Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja IHSG Desember 2009-2018, Net Buy/Sell Asing, dan NAB Reksa Dana

Kinerja IHSG Desember 2009-2018, Net Buy/Sell Asing, dan NAB Reksa Dana

Desember, Musim Window Dressing

Listyorini/Gora Kunjana, Selasa, 3 Desember 2019 | 16:54 WIB

JAKARTA, Investor.id - Desember menjadi musim semi bagi investor mengingat pada bulan tersebut umumnya harga-harga saham naik seiring aksi window dressing untuk mempercantik portofolio investasinya. Menjelang tutup tahun 2019, aksi window dressing atau upaya mempercantik portfolio investasi menjadi strategi yang dilakukan perusahaan maupun manajer investasi.

Tujuan dari strategi window dressing salah satunya adalah untuk meyakinkan investor dalam menanamkan modal investasi yang menguntungkan bagi perusahaan tersebut. Biasanya, window dressing dilakukan manajer investasi pada saham-saham dari perusahaan dengan nilai kapitalisasi (market capitalization) besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Data dari tahun 1997 hingga 2018 membuktikan bahwa bulan Desember menjadi momen tepat untuk melakukan window dressing, yang tercermin dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bahkan pada Desember 2017 kinerja IHSG naik 6,78%.

Tahun 2019, IHSG sempat di atas 6.400 dan banyak analis memprediksi indeks saham pada akhir tahun bisa mencapai 7.000. Tetapi prediksi tersebut pupus setelah berbagai kasus melanda sektor finansial, dari masalah asuransi Jiwasraya, Asabri, hingga kasus yang menimpa reksadana Narada dan Mina Padi.

Kasus-kasus tersebut mengakibatkan lunturnya kepercayaan investor dan menimbulkan kepanikan sehingga terjadi force sell (jual paksa) di pasar saham, yang tidak lepas akibat aksi redemption di reksa dana. Redemption berarti penebusan. Dalam dunia investasi portofolio, reksadana khususnya, redemption berarti penarikan kembali dana oleh investor dari manajer investasi. Hal ini mengakibatkan IHSG jatuh terperosok sangat dalam hingga di bawah 6.000 pada akhir November 2019.

Mengawali bulan Desember 2019, IHSG mulai bersemi kembali. Namun masih banyak investor yang bertanya-tanya, terjadikan window dressing pada tahun ini? Jika dilihat dari nilai kapitalisasi pasar, banyak emiten yang kehilangan hingga ratusan triliun. Sebagai contoh, nilai kapitalisasi saham PT Bank Central Asia Tbk sempat mencapai Rp 830 triliun, namun pekan lalu, nilai saham berkode BBCA itu sebesar Rp 762,7 triliun. Demikian juga dengan nilai kapitalisasi PT BRI Tbk yang pernah di atas Rp 550 triliun, pekan lalu tinggal Rp 494,5 triliun.

Pemodal asing lebih banyak menjual daripada membeli. Berdasarkan data per November 2019, aksi jual bersih (net sell) asing mencapai Rp 6,93 triliun. Karakteristik investor asing memang sangat sensitif terhadap kasus yang menimbulkan risiko. Berbagai masalah yang menimpa reksadana membuat mereka menghindar untuk sementara waktu dari pasar modal Inonesia.

Dari faktor global, aksi Presiden Donald Trump yang gemar nge-tweet acap menghempaskan pasar dalam ketidakpastian. Cuitan Trump selalu digunakan pelaku pasar untuk menaikkan dan menurunkan harga saham sesuai tujuan yang hendak dicapai.

Meski demikian, pasar modal di Indonesia memang anomali. Di saat indeks global, seperti DJIA, S&P, dan NASDAQ memecahkan rekor, dan indeks FTSE, DAX dan CIC mulai pulih, justru IHSG anjlok.

Turunnya harga saham saham BEI pada saat naiknya rata – rata saham global, harusnya menjadi kesempatan bagi investor untuk mengoleksi saham sekaligus menanti saat window dressing, karena harga saham-saham di BEI menjadi relatif lebih murah. Terlebih lagi, Januari Effect umumnya menjadi momen bagi manajer investasi menata portofolionya yang berdampak pada meningkatnya IHSG.

Faktor lain yang akan menjadi pendorong kenaikan IHSG adalah laporan JP Morgan yang memprediksikan pasar ekuitas di Indonesia akan bullish. Berbagai penopang IHSG bakal "berkibar" kembali, antara lain Omnibus Law, pelonggaran moneter dan stabilitas politik (koalisi pemerintah menguasai hampir tiga perempat parlemen).

Pasar modal merupakan salah satu sektor yang akan memperoleh “durian runtuh” jika Omnibus Law terkait pajak bisa efektif tahun 2020. Pasalnya, PPh Badan akan turun berangsur dari 25% ke 20%. Sementara itu, emiten yang sudah bercokol di BEI selama lima tahun akan dapat insentif lagi 3%. Pajak dividen pun tidak akan dipungut.

Desember semoga menjadi titik balik bagi IHSG untuk menuju trend bullish. Sejumlah  faktor positif yang mendukung trend tersebut antara lain, moment window dressing, aksi untuk menyambut Januari Effect, dan berbagai insentif yang akan dirilis pemerintah tahun depan guna menarik investasi, baik langsung maupun tidak langsung.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA