Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Dr. S Benny Pasaribu, PhD (Ekonom Senior, mantan Ketua KPPU RI)

Dr. S Benny Pasaribu, PhD (Ekonom Senior, mantan Ketua KPPU RI)

COVID-19: Ekuilibrium Ekonomi Vs Kemanusiaan

Oleh Benny Pasaribu, Selasa, 24 Maret 2020 | 10:09 WIB

JAKARTA, Investor.id - Kita patut berkabung atas banyaknya korban meninggal akibat serangan virus corona (COVID-19) di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Kita juga sangat mengapresiasi langkah-langkah yang diambil oleh pemerintahan Presiden Jokowi.

Banyak kendala yang dihadapi tetapi secara cepat kelihatannya dapat diatasi. Kolaborasi antara aparat pusat mulai berjalan lancar di bawah kepemimpinan gugus tugas Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo.

Namun ke depan, keterbatasan fasilitas dan tenaga medis akan sulit diatasi seiring dengan pertambahan secara eksponensial jumlah korban COVID-19, termasuk orang dalam pemantauan (ODP )dan pasien dalam pengawasan (PDP). Belum lagi perekonomian yang makin menurun kinerjanya, kurs sempat menyentuh Rp 17 ribuan per dolar AS, IHSG jatuh ke angka 3900an dari angka 5000an pada Januari 2020.

Untuk itu kita patut bertanya, apakah kondisi ekonomi akan dibiarkan terus terjun bebas sementara korban meninggal akibat COVID-19 juga terus meningkat? Sampai berapa banyak dana APBN yang harus dialokasikan untuk penanganan COVID-19? Berapa banyak devisa yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah yang terus terdepresiasi? Berapa jumlah korban meninggal akibat COVID-19 yang dapat masuk kategori minimal?

Apakah pemerintah masih mampu mengambil langkah-langkah penyesuaian agar bisa lebih efisien dan efektif penanganan korban COVID-19 dengan tetap menjaga perekonomian tumbuh pada kisaran 4% ?

Itulah alasan mengapa saya terpanggil untuk memberikan masukan kepada pemerintah dalam bentuk tulisan ini. Saya yakin masih ada alternatif terbaik lainnya walaupun masih memerlukan kajian secepatnya dan mendalam sebelum diimplementasikan.

Menurut saya, langkah yang perlu diambil adalah mereka yang potensial mengalami korban meninggal, yaitu orang-orang yang memiliki daya tahan atau antibodi rendah, merekalah yang perlu diisolasi, yakni mereka yang masuk ODP dan juga masuk PDP perlu segera dirawat. Sedangkan mereka yang memiliki daya tahan dan antibodi cukup kuat biarlah tetap melakukan aktivitas karena antibodinya mampu membunuh virus corona yang masuk ke dalam tubuhnya dalam tempo 2-3 minggu.

Beginilah argumennya: Virus Corona, lebih dikenal dengan COVID- 19 atau C 19, telah menyebar secara global. Banyak korban tertular hingga meninggal. Tetapi, berita menggembirakan, bahwa jumlah korban meninggal rata-rata sekitar 3-10% dari jumlah yang tertular. Sekitar 90-97% dapat kembali sembuh sehat.

Dari pengalaman berbagai negara, kebijakan yang diambil dalam menanggulangi penyebaran C 19 tampak berbeda-beda. Perbedaannya terutama dengan mempertimbangkan titik ekuilibrium yang optimal antara kepentingan pertumbuhan ekonomi dan risiko kemanusiaan akibat C 19. Pilihan masing-masing negara cukup berbeda. Sebagian besar memilih untuk mengisolasi ODP dan merawat PDP tanpa membedakan usia atau kekuatan antibodi korban. Keterbatasan fasilitas dan tenaga medis menjadi persoalan dunia.

New York hanya mrmiliki sekitar 54 ribuan ruang rawat inap dan emergency/ ICU, sementara yang dibutuhkan lebih dari 100 ribu kamar sehingga terpaksa membangun rumah sakit baru dengan memanfaatkan gedung yang ada. Biaya penangangan seperti ini akan sangat besar.

Turki akan menyediakan lebih dari US$ 15 milar khusus untuk penanganan C 19. Sebagian negara menerapkan lockdown yakni menutup sementara kota-kota yang mempunyai korban C 19 cukup besar.

Semua kebijakan seperti ini akan membebani perekonomian. Langkah ini tidak akan memperhatikan efisiensi, efektivitas, dan opportunity cost setiap dana yang dikeluarkan. Karena korban meninggal akan lumayan banyak terutama dari kalangan lanjut usia (lansia) dan pengidap penyakit kronis, yang notabene adalah orang-orang yang memiliki antibodi rendah.

Membagi Dua Kelompok

Bagi saya, yang menarik adalah respons pemerintah Israel yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan yang ditunjuk sebagai panglima perang melawan C 19. Tidak diragukan lagi, Menteri Pertahanan Israel menyampaikan konsep berbeda dan bertolak belakang dengan kebijakan banyak negara lain.

Dalam narasinya, Menteri Pertahanan Israel mengasumsikan data penduduk dalam dua kategori. Pertama, penduduk usia muda yang memiliki antibodi kuat, sekitar 80% dari total penduduk negara. Sedangkan sisanya 20% memiliki antibodi yang relatif lemah, mereka terdiri dari lansia dan usia muda yang mengidap penyakit.

Dengan asumsi tersebut, maka penduduk kelompok pertama yang besarannya sekitar 80% kemungkinan akan tertular virus C 19 karena tetap normal melakukan aktivitasnya. Meskipun demikian, mereka tidak bermasalah karena mempunyai antibodi yang kuat untuk melawan virus tersebut jika C 19 masuk ke dalam tubuhnya. Mereka ini tidak perlu dibawa ke RS.

Diperkirakan mulai hari ke tujuh, antibodinya akan mulai membunuh virusnya hingga pada hari ke 16 akan bersih total dari virus C 19 dan yang bersangkutan akan tetap sehat wal'afiat. Tidak perlu dijadikan PDP atau dirawat di RS. Penduduk kelompok pertama ini hanya perlu menjaga stabilitas kesehatannya hingga dalam waktu 2-3 minggu. SOP perlu diberikan untuk dijalankan.

Bagaimana dengan kategori kedua, yakni penduduk yang 20%? Mereka harus mengisolasi diri di rumah dan secara fisik tidak boleh dekat dengan penduduk kelompok pertama yang jumlahnya sekitar 80% (termasuk dekat dengan anak dan cucu).

Jika mereka ada yang diduga tertular, maka mereka boleh dimasukkan sebagai ODP untuk diisolasi atau PDP bagi mereka yang membutuhkan perawatan di RS khusus. Mereka harus diberikan obat-obatan untuk memperkuat antibodi. Mereka yang di rumah dan tidak tertular juga perlu diberikan kemudahan untuk mendapatkan obat-obatan dan makanan guna memperkuat antibodi.

Dengan demikian, RS khusus tersebut hanya diisi oleh orang-orang yang masuk kategori PDP dari kelompok penduduk kedua, yang jumlahnya sekitar 20%. Bukan dari penduduk kelompok pertama dengan prosentase 80%.

Melalui langkah ini, Pemerintah bisa lebih fokus untuk menangani COVID-19 beserta dampak yang ditimbulkannya, khususnya dampak ekonomi. Selain itu, jumlah korban juga bisa diminimalisasi. Efisiensi dan efektivitas bantuan akan lebih tinggi sementara perekonomian tetap jalan tanpa lockdown atau penghentian aktivitas ekonomi.

Jadi, penduduk yg masuk kategori pertama sebesar 80% bisa saja bebas bekerja untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Dengan respons dan langkah yang tepat seperti di atas, diperkirakan dalam tempo 1-2 bulan seluruh penduduk kelompok pertama yang 80% kemungkinan akan tertular virus tapi sudah kembali sehat karena memiliki antibodi yang kuat. Sementara itu,penduduk kelompok kedua yang 20% tidak sempat tertular dan tetap sehat. Sedangkan yang tertular, barangkali sudah banyak kembali sehat dari RS karena penanganannya lebih bagus dan realistis.

Jika kebijakan seperti ini diambil maka saya yakin perekonomian juga tidak akan banyak terkena dampak negatifnya. Sementara jumlah korban meninggal akibat C 19 akan sangat minimal.

Sebaliknya, sebagaimana respons banyak negara termasuk Indonesia, jika setiap orang yang tertular virus dimasukkan sebagai ODP dan PDP, tanpa membedakan dua kategori pengelompokan di atas, maka jumlah korban tertular tidak akan bisa tertangani ketika penyebaran virus mencapai puncaknya. Terlebih lagi ada kendala keterbatasan fasilitas dan tenaga medis di RS. Hal itu dikhawatirkan akan membawa banyak korban C 19 yang meninggal, terutama dari kelompok yg 20% tadi (Lansia dan orang pengidap penyakit kronis).

Semoga tulisan ini ada manfaatnya dan Indonesia cepat bangkit kembali, menang melawan wabah virus corona.

***) Dr. S Benny Pasaribu, PhD (Ekonom Senior, mantan Ketua KPPU RI)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN