Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
News Director BSMH Primus Dorimulu memandu acara Literasi Keuangan Goes to Campuss, dengan narasumber : ( Ki-ka atas), Executive VIce President Wealth Management Division PT BRI Tbk Tina Meilina, Direktur Pemasaran PT BRI Life, Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Tirta Segara. ( ki-ka bawah) : Pejabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Dr Beta Yulianita Gitaharie, dan Dosen dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Dr Budi Frensidy.

News Director BSMH Primus Dorimulu memandu acara Literasi Keuangan Goes to Campuss, dengan narasumber : ( Ki-ka atas), Executive VIce President Wealth Management Division PT BRI Tbk Tina Meilina, Direktur Pemasaran PT BRI Life, Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Tirta Segara. ( ki-ka bawah) : Pejabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Dr Beta Yulianita Gitaharie, dan Dosen dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Dr Budi Frensidy.

Capailah Kebebasan Finansial, Bukan Kekayaan

Selasa, 15 September 2020 | 18:00 WIB
Windarto

Jakarta-Kebebasan finansial adalah idaman setiap orang. Untuk mencapai level tersebut memerlukan tahapan yang harus dilalui. Hal mendasar yang harus lebih dulu dimiliki untuk mencapainya, adalah pengetahuan atau literasi keuangan yang baik. Pandemi Covid-19 makin menyadarkan betapa penting memiliki literasi dan perencanaan keuangan agar tidak terjerat kesulitan keuangan. 

Pejabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Dr Beta Yulianita Gitaharie dalam sambutannya menyampaikan, dunia sekarang sedang mengalami gejolak dan penuh ketidakpastian. Perubahan begitu cepat terjadi dalam berbagai bidang termasuk di bidang keuangan. Karenanya kita harus bijak dan cerdas dalam menyikapi perubahan-perubahan tersebut. Perubahan di bidang keuangan dan teknologi membuat semakin banyak pilihan produk keuangan dan semakin mudah untuk mengaksesnya. Untuk itu, literasi keuangan diperlukan.

Dikatakan Beta, literasi keuangan merupakan suatu pengetahuan, keterampailan dan keyakinan yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan. Dengan literasi keuangan kita tidak saja menjadi lebih tahu mengenai produk-produk keuangan, juga menjadi lebih yakin dalam menentukan pilihan produk keuangan yang kita butuhkan. Dengan literasi keuangan kita pun tidak akan mudah tertipu dengan tawaran-tawarn yang menggiurkan dan menarik, yang kadang-kadang justru menyesatkan.

“Saya berharap setelah mengikuti webinar ini, mahasiswa akan mendapat pengetahuan dan semakin terbuka wawasan dalam memilih instrumen keuangan untuk menabung dan berinvestasi. Dengan menabung dan berinvestasi secara produktif maka kita semua akan berpartisipasi dalam mendukung kegiatan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas,” tuturnya, pada acara Webinar Literasi Keuangan Goes to Campuss, dengan tema Merencanakan Financial Freedom untuk Milenial di Jakarta (15/9).

Anggota Komisioner Bidang Edukasi dan Perlidungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Tirta Segara, kembali menekankan perlunya literasi keuangan, terutama untuk generasi milenial, atau generasi muda pada umumnya.

Ada lima alasan yang membuat generasi milenial perlu memiliki literasi keuangan secara baik. Pertama, generasi milenial ini merupakan penerus bangsa dan kelak akan menjadi penentu perekonomian. Kedua, generasi ini terbilang rendah dalam literasi keuangan. Ketiga, milenial juga lebih rentan secara finansial. Rentan secara finansial seiring dengan kebiasaan untuk menghabiskan uang untuk kesenangan daripada untuk menabung dan berinvestasi. Keempat, tidak mempersiapkan dana darurat. Satu dari tiga orang milenial tidak aman secara finansial. Kelima, suka mengikuti tren dan mudah terpengaruh oleh para influencer (public figure, artis, tokoh masyarakat, dsb).

Dalam hal berinvestasi, Tirta senantiasa mengingatkan masyarakat dengan istilah 2L, Legal dan Logis. Harus diwaspadai bila ada yang menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu cepat, menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru, memanfaatkan tokoh masyarakat/tokoh agama, janji aset aman dan jaminan pembelian kembali, klaim tanpa risiko (free risk), legalitas tidak jelas.

Menurut Tirta, banyak aduan dan kasus yang masuk ke OJK akibat kasus-kasus investasi. Catatan OJK hingga 3 Juli 2020 terdapat 792 entitas investasi ilegal, 2.588 fintech ilegal, dan 93 gadai ilegal yang telah dibubarkan. “Dalam setahun ada seribu entitas keuangan ilegal yang dibubarkan OJK,” ujarnya. Guna mengetahui dan memastikan legalitas suatu entitas lembaga keuangan atau investasi, bisa menghubungi Satgas Waspada Investasi OJK no kontak 157, atau melalui WA 081-157-157-157, atau kunjungi http://sikapiuangmu.ojk.go.id

Executive Vice President Wealth Management Division PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Tina Meilina menyebut tiga tantangan keuangan di kalangan milenial. Yakni tekanan gaya hidup, kurang pengetahuan tentang keuangan, dan banyak utang dan boros mencari pengalaman (experience).

Disampaikan Tina, kalangan milenial sering mengikuti tren gaya hidup sekarang tapi pengetahuan mengenai keuangan masih kurang, sehingga ragu kalau mau investasi atau memproteksi diri. Di sisi lain, saat ini banyak layanan atau fintech yang memberikan kemudahan bagi kalangan milenial untuk mendapatkan pinjaman, tapi kemudahan tersebut banyak dipakai untuk experience seperti nyoba kafe baru, minuman baru. Hal tersebut memang menarik, walaupun mengkonsumsi uang cukup lumayan.

Bagaimana mengatasi kebiasaan tersebut agar tidak keterusan? Dengan cara menerapkan perencanaan keuangan. Tina membagi dua jenis perencanaan keuangan, yang sifatnya menyeluruh dan untuk tujuan khusus. Untuk perencanaan keuangan khusus memang lebih difokuskan pada tujuan tertentu yang hendak dicapai. Misalnya, untuk tujuan pendidikan anak di perguruan tinggi, atau biaya untuk menikah. Namun, setiap orang tetap harus memiliki perencanaan keuangan secara menyeluruh yang mencakup semua kebutuhan keuangan termasuk manajemen risiko, investasi, pajak, pendidikan, pensiun, dan warisan. “Proses ini harus berkelanjutan, apa yang sudah dilakukan harus dilihat lagi, perencanaan keuangan yang sudah disusun ini sudah tercapai belum tujuannya. Itu yang harus selalu dievaluasi,” tambahnya.

Satu hal yang perlu dipahami, perencanaan keuangan itu pada dasarnya untuk mengantisipasi risiko. Setiap orang akan mengalami risiko, setidaknya ada empat yang bisa terjadi pada siapaun yakni sakit, tua, cacat, dan meninggal (STCM). Ketika suatu risiko, ada yang harus dikeluarkan dari aset kita untuk mengganti atau menutup risiko tersebut. Nah, hal paling mudah untuk mengalihkan risiko adalah dengan berasuransi.

Jika dalam sehari kita menghabiskan uang Rp 50 ribu untuk minum kopi, selama sebulan sudah menghabiskan dana Rp 1,5 juta, dan setahun mencapai Rp 18 juta. Jumlah tersebut setara dengan membayar premi selama 5 bulan dan 60 bulan, dengan premi Rp 300 ribu per bulan.

Dengan ilustrasi kopi tersebut, Direktur Pemasaran PT Asuransi BRI Life (BRI Life) Anik Hidayati menyebut, sebenarnya asuransi bukanlah produk yang mahal untuk saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, kesehatan menjadi hal yang rentan dan menjadi priotirtas. Ketika seseorang terkena risiko kesehatan alias sakit ia membutuhkan biaya untuk berobat. Biaya ini bisa diambil dari dana darurat. Nah, dana darurat tersebut sebenarnya bisa dialihkan untuk membeli premi asuransi sehingga saat terjadi risiko tidak perlu lagi menguras dana darurat.

Anik menyebut, membeli asuransi itu sebaiknya saat masih muda dan sehat sebab akan mendapatkan proteksi yang optimal dengan harga yang murah. Saat ini pun, milenial bisa dengan mudah mencari, memproses, dan membandingkan suatu produk asuransi melalui berbagai informasi yang tersedia di internet. BRI Life menyiapkan produk asuransi kesehatan untuk milenial yang dinamai Simply Health Millenial yang proses pembelian dan pembayaran premi bisa secara online. Selain itu, ada pula Lentera, asuransi dwiguna (endowment) yang memberikan manfaat pemberian manfaat hingga 110% bila tidak terjadi klaim. “Raihlah financial freedom dengan tubuh yang sehat dan terproteksi dari segala risiko kehidupan, itu yang harus dipikirkan mulai hari ini,” tutur Anik.

Ada hal yang perlu dipikirkan dan dibedakan seiring dengan kebebasan finansial, yakni istilah kaya dan makmur. Dosen dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Dr Budi Frensidy mengatakan, lebih bijak mengukur kekayaraan seseorang itu berdasarkan dari berapa besar aset bersih (net worth), sebab banyak orang yang memiliki aset besar, tapi juga liabilitas (utang)-nya besar.

Namun, yang lebih baik adalah makmur. Makmur, mengutip definisi Kiyosaki adalah lamanya waktu seseorang dapat mempertahankan gaya hidupnya tanpa harus bekerja. Dengan kata lain, kemakmuran adalah kemampuan arus kas dari aset produktif atau penghasilan pasif seseorang memenuhi standar kehidupan normalnya. Jika aset Anda mampu menopang kehidupan Anda selama beberapa dekade ke depan atau menghasilkan kas lebih pengeluaran per bulan, Anda telah mencapai kebebasan finansial. “Orang kaya belum tentu makmur, dan yang mestinya kita raih adalah kebebasan finansial, bukan kekayaan,” imbuhnya.

Prof Budi mengatakan, untuk mencapai kebebasan finansial kita harus merencanakan keuangan. Kita bisa melakukan perencanaan keuangan dengan memiliki modal pengetahuan tentang matematika keuangan, pengetahuan tentang produk keuangan dan investasi yang ada, serta disiplin diri.

Acara literasi keuangan ini merupakan kerja sama Majalah Investor dengan, Otoritas Jasa Keuangan, Universtias Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Asuransi BRI Life.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN