Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Fundamental Bagus Tapi Sudah Koreksi Panjang, Mengapa Tidak Dicermati?

Rabu, 18 Agustus 2021 | 07:52 WIB
Hari Prabowo

Investor.id – Di tengah saham-saham lapis dua yang lagi hype, saya tertarik mencermati saham dari perusahaan yang mempunyai fundamental bagus dan prospeknya menjanjikan, tetapi harganya terkoreksi cukup dalam dan panjang. Saya percaya, saham-saham tersebut suatu saat akan rebound karena koreksi ada batasnya.

Harga saham memang bukan hanya ditentukan oleh fundamental saja namun ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Namun pendekatan fundamental dan prospek kinerja perusahaan mempunyai pengaruh utama terhadap harga saham.

Bagi penganut value investing, dengan niat membeli saham untuk investasi jangka menengah panjang, saham-saham seperti INKP TKIM, UNVR, BBTN dan BBNI, cukup relevan untuk dijadikan pilihan.

Saham-saham yang sudah mengalami koreksi cukup dalam dan waktunya panjang, setidaknya sejak awal tahun 2021 (YTD), layak untuk dicermati antara lain:

1. INKP dan TKIM merupakan dua perusahaan terafiliasi di sektor basic materials.
Keduanya mempunyai fundamental yang hampir sama dengan PER (price earning ratio) sekitar 4 kali dan PBV (price to book value) di bawah 1 kali.

Harga saham terakhir nyaris terendah sejak awal tahun ini. INKP di awal tahun harganya sekitar Rp 10.600 sehingga saat ini mengalami penurunan sebesar 38%.
Sedangkan TKIM harga awal tahun sekitar Rp.11.000 dibanding harga saat ini sudah turun 35%.

2. UNVR saham yang masuk kategori Blue Chip ini juga harganya sedang terpuruk berat, secara YTD telah terkoreksi 43% karena pada awal tahun masih diharga Rp 7.575 dan saat ini di Rp.4.150 per saham. Padahal dari sisi EPS (earning per share) sebenarnya hanya mengalami penurunan yang tidak terlalu banyak.

3. BBTN dan BBNI dua saham sektor perbankan ini juga fundamenralnya moncer, dari ukuran ratio keuangan BBTN mempunyai PER 9,5 kali dan PBV 0,83 kali serta EPS nya justru tumbuh dibanding periode yang sama tahun lalu, namun harganya sejak awal tahun terkoreksi 16%.

Demikian pula dengan BBNI dengan kinerja yang yang masih bagus, PER 9,5 kali, PBV 0,83 kali serta EPS kuartal kedua yang juga tumbuh dibanding tahun lalu harganya terperosok 16% dibanding awal tahun.

So, bila kita mempercayai bahwa harga saham akan kembali menyesuaikan fundamentalnya maka saham-saham tersebut bisa dicermati dan dipertimbangkan sebagai pilihan portofolio investasi jangka menengah. Setidaknya bisa berharap bahwa harga sahamnya saat ini sudah cukup rendah sehingga potensi kembali naik (rebound) cukup punya harapan dengan resiko yang semakin terukur.

Happy trading, happy cuan

*** Hari Prabowo: Ketua LP3M Investa, pengamat pasar modal.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN