Menu
Sign in
@ Contact
Search
G20 Indonesia. (Sumber: Kominfo)

G20 Indonesia. (Sumber: Kominfo)

Kripto Jadi Tantangan Global, Ini Penjelasannya

Sabtu, 19 Februari 2022 | 21:30 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa perdagangan aset kripto tak hanya menjadi tantangan bagi Indonesia, namun juga bagi global. Sebab instrumen ini sangat berisiko karena menawarkan imbal hasil yang sangat tinggi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung mengatakan, jumlah investor Indonesia pada aset kripto di atas 6 juta dan kebanyakan yang memiliki aset kripto adalah generasi milenial yang lebih melek teknologi.

“Saya pikir ini juga merupakan tantangan besar bagi kita secara global. Investor mesti diberi pemahaman terkait literasi instrumen investasi,” tuturnya dalam diskusi G20, Sabtu (19/2).

Maraknya kepemilikan aset kripto di negara berkembang, Juda menilai perlunya untuk mengembalikan regulasi kripto kepada regulator keuangan. Disisi lain, pengawasan aset kripto di Indonesia yang di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dinilainya juga kurang sesuai.

Baca juga: Negara G20 Sepakat Perketat Pengawasan Perdagangan Aset Kripto 

“Jadi kita perlu mengembalikan ke regulator keuangan karena dampak kripto menimbulkan risiko tinggi bagi stabilitas pasar keuangan global maupun terhadap perekonomian, itu sebabnya ini harus diatur oleh regulator keuangan,” tegasnya.

Selain mengalihkan pengawasan kepada regulator keuangan, Juda juga menyebut perlu memperkuat perlindungan konsumen bagi investor kripto, serta harus mencari langkah bersama untuk meminimalkan dampak kripto terhadap destabilisasi arus modal, terutama di pasar negara berkembang.

“Hal ini perlu dilakukan terutama di pasar negara berkembang di mana Anda tahu penawaran dan permintaan mata uang asing cukup penting dalam menjaga stabilitas mata uang yang ada di aset kripto,” jelasnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan negara-negara G20 sepakat untuk membentuk kerangka peraturan dan pengawasan terhadap aset kripto untuk memperkuat pengelolaan risiko dari makin maraknya perdagangan aset kripto.

Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan para Menteri Keuangan dan Pimpinan Bank Sentral atau Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Meeting pada 17 Februari hingga 18 Februari 2022.

Baca juga: Pertemuan G20 Menkeu-Bank Sentral Telurkan 14 Poin Komunike

Menurut dia, maraknya perkembangan aset kripto jika tidak dipantau secara baik, justru akan menimbulkan risiko terhadap pasar keuangan global maupun terhadap perekonomian.

"Dari sisi pengelolaan risiko (kejahatan) teknologi dan digitalisasi negara G20 menyepakati perlunya kerangka pengaturan dan pengawasan terhadap akses kripto aset," kata Perry.

Selain itu, saat ini mulai muncul lembaga atau jasa keuangan di luar perbankan (non-bank financial institution) yang bisa mempengaruhi sektor finansial. Untuk itu, negara-negara G20 sepakat untuk memperkuat sektor keuangan global dengan membentuk kerangka peraturan dan pengawasan tersebut.

“Kami juga mengatasi dampak pandemi terhadap sektor keuangan. Diperlukan agar lembaga keuangan bisa menjalankan fungsi intermediasi dalam rangka pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com