keuangan.

Untuk itu, kami harus memastikan punya SDM terbaik. Karyawan yang bergabung hari ini, kualitasnya harus lebih bagus dibandingkan yang kami rekrut enam bulan lalu. Dengan begitu, kami harapkan terjadi kompetisi yang sehat dan semua terdorong untuk berprestasi. SDM yang ideal bekerja di perusahaan kami adalah yang menyukai tantangan. Bidang teknologi dan keuangan membutuhkan individu yang dinamis. Bukan hanya multitasking, tapi siap brainstorming juga.

Misi Anda untuk perusahaan?
Misi kami adalah memberikan skor kredit kepada 1 miliar penduduk dunia. Indonesia kan 260 juta dan India mendekati 1 miliar, Filipina 78 juta, jumlah penduduk Bangladesh juga banyak. Target kami, pada 2020 Trusting Social sudah memberikan skor kredit kepada 1 miliar penduduk di lima negara yang kami masuki. Dengan skor kredit yang diberikan, mereka langsung bisa terekspos oleh lembaga keuangan Negara masing-masing untuk layak diberikan bantuan. Tanpa credit insight, tidak ada satu pun bank di dunia ini yang mau memberikan fasilitas perkreditan.

Kami layaknya roket yang sedang meluncur ke satu destinasi dengan cepat dan semua harus siap. Target yang kami tetapkan sepertinya akan kami capai lebih cepat, bahkan kemungkinan pada 2019 sudah tercapai. Kalau sudah tercapai, kami akan coba melayani negaranegara yang mirip Indonesia, di mana sebagian besar masyarakatnya belum bisa menikmati perkreditan dari lembaga pembiayaan.

Kendala yang Anda hadapi?
Saya rasa lebih dari sisi lembaga keuangan. Pertama, lembaga keuangan kaget, ternyata ada alat selain kebiasaan pembayaran. Mereka tidak siap. Ini yang butuh waktu bagi lembaga keuangan Indonesia. Sebagian besar teman-teman di lembaga keuangan selalu mengacu pada payment behavior.

Bagaimana mungkin memberikan kredit padahal calon debiturnya tidak punya rekam jejak? Kalau selalu berpikiran begitu, seseorang tidak akan mendapatkan bantuan pendanaan. Dengan adanya skor kredit dari kami, seseorang yang belum pernah mendapatkan kredit bisa punya skor kredit yang bagus, sehingga layak diberikan pinjaman. Kami sudah goal dengan sembilan lembaga keuangan. Mereka merasa nyaman.

Bagaimana Anda membagi waktu pekerjaan dengan keluarga?
Saya tidak pernah membawa isu kantor ke rumah. Bukan dibuat-buat, tapi memang secara natural. Saya tidak merasa nyaman kalau mengeluhkan pekerjaan kepada istri dan anak-anak. Begitu juga sebaliknya, urusan keluarga tidah boleh terekspos di tempat kerja. Saya rasa, itu kurang elok.

Kalau ada waktu senggang, kami liburan bersama, lepas dari urusan pekerjaan, sehingga kami benarbenar menikmati liburan. Kalau kantor butuh bantuan, saya akan layani, tapi jangan sampai merusak liburan. Itu penting untuk menjaga waktu berkualitas dengan keluarga, jangan cari uang saja. Saya percaya pada pentingnya keseimbangan. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES