Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Investa.

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Investa.

Ekonomi Masa Depan: Digital dan Green Economy

Selasa, 19 Januari 2021 | 07:32 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

Investor.id - Blessing in disguise. Pandemi telah menggiring ekonomi global ke arah dua orientasi besar, green economy dan digital economy.

Isu green economy antara lain berkaitan dengan pemanasan global, emisi buang, spesi yang musnah, degradasi kualitas tanah, hingga gurunisasi global. Bukan isu baru. Tapi pandemi telah meningkatkan perhatian manusia ke arah itu menjadi makin intens.

Pada sisi lain, pandemi juga memacu percepatan perkembangan teknologi dan digitalisasi. Moblilitas manusia menurun, mobilitas barang meningkat. Kita semakin nyaman dengan belanja online, makin terbiasa bekerja dari rumah, pesatnya perkembangan infrastruktur digital, dan lain-lain.

Transformasi itu akan terasa langsung pada beberapa sektor. Pembangkit, misalnya, akan didesak untuk bergeser dari penggunaan energi fosil ke energi baru terbarukan. Perusahaan yang memasok listrik dengan pembangkit tenaga air, matahari, angin, panas bumi dan biomassa akan memiliki peluang usaha lebih besar.

Sektor manufaktur akan mengalami tekanan serupa. Sumber energi yang ramah lingkungan, bahan mentah yang tidak mengganggu kelestarian alam dan bahan pembantu yang bisa didaur-ulang, dan seterusnya.

Di sektor transportasi, kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil pelan tapi pasti akan digantikan oleh kendaraan berbahan bakar listrik.

Mineral Unggulan

Dalam konteks transformasi itu, saya melihat dua jenis sumber daya alam yang akan menjadi mineral unggulan. Yang akan menjadi mineral yang paling banyak diburu di tahun tahun yang akan datang.

Mineral itu adalah nikel dan timah.

Kita bersyukur, Indonesia memiliki dua mineral tersebut dalam jumlah yang cukup berlimpah. Dua mineral yang akan banyak menentukan geliat ekonomi Indonesia beberapa tahun ke depan.

Nikel, konon, merupakan bahan baku utama baterai lithium yang ekonomis. Setahun belakangan, nikel telah mendominasi aktivitas ekonomi Indonesia. Mulai dari investasi, kesempatan kerja, pemicu industrialisasi, potensi devisa dan pertumbuhan ekonomi.

Saat ekonomi nasional mengalami kontraksi, Provinsi Maluku Utara dan Sulawesi Tengah tetap mampu bertumbuh positif, berkat nikel. Peran nikel akan semakin membesar di tahun tahun yang akan datang.

Timah juga memiliki peluang. Meningkatnya produski alat alat elektronik dan mesin mesin - paralel dengan pertumbuhan teknologi - akan memacu permintaan akan timah. Perubahan kebiasaan dari pembelian makanan dan minuman dalam bentuk curah, yang dimakan di tempat, menjadi makanan dalam kemasan yang dibeli secara online, diperkirakan meningkatkan permintaan timah untuk kebutuhan kemasan.

Timah juga memiliki cerita lain. Salah satu mineral ikutan dalam proses produksi timah adalah monasit, yang bisa diolah lebih lanjut menjadi thorium dan elemen tanah jarang. Elemen yang disebut terakhir itu, tersedia cukup banyak di sini. Hanya belum tersentuh, karena keterbatasan teknologi dan know how. Elemen tanah jarang, terbukti dan diakui memiliki peran strategis dan ekonomis yang cukup penting.

*** Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Investa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN