Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

KOPI PAGI

Buyback, Kepedulian Emiten atau Sekadar Janji Manis?

Oleh Hari Prabowo, Kamis, 28 Mei 2020 | 08:09 WIB

SEMARANG, Investor.id - Seringkali investor berharap terlalu besar ketika membaca keterbukaan informasi mengenai program buyback atau pembelian kembali saham oleh emiten (perusahaan publik).

Ketika harga saham turun dalam kondisi tertentu, misalnya seperti saat ini dimana harga saham emiten sudah turun rata-rata lebih 30% sejak awal tahun, sesuai aturan emiten diizinkan membeli sahamnya kembali dalam jumlah tertentu sehingga diharapkan harga bisa stabil atau dengan bahasa lain penurunan harga bisa terukur.

Melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.2/POJK.04/2013 memang emiten diiizinkan melaksanakan program buyback saham tersebut tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Artinya, hanya cukup dengan keputusan direksi dan komisaris saja, tentu ini suatu kemudahan bagi emiten.

Bagi publik, ini adalah kabar yang menggembirakan dengan harapan harga saham yang telah terjun bebas bisa naik, setidaknya penurunannya dalam batas kewajaran sesuai fundamental emiten.Informasi ini harusnya diumumkan secara terbuka melalui media tentang kapan periode buyback, jumlah saham yang akan dibeli serta melalui sekuritas apa sebagai pelaksananya.

Bukanlah hal yang berlebihan bila investor menyambut baik program buyback ini karena hal itu akan mendorong permintaan terhadap saham tersebut oleh pihak emiten dengan jumlah setinggi tingginya 10% dari saham yang beredar. Pelaksanaan buyback biasanya dalam waktu 3 bulan sejak diumumkan.

Investor berpikir secara sederhana ketika permintaan naik maka harga sahamnya akan naik pula, apalagi emiten biasanya menyebutkan rencana jumlah dana yang akan digunakan untuk membeli sahamnya. Beberapa emiten bahkan mengumumkan jumlah yang spektakuler mulai dari miliar sampai trilyun.

Namun nanti dulu, aksi korporasi buyback saham yang bertujuan menstabilkan harga ini pelaksanaannya bisa beda sehingga bisa menimbulkan beda penafsiran. Ternyata bahwa apa yang telah diumumkan emiten melalui keterbukaan informasi melalui media pelaksanaanya bisa berbeda dengan rencananya.

Sebagai contoh, emiten dalam pengumuman menyebutkan rencana akan membeli sahamnya kembali dalam jumlah Rp500 milyar dengan jangka waktu sampai dengan 20 Juni 2020. Hal ini sebenarnya hanya "jumlah maksimal" artinya jika emiten tersebut pelaksanaannya hanya membeli Rp 100 miliar saja dan menghentikan program buyback sebelum periodenya berakhir itu juga dibolehkan, meskipun tidak sampai Rp500 milyar sesuai rencana yang sudah diumumkan.

Jadi jangan berlebihan berharap dari aksi korporasi buyback saham oleh emiten langsung berdampak pada kenaikan harga saham cukup signifikan. Di sini investor bisa menilai seperti apa kepedulian emiten terhadap harga sahamnya, baik untuk kepentingan perusahaan maupun investornya.

Jika emiten melakukan program buyback tersebut sesuai dengan apa yang telah diumumkan ternasuk jumlah dana maksimalnya maka investor layak mengapresiasi secara positif bahwa emiten tersebut punya kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi terhadap pemegang saham publik.

Sebaliknya, jika ternyata pelaksanaannya jauh dari apa yang telah diumumkan maka tentu publik punya catatan tersendiri terhadap emiten tersebut.

Di sinilah etika bisnis itu berlaku karena tidak ada sanksi apa pun yang bisa dilakukan, termasuk dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jadi investor publik memang harus jeli menyikapi peraturan setiap aksi korporasi yang akan dilakukan oleh emiten karena jika salah menafsirkan bisa berakibat salah dalam analisa.

Harapan kita tentu saja agar OJK dan pihak Bursa Efek Indonesia bisa membuat peraturan yang lebih bisa mencerminkan kepastian mengingat setiap aksi korporasi adalah hal penting bagi publik dalam mengambil keputusan.

Jangan sampai aksi korporasi buyback saham ini hanyalah janji manis emiten yang realisasinya masih jauh panggang dari api.

*** Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN