Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
*** Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

*** Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Carut Marut di Pasar Modal

Oleh Hari Prabowo, Senin, 2 Desember 2019 | 10:13 WIB

JAKARTA, Investor.id - Hari ini memasuki bulan Desember 2019, yang biasanya menjadi bulan penuh berkah bagi para investor. Awal tahun lalu banyak yang memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini berada di kisaran 6.600 - 7.000. Sedangkan saya pribadi meramalkan angka 6.350. Namun, jangankan 6.600 sepertinya kalau bisa 6.200 saja pada akhir tahun 2019 sudah bagus, karena saat ini masih di kisaran 6.000. Bahkan minggu lalu sempat anjlok di bawah 6.000.

"Ontran - Ontran" pasar modal akibat kasus beberapa reksa dana dan Jiwasraya mencoreng pasar yang mengakibatkan lunturnya kepercayaan investor.Perlu rasanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mengawasi aksi para manajer investasi agar bekerja secara profesional, jaga peraturan dan etika. Manajer Investasi ini dipercaya mengelola dana milik masyarakat investor, tidak boleh melakukan tindakan aneh-aneh, apalagi "bermain kotor".

Jika penurunan terjadi akibat risiko pasar, saya kira investor bisa memahami. Tapi kalau risiko terjadi karena penyimpangan, ini yang membuat kepercayaan investor luntur. Semoga bulan Desember sebagai bulan terakhir penutup, tidak terlalu mengecewakan para investor.

Kondisi pasar saham memang lagi sulit saat ini. IHSG yang tahun ini diramalkan tumbuh moderat masih jauh dari harapan. Bahkan dibanding IHSG awal tahun sampai akhir bulan November 2019 ini masih minus.

Menjelang akhir tahun yang diharapkan menjadi masa panen, kini semakin suram. Selain sebab yang saya sampaikan di atas, modus-modus seperti Strategic Initial Public Offering (IPO), penggorengan harga saham, REPO yang belum diatur secara baik menjadi masalah saat ini.

Asuransi Jiwasraya yg gagal bayar atas produknya yang dipasarkan lewat beberapa bank dengan nama Bancas ikut memperburuk pasar.Hal ini disinyalir karena investasi Jiwasraya di beberapa saham gorengan yang membuat nilai modalnya minus alias rugi besar.

Memang bukan hal yang mudah untuk membuktikan, tetapi juga bukan tidak bisa dicegah jika otoritas berniat untuk memperbaiki semua kegiatan di pasar modal yang masih bolong-bolong dan dimanfaatkan sebagai arena mencari keuntungan tanpa menghiraukan etika oleh "oknum-oknum" yang cerdas tapi licik.

Buat pelaku pasar yang punya jam terbang tinggi saya kira paham benar bagaimana "permainan" di pasar dilakukan oleh pihak-pihak yang bisa berasal dari "oknum" para pelaku pasar itu sendiri, baik emiten, perusahaan efek, investor bahkan sampai profesi penunjang yang bisa diajak berkolusi.

Lihat saja contoh dari harga-harga saham yang baru IPO. Bagaimana fluktuasinya? Mungkinkah itu terjadi karena proses transaksi di bursa secara wajar? Lihat juga bagaimana beberapa emiten yg "membangkrutkan diri" setelah meraup dana di pasar modal, sampai kasus-kasus korupsi.
Demikian juga reksa dana yang didesain sedemikan rupa agar laku dijual tetapi sebenarnya dilakukan dengan tanpa malu-malu bahkan melanggar aturan.

Sungguh sangat mengecewakan kalau di satu sisi kita mendengar pertumbuhan dana kelolaan para Perusahaan Aset Manajemen yang positif, demikian pula bertambahnya investor dan perusahaan-perusahaan yang IPO, jika ujungnya hanya "abu-abu" dengan rekayasa yang merugikan investor. Pengawasan yang lemah atau "kecerdikan dan kelicikan" oknum pelakunya?

Kini kebusukan itu mulai terkuak dan akibatnya pasar kaget dan panik sehingga terjadilah tekanan terhadap pasar. Imbauan untuk OJK sebagai pembina dan pengawas Lembaga Keuangan, diharapkan menemukan metode pembinaan dan pengawasan yang lebih aktif dan efektif. Bukan hanya sekadar bergerak jika ada laporan. Akan sangat fatal kalau kepercayan investor terlanjur luntur dan itu lebih sulit untuk tumbuh kembali.

Sekalipun demikian, sebagai investor selayaknya harus tenang, tidak panik dan tidak emosional. Belajar dari masa lalu, semua akan bisa kembali normal, tentu dengan catatan otoritas dan regulator bisa melakukan penataan yang lebih baik.

Semua oknum yg mengotori pasar ini harus diberikan sanksi tegas dan jangan sebaliknya dianggap pahlawan karena hanya bisa "meramaikan transaksi" burrsa saja tetapi ujung-ujungnya merampok dana investor.

Semoga kondisi ini tidak berlarut-larut serta bisa kemana-mana, agar pasar segera kembali normal dan wajar sehingga tujuan pasar modal sebagai alternatif investasi dan sumber pembiayaan bisa tercapai.


*** Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA