Joseph Aditya: Sukses Butuh Proses i

Joseph Aditya, Chief Executive Officer (CEO) Ralali.com. (Sumber: IST)

Oleh : Edo Rusyanto / GOR | Senin, 11 Februari 2019 | 23:23 WIB

Sukses tidak datang tiba-tiba. Keberhasilan tidak bisa diperoleh secara instan. Ada proses panjang dan berliku untuk mewujudkannya. Keberhasilan yang diperoleh melalui cara-cara instan biasanya tidak mampu bertahan lama. Sebaliknya, keberhasilan yang diperoleh melalui kerja keras umumnya langgeng berkelanjutan.

“Untuk memperoleh sesuatu, kita harus bekerja. Harus ada proses untuk mencapai kesuksesan,” kata Joseph Aditya, chief executive officer (CEO) Ralali.com.

Rupanya, nilai-nilai kesuksesan itu adalah pesan yang disampaikan orang tua Joseph sewaktu ia kecil. Pesan tersebut amat membekas di hatinya hingga kini. Nilai-nilai itu pula yang diterapkan Joseph selama menekuni bisnis perdagangan secara elektronik (e-commerce).

“Nilai-nilai yang diajarkan orang tua membuat saya bekerja lebih keras dan lebih banyak,” tutur dia.

Menekuni bisnis marketplace B2B (business to business) sejak 2013, Joseph yang lahir dari keluarga pedagang elektronik di Semarang, sempat jatuh bangun. Banyak orang terdekatnya yang bingung dengan gagasan skema bisnis yang dilontarkan Joseph.

Kerja keras Joseph Aditya tak sia-sia. Menakhodai Ralali.com sejak Juli 2014, Joseph terbilang sukses. Omzet Ralali yang semula Rp 10-15 miliar per tahun terus merangkak naik hingga mencapai Rp 2 triliun pada 2018. Ralali bahkan mulai melebarkan sayap bisnisnya ke Thailand.

Berikut penuturan lengkap pria kelahiran Semarang, 25 Agustus 1984 itu kepada wartawan Investor Daily Edo Rusyanto di Jakarta, baru-baru ini:

Bisa dijelaskan apa itu Ralali.com?
Ralali.com adalah online B2B (business to business) marketplace yang memberikan kemudahan proses transaksi jual-beli melalui teknologi dan fitur yang dapat membantu penjual dan pembeli melakukan proses bisnis secara lebih mudah, aman, dan transparan. Kami menghubungkan pembeli, baik korporat maupun individu, dalam menemukan ribuan produk untuk kebutuhan bisnis dan perusahaan dari ratusan supplier ternama dan terpercaya.

Ralali.com didirikan pada 2014. Kami memiliki 11 ribu vendor terpercaya, 135 ribu pelanggan, 250 ribu produk, dan 2 juta pengunjung dari seluruh Indonesia setiap bulannya. Pada 2016, Ralali.com bertransformasi ke pasar bisnis online atau Ralali 2.0 dengan lebih banyak kategori, seperti hotel, restoran, dan kafe (Horeka), otomotif, elektronik, komputer dan komunikasi, kecantikan, alat kantor, bahan bangunan, dan lainlain. Kami fokus ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kami menyadari bahwa setiap UMKM memiliki kebutuhan dan tantangan tersendiri. Karena itu, model bisnis yang unik dibutuhkan untuk memberikan solusi yang tepat bagi setiap segmen. Pada 2018, Ralali.com memperkenalkan pasar online vertikal atau Ralali 3.0 Bisnis Inovasi Grup (BIG), di mana Ralali.com lebih mendalami siapa pelanggan kami. Kami menggunakan big data untuk memberikan solusi kepada UMKM agara kebutuhan bisnis mereka terpenuhi.

Kenapa fokus ke segmen UMKM?
Kami punya misi lain ketika memilih UMKM sebagai fokus bisnis, yakni mendorong mereka lebih maju. UMKM yang kami bina diharapkan mampu berkinerja lebih baik sehingga mereka dapat meningkatkan profitnya, selain tentu saja agar mereka mendapatkan akses yang mudah dan mampu mengembangkan diri.

Kami juga mendorong agar UMKM mendapatkan harga yang murah ketika membeli barang untuk meningkatkan usahanya. Untuk mewujudkan semua itu, kami membuat aplikasi BIG Agent yang saat ini dimanfaatkan oleh 2.000 mitra UMKM. Kami menargetkan dapat 25 mitra setiap kuartal. BIG bertujuan mempermudah pencarian barang di marketplace. Ralali.com memiliki lima kategori BIG, yakni auto, home, market, office, dan resto.

Tantangan terbesarnya adalah bahwa sebagian besar UMKM belum menjadikan belanja daring sebagai habit (kebiasaan). Untuk itu, kami juga membuat gathering, kursus, dan pelatihan bagi mitra untuk kalangan UMKM. Kami menyediakan pendampingan bagi mereka. Jadi, kami menggarap pasar UMKM bukan untuk mendongkrak omzet atau meraih kuntungan Ralali.com semata. Kami juga ingin tumbuh bersama para pelaku UMKM tersebut.

Sebesar apa potensi segmen UMKM?
Potensi UMKM sangat besar. Di Indonesia, kami bermitra dengan 300 ribu UMKM saat ini. Dari jumlah itu, sekitar 20%-nya cukup aktif bertransaksi. Kami memutuskan fokus menggarap segmen UMKM sejak 2016.

Hanya fokus di Indonesia?
Kami mulai ekspansi ke Thailand. Jadi, kami go international. Segmen yang kami sasar tetap UMKM. Awalnya mereka juga bingung dan bertanya kenapa Ralali.com menjadikan UMKM sebagai target. Seperti di Indonesia, UMKM di Thailand sangat menjanjikan.

Strategi yang Anda siapkan?
Kami menggandeng mitra setempat. Thailand memang tujuan ekspansi global kami yang pertama. Mitra kami di Thailand yaitu kelompok Siam Cement Group. Kami akan merealisasikan kerja sama pada kuartal II atau kuartal III-2019. Kemitraan memudahkan kami memasuki pasar negara yang kami sasar. Tentu kami akan terbantu oleh mitra lokal yang memahami kondisi pasar setempat. Kami sudah siapkan aplikasi Big Thailand.

E-commerce adalah pilihan karier Anda sejak awal?
Awanya saya dipercaya memimpin PT Tridinamika Jaya Instrument, perusahaan perdagangan alat industri. Ketika tempat saya bekerja menghadapi kesulitan pada 2013, muncul pemikiran bahwa saya harus punya pegangan baru untuk masa depan saya.

Pilihan saat itu adalah dunia perdagangan, namun bedanya lebih transparan dan efisien, yakni dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI). Saya mendirikan Industrologi.com. Setelah itu saya mengembangkan Ralali.com. Sebenarnya ide memanfaatkan TI sudah saya rintis sewaktu saya bekerja sebagai eksekutif di perusahaan lama. Jadi, saya masuk bisnis market place bukan kebetulan.

Perbedaan mendasar antara berjualan secara of fline dan online?
Ketika berjualan alat industri secara langsung atau konvensional (offline), banyak hal yang tidak transparan, termasuk soal harga. Namun, saat memanfaatkan TI, transparansi terjaga, selain tentu lebih efisien dan efektif. Misalnya konsumen dimudahkan dalam mencari beberapa vendor dalam waktu nyaris bersamaan.

Untuk urusan diskon harga juga lebih transparan sehingga peluang bermain dengan angka bisa direduksi. Awalnya, kami berdagang alat-alat atau mesinmesin industri, namun saat ini barang yang dijual lebih banyak lagi ragamnya. Tidak hanya alat industri.

Pandangan Anda tentang UMKM?
Selama 10 tahun bersekolah di luar negeri, saya melihat kondisi atau kehidupan bangsa di luar sana, termasuk bagaimana kemajuan dan perekonomian mereka. Saya terinspirasi untuk kembali ke Tanah Air.

Setahu saya memang banyak yang setelah lama di luar negeri enggan kembali ke Tanah Air karena merasa lebih nyaman di luar negeri. Namun, saya berpikir, kenapa tidak kembali ke Indonesia untuk dapat tumbuh, berkembang, serta memajukan bangsa sendiri. Karena itu pula, kami fokuskan bisnis Ralali.com sejak 2016 ke segmen UMKM.

Anda juga mengalami jatuh bangun?
Awal saya membangun bisnis tidak mudah. Modal awal berkisar Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Modal tersebut hasil patungan dengan kakak saya. Tapi dalam perjalanan, suntikan modal berdatangan dari mitra bisnis kami. Misalnya pada 2014 dan 2015 ada suntikan modal dari perusahaan Jepang, nilainya sekitar Rp 5 miliar dan Rp 33 miliar.

Kemudian pada 2016, kami juga mendapat mitra dari Yahoo Jepang dengan investasi US$ 4 juta. Terkakhir pada 2018, kami mendapat suntikan modal dari mitra kami dari Thailand, yaitu Siam Cement Group, senilai US$ 7 juta. Modal yang berdatangan dari mitra asing itu kami manfaatkan untuk investasi, khususnya pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Sekitar 50% anggaran investasi kami gunakan untuk meningkatkan kualitas SDM.

Apa salah satu kunci sukses Ralali.com?
Salah satunya adalah kerja sama tim. Membangun semangat kerja tim terus kami lakukan. Mulai dari jumlah karyawan yang sedikit hingga dalam jumlah besar. Dari sisi jumlah karyawan, saat awal membangun Ralali.com, kami hanya berlima, namun pada 2019 ini karyawan kami sudah mencapai 300 orang. Tentu cara mengelolanya lebih kompleks lagi.

Cara Anda membangun tim yang andal?
Konsep yang kami terapkan dalam membangun kerja sama tim di kantor adalah menempatkan tim layaknya keluarga. Ibarat keluarga, ada peran ayah, ibu, kakak, dan adik. Maksudnya, ibarat keluarga, kami saling menasihati demi mencapai tujuan bersama.

Dialog dengan karyawan atau tim selalu dilakukan. Kami juga harus menerapkan transparansi. Dialog kami mencakup banyak hal, termasuk mengomunikasikan kondisi perusahaan secara apa adanya. Di bagian lain, tentu saja sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment) juga diterapkan. Penghargaan bagi yang berprestasi dan sanksi tegas bagi yang melanggar peraturan perusahaan.

Nilai-nilai yang Anda tanamkan kepada karyawan?
Saya selalu tekankan bahwa sukses tidak datang tiba-tiba, ada proses panjang untuk mewujudkannya. Sukses membutuhkan proses. Untuk memperoleh sesuatu, kita harus bekerja. Nilai-nilai ini saya dapatkan dari orang tua saya. Pesan orang tua saya itu membuat saya bekerja lebih banyak.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?
Saya punya anak berusia lima dan dua setengah tahun. Tentu waktu bersama keluarga amat berharga. Salah satu upaya saya membangun kebersamaan dalam keluarga adalah mengajak istri dan anak saya untuk tahu apa yang dikerjakan bapak atau suaminya di perusahaan. Sesekali saya mengajak mereka ke kantor untuk melihat aktivitas saya. Kehadiran mereka di kantor sebaliknya juga mendongkrak semangat saya dalam bekerja demi keluarga.

Saya juga punya agenda berwisata bersama saat libur. Selain itu, kami selalu pergi ibadah ke gereja bersama-sama. Sekalipun pada akhir pekan saya libur bersama keluarga, saya tetap membuka diri berkomunikasi dan berkoordinasi untuk urusan pengembangan bisnis perusahaan. Tentu komunikasi dan koordinasi tesebut tidak menyita waktu bersama keluarga. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES