Emisi Obligasi dan Sukuk Capai Rp 4,1 Triliun i

Ilustrasi obligasi (surat utang)

Oleh : Rahajeng KH / GOR | Selasa, 12 Februari 2019 | 08:59 WIB

JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total emisi obligasi dan sukuk sepanjang 2019 mencapai Rp 4,11 triliun. Penerbitan obligasi dan sukuk berasal dari tujuh emiten yang terdiri atas sembilan emisi.

Dengan demikian, maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 387 emisi dengan nilai outstanding sebesar Rp 413,67 triliun dan US$ 47,5 juta. Surat utang itu diterbitkan oleh 117 Emiten.

Sementara itu, surat berharga negara (SBN) yang tercatat di BEI sebanyak 100 seri dengan nilai nominal Rp 2.430,01 triliun dan US$ 400 juta, serta EBA sebanyak 11 emisi senilai Rp 9,55 triliun.

Adapun obligasi terbaru yang tercatat hingga pekan kedua Februari 2019, yakni Obligasi Berkelanjutan I XL Axiata Tahap II Tahun 2019 senilai Rp 634 miliar, serta Obligasi Berkelanjutan II Tiphone Tahap I Tahun 2019 senilai Rp 53 miliar dengan tingkat bunga tetap 11,5%. Kemudian, untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan II XL Axiata Tahap II Tahun 2019 yang dicatatkan sebesar Rp 640 miliar.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximillianus Nicodemus mengatakan, awal tahun ini, ramainya penerbitan surat utang karena adanya kesempatan untuk menjaga ketidakpastian, yang semakin lama makin tinggi. Apalagi, meski ini tahun politik, selama imbal hasilnya rendah sebelum pemilihan umum, maka korporasi pun tidak akan menahan penerbitan.

“Dengan tingkat ketidakpastian semakin tinggi otomatis akan mendorong imbal hasil untuk naik. Ketika imbal hasil naik ke atas, maka cost of fund yang dibutuhkan untuk melakukan penerbitan juga pasti akan meningkat,” kata Nicodemus kepada Investor Daily, Senin (11/2).

Dia menegaskan, beberapa ketidakpstian yang bisa mempengaruhi minat penerbitan surat utang, antara lain potensi The Fed menaikkan tingkat suku bunga sebanyak dua kali masih terbuka lebar, kemudian situasi perang dagang yang masih belum jelas.

Selain itu, Brexit juga masih tidak jelas dan pemilu Indonesia yang dinilai maki memanas. Pemilu yang kian memanas. Meskipun ada potensi juga Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunganya sepert Bank of India kemarin, hal ini berpotensi untuk mengajak negara berkembang lainnya untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Senada dengan itu, sebelumnya Pefindo juga memprediksi penerbitan surat utang korporasi tahun ini diperkirakan cenderung stagnan menjadi sekitar Rp 135,2 triliun. Presiden Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Salyadi Saputra mengatakan, hingga akhir tahun, surat utang korporasi diproyeksikan mencapai Rp 130-135 triliun, lebih rendah dibandingkan 2017 mencapai Rp 155 triliun.

Salyadi mengatakan, tahun depan penerbitan surat utang diproyeksikan stagnan karena ada kecenderungan peningkatan suku bunga. Dampaknya biaya bunga (cost of fund) korporasi menjadi lebih mahal, sehingga menjadi sentiment negatif. Nicodemus menilai, korporasi masih cenderung wait and see, terutama dengan tingginya tensi politik saat ini. Namun, apabila semua aman dan terkendali, sebelum pemilu emiten biasanya sudah mengejar penerbitan.

“Kalau memang imbal hasil mendukung dan investor siap menampung kenapa tidak? Namun, tentu akan menjadi sisi yang baik apabila ternyata pemilu mendukung penurunan imbal hasil,” ujar Nicodemus. (*)



Selengkapnya
 
MORE STORIES