Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi.

Ilustrasi investasi.

Apa itu Trailing Stop dan Bagaimana Cara Menggunakannya dalam Trading?

Jumat, 20 Mei 2022 | 13:21 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Terdapat banyak perintah (order) dalam trading yang bisa memudahkan aktivitas jual beli aset para trader, salah satunya adalah trailing stop. Menurut Cory Mitchell (2021), trailing stop adalah modifikasi dari stop order yang bisa diatur nilainya berdasarkan persentase tertentu dari harga aset di pasaran saat ini.

Pada dasarnya, trailing stop digunakan dengan tujuan untuk meminimalisir kerugian trader atau investor, mengunci profit dengan memastikan terpenuhinya harga beli dan harga jual aset yang telah ditentukan sebelumnya.

Dikutip dari Pintu Academy, Mitchell mengungkapkan bahwa salah satu cara sukses untuk menggunakan trailing stop yaitu dengan mengaturnya pada rentang yang tidak terlalu lebar, namun juga tidak terlalu sempit.

Trailing stop dengan rentang lebar bisa membatasi ruang gerak aset kamu ketika terjadi pergerakan pasar harian yang normal sekalipun dan justru malah menyebabkan kerugian dan meminimalisir keuntungan. Sementara itu, trailing stop dengan rentang terlalu lebar justru bisa membuat fungsi trailing stop itu tidak berguna. Kemudia, prinsip utama trailing stop adalah memasang stop loss yang akan mengikuti pergerakan harga aset saat ini.

Baca juga: Ini Dia Pengertian Leading dan Lagging Indicator di Kripto

Setelah mengetahui tentang apa itu trailing stop, kamu juga perlu memahami kelebihan trailing stop sebelum memutuskan untuk memakai jenis perintah ini. Misalnya, ketika memasang trailing stop, aset kamu akan terjual secara otomatis saat harga aset menurun ke titik stop loss yang ditetapkan, sehingga profit dari aset kamu bisa terlindungi. Lebih fleksibel dibandingkan fungsi stop loss yang harus di-update setiap saat apabila harga aset mengalami fluktuasi yang cukup besar

Namun, trailing stop juga memiliki beberapa kekurangan sebagai berikut. Trailing stop hanyalah alat yang membantu trader, namun analisis teknikal maupun fundamental tetap harus digunakan jika trader ingin memperoleh keuntungan yang lebih maksimal. Aset dengan volatilitas tinggi relatif sulit diperdagangkan dengan order ini.

Baca juga: Apa Itu Wyckoff Schematics dalam Perdagangan Kripto?

Lebih lanjut, ketika kamu mencari informasi tentang apa itu trailing stop, biasanya banyak yang akan tertukar dengan stop loss. Namun, terdapat beberapa perbedaan di antara kedua jenis order ini.

Dalam stop loss, nilai yang kamu tetapkan bersifat fiks atau tetap. Semisalkan kamu menentukan stop loss di angka Rp100.000, lalu harga aset bergerak ke harga Rp200.000, Rp300.000 dan lain seterusnya, stop loss akan tetap berada di angka Rp100.000.

Sementara itu, trailing stop sifatnya lebih fleksibel dan difokuskan untuk melindungi profit yang diperoleh trader. Misalkan kamu menetapkan trailing stop sebesar 10%, maka ketika harga aset mencapai Rp200.000, trailing stop akan otomatis mengatur stop loss di angka Rp180.000. Sementara ketika harga aset berada di angka Rp300.000, trailing stop akan otomatis mengatur stop loss di angka 270.000, dan seterusnya.

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN