Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gustav A Husein, investor saham di Bursa Efek Indonesia dan anggota Komunitas Investa.

Gustav A Husein, investor saham di Bursa Efek Indonesia dan anggota Komunitas Investa.

Bandarmologi dan Alex Kearns

Oleh Gustav A Husein, Kamis, 25 Juni 2020 | 20:57 WIB

JAKARTA, Investor.id – Kisah pilu dan bahagia selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari hiruk-pikuk orang mencari peruntungan dengan berinvestasi di pasar saham. Ada yang tiba-tiba kaya mendadak karena harga sahamnya naik tinggi, tetapi tak sedikit yang merasakan pilunya menderita kerugian akibat saham-sahamnya anjlok cukup dalam.

Belakangan ini, pasar saham kembali dihebohkan dengan kisah tragis dari seorang pelajar AS, Alex Kearns, yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena kaget dan kebingungan saat saldo dalam akun tradingnya negatif. Pemuda belia berusia 20 tahun ini menganggap saldo negatif adalah utang.

Alex Kearns, yang menggunakan akun trading Robinhood itu tercatat mempunyai saldo negatif mencapai angka US$ 730 ribu. Jika menggunakan kurs Rp 14.000 per dolar AS, maka jumlahnya nencapai Rp 10,2 miliar.

Kasus bunuh diri Alex Kearns menjadi perbincangan, mengingat potensi bahaya ledakan perdagangan saham bebas pada kaum milenial yang diinspirasi oleh akun Robinhood. Aplikasi ini telah memberikan kemudahan akses trading instrumen keuangan kepada para investor muda, padahal instrumen seperti ini biasa digunakan oleh para investor berpengalaman.

Kisah ini membuat saya teringat pada anak-ank muda Indonesia yang saat ini sedang berbondong bondong memasuki bursa saham. Pahamkah mereka akan bahayanya? Mengertikah mereka bahwa yang berbahaya dalam investasi saham bukan hanya kiat-kiat cara berdagang di bursa, tetapi justru mimpi-mimpi yang ada di kepala mereka sendiri.

Mimpi tentang Warren Buffet dan Lo Keng Hong yang sukses berinvestasi di saham telah memukau dan memacu harapan untuk kaya. Padahal, banyak di antaranya tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang bagaimana berinvestasi saham secara benar.

Yang paling berbahaya adalah tingkah laku mereka sendiri. Bukan bursanya. Bursa hanya ruang publik terbuka, yang memberikan fasilitas untuk berusaha.

Sebentar lagi akan rampung tol langit, lalu 5 G. Dengan kecanggihan teknologi komputer, internet, smartphone, aplikasi, maka bursa saham akan makin bersinar terang bagai primadona penuh gaya penuh pesona.

Apalagi dengan gorengan para penjual mimpi untuk cepat kaya lewat perdagangan saham. Anak-anak muda akan makin berduyun hadir di bursa. Dari kota-kota dan desa-desa. Berita gembira, tapi juga bisa jadi berita duka, dan bisa menjadi bencana jika literasi keuangan di kalangan milenial masih rendah.

Masa muda adalah masa penuh energi. Masa penuh mimpi. Bahaya datang ketika seluruh energi dicurahkan untuk mimpi. Karena hidup adalah perjalanan panjang berurusan dengan kenyataan, realita yang belum tentu sesuai dengan harapan. Bukan berurusan dengan khayalan.

Gaya Investasi

Bursa Saham terbuka bagi berbagai harapan. Berbagai gaya dan jalan. Ada gaya macam Warren Buffet, tapi mungkin publik tak banyak tahu ada juga gaya macam Hari Prabowo dan Hasan Zein Mahmud yang 30 tahun menggauli bursa dengan caranya masing-masing, tapi tidak silau oleh gemerlapnya bursa.

Setiap kali berbagi pengalaman dengan sesama alumni di Institut Teknologi Bandung (ITB), selalu saya sampaikan, kemungkinan besar anak-anak akan berkunjung ke bursa saham. Seperti gaya hidup mereka yang suka nongkrong di club dan cafe. Melarang anak berdagang saham sama mustahil nya dengan melarang anak ke club dan cafe.

Karena itu, diperlukan dukungan agar anak-anak melek terhadap literasi keuangan, belajar dan berlatih dagang saham. Bukan supaya mereka segera jadi kaya. Tapi supaya mereka sadar penuh akan bahaya. Bahaya di dalam gagasan-gagasan yang mungkin muncul di pikiran mereka sendiri.

Literasi keuangan untuk kalangan muda sangatlah penting, terlebih lagi Indonesia mendapat bonus demografi berupa ledakan kaum milenial. Namun, berdasarkan Indonesia Milenial Report 2019, hanya 2% dari milenial Indonesia atau sekitar 8,5 juta penduduk, yang menyisihkan pendapatannya untuk investasi.

Sementara itu, hasil survei OJK mencatat bahwa, indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen, artinya dari 100 orang baru sekitar 38 orang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan yang memadai mengenai produk dan layanan keuangan (well-literate). Artinya, pengetahuan tentang keuangan di Indonesia masih sangat rendah.

Pasar saham bisa menjadi pisau bermata dua jika tidak diimbangi dengan peningkatan literasi secara memadai. Terlebih lagi bagi kaum muda yang mempunyai ambisi untuk meraih mimpi-mimpinya, termasuk meraih kekayaan yang dianggap bisa dilakukan dengan mudah, padahal tidak disertai pengetahuan yang cukup.

Saya merasa beruntung beberapa tahun lalu diajari seorang sahabat tentang pengetahuan bandarmologi dalam menerapkan strategi berdagang saham. Menggunakan kiat ini, bagi saya bukan sekedar usaha menguntit bandar. Lebih dari itu, bandarmologi selalu mengingatkan saya, untuk waspada.

Waspada adalah kebijakan utama untuk bertahan hidup di Bursa. Waspada terhadap kiat kiat dagang yang bisa memangsa, juga waspada terhadap pikiran sendiri yang mendorong kita menjadi mangsa.

*** Gustav A Husein, investor anggota Komunitas Investa.
 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN