Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: Komunitas investor pasar modal yang tergabung dalam INVESTA.

Ilustrasi: Komunitas investor pasar modal yang tergabung dalam INVESTA.

Era VUCA, Benarkah Konsep Investasi Harus Jangka Lama?

Sabtu, 3 Oktober 2020 | 11:42 WIB
Oleh Hari Prabowo dan B Siahaan

Investor.id - Saat ini banyak saham yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir harganya lebih rendah. Dan itu bukan saham-saham lapis dua dan tiga, namun saham-saham BLUE CHIPS ambil contoh UNVR, TLKM, HMSP, ASII, GGRM harga sahamnya sudah lebih rendah dari lima tahun yang lalu.

Jadi kalau saja kita membeli sahan-saham tersebut lima tahun lalu maka uang kita malah minus, dengan asumsi jika tidak memperhitungkan dividen tahunan.

Memang tahun 2020 ini adalah tahun penuh bencana, wabah Covid-19 telah meluluh lantakkan dunia usaha, semua sektor industri terdampak negatif. Setidaknya ini menjadi pembelajaran dan pengalaman kita bersama, bahwa hasil investasi tidak selalu ditentukan jangka waktu karena ada faktor situasional yang tidak pernah bisa terduga.

Mungkin jangka waktu itu bisa berlaku kalau semua berjalan normal termasuk kinerja perusahaan yang terus bertumbuh. Namun, saat ini perubahan terjadi begitu cepat. Era digital ditambah pandemi Covid memunculkan dominasi faktor ketidakpastian yang sangat tinggi, yang dikenal dengan istilah VUCA, Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (kompleks), dan Ambigue (tidak jelas).

Melihat sejunlah faktor tersebut, bisa menjadi pertimbangan buat kita bahwa investasi itu tergantung seberapa target hasil kita bisa tercapai, lebih cepat lebih baik.Hanya saja keinginan tidak selalu jadi kenyataan, karena banyak faktor yang di luar kemampuan kita untuk menganalisa, seperti dinamika politik, keamanan dan juga wabah Covid-19. Ini faktanya.

Jadi memang kadang dibutuhkan kesabaran menunggu waktu jika saham kita belum sesuai target hasil yang kita inginkan. Sehingga waktu yang lama itu sebenarnya adalah "keterpaksaan" menunggu target hasil.

Yang fatal adalah bagaimana kalau kinerja perusahaan terus terun? Apakah kita mesti sabar menunggu? Sampai kapan? Apakah yakin perusahaan akan bangkit kembali? Inilah yang menjadi tantangan sekaligus evaluasi diri untuk menemukan konsep investasi yang paling baik.

Kalau di Indonesia, time is money masih populer. Di Jepang sudah nyaris ditinggalkan hingga menjadi time is speed karena kita sudah memasuki era VUCA

Bahwa uang itu bisa akan semakin bertambah maupun akan semakin berkurang nilainya ketika perputarannya cepat. Singkat kata produktif.

Di bursa, transaksi pembelian atau penjualan adalah satu-satunyanya faktor penentu seberapa cepat uang itu berpindah kepemilikan dari satu tangan ke tangan yg lain.

Jadi, jika ditinjau dari teori Velocity of money kecepatan adalah penentu kedua-duanya, apakah uang yang berputar itu akan produktif sehingga bertambah atau justru berkurang. Dalam hal ini, perlu diperhatikan kecepatan dan ketepatan dalam berinvestasi.

Namun bisa jadi teori-teori itu pun tidak seluruhnya benar karena perkembangan teknologi dan dinamika politik, serta perkembangan pandemi Covid-19 sangat cepat. Inilah saatnya mengoreksi diri untuk menentukan strategi yang tepat dalam berinvestasi di tengah ketidakpastian yang sangat tinggi.

***Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA, pengamat pasar modal.

*** B Siahaan, anggota INVESTA, komunitas investor pasar modal.

 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN