Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Fenomena Investor Ritel Sikapi IPO

Senin, 19 Juli 2021 | 08:02 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – "Demam" investor ritel memburu saham saat initial public offering (IPO) terjadi di Bursa Efek Indonesia. Kenaikan sejumlah saham IPO yang cukup fantastis saat listing (pencatatan) perdana yang seringkali langsung terkenn auto reject atas (ARA) membuat ritel mengadu keberuntungan, yang terkadang mengabaikan berbagai analisa fundamental atas saham tersebut.

Bagi investor yang modalnya terbatas, bahkan melakukan penjualan saham yang ada di portofolionya baik dalam posisi cuan maun rugi demi berharap bisa dapat keuntungan dari saham IPO.

Karakter investor ritel yang mengadu keberuntungan di saham-saham IPO ini, biasanya segera menjual kembali saham IPO tersebut pada pertama listing untuk memperoleh kembali modalnya sekaligus harapan hasilnya.

Itu semua menjadi kebiasaan investor ritel dalam menyikapi saham IPO. Namun apakah model seperti itu selalu berhasil dilakukan? Tentu tidak selalu.


Saham IPO tidak selalu bisa naik harganya bahkan bisa terjadi kebalikannya yaitu harga turun di bawah harga perdana terutama jika para penjamin emisi tidak mau "menjaga" harga saham saat listing.

Jika jumlah saham yang ditawarkan terlalu banyak dan tidak semua terserap pasar perdana atau terjadi under subscribe maka pada saat listing kemungkinan besar harganya turun.

Lucunya lagi investor ritel begitu mengetahui saham yang dipesan saat IPO dipenuhi semua oleh penjamin emisi biasanya malah timbul rasa was-was dan panik karena merasa harga akan turun saat hari pertama diperdagangkan di bursa. Begitu jam perdagangan dibuka dan harga tidak naik maka ritel sontak beramai-ramai jual lagi sahamnya, dan ini semakin menekan harga dipasar.

Sebetulanya ada "rahasia umum" kenapa saham IPO naik saat listing? Kemungkinan yang dilakukan adalah terjadinya konspirasi antara perusahaan atau emiten, penjamin emisi dan pihak tertentu yang sebelumnya memborong dulu sebagian besar saham yang ditawarkan saat IPO.

Pada saat itu ritel hanya diberikan jatah sedikit pesanannya karena mayoritas sudah diberikan ke pihak tertentu yang biasa disebut "bandar". Karena saham sudah dikuasai bandar maka pada saat listing bandar mudah "mengangkat" harga saham tersebut naik setinggi mungkin.

Investor ritel yang hanya mendapat satu atau dua lot memang diuntungkan karena harganya naik tinggi, namun sekali lagi jumlah sahamnya cuma sedikit. Hal tersebut tidak sebanding dengan modal yang digunakan apalagi modal yang berasal dari cut loss saham dalam portofolio sebelumnya.

Belum lagi biasanya ritel juga gemar "mengejar layang-layang putus" artinya begitu saham baru IPO tersebut naik, mereka malah ramai-ramai membelinya lagi dengan harapan terus naik. Padahal situasi seperti itulah yang diharapkan para bandar karena mereka menjadi leluasa menjual sahamnya yang diborong saat IPO.

Jadi bagaimana sebaiknya jika ingin membeli saham IPO ?

1. Baca dan pelajari dulu prospektus dari perusahaan calon emiten tersebut bagaimana fundamental serta prospeknya kedepan.

2. Bandingkan dengan perusahaan yang punya sektor bisnis yang sama dan selevel untuk menilai valuasinya apakah harganya cukup wajar.

3. Perhatikan pula para penjamin emisinya serta model penjaminannya apakah full commitment (penjaminan pehuh) atau cuma penjaminan terbaik alias selakunya saja.

4. Jumlah saham yang diawarkan apakah sekiranya bisa terserap pasar.

5. Perhatikan minat para investor publik dalam menyikapi saham yang IPO tersebut.

Saham IPO mulai awal tahun ini sampai 9 Juli 2021 tercatat sudah ada 25 saham, dan masih banyak yang antre untuk melantai di bursa, salah satunya Bukalapak. Saham all commerce ini menjadi perhatian karena merupakan unicorn pertama yang masuk bursa dan nilainya juga spektakuler sekitar Rp 21,9 triliun.

Selain itu saat ini juga sedang banyak rencana aksi korporasi dari para emiten untuk Right Issue termasuk emiten kakap perusahaan BUMN dan juga grup besar dengan jumlah kebutuhan dana yang sangat banyak.

Mampukah pasar menyerap semuanya? Harapanya ada dana asing yang masuk kembali ke bursa kita.

Jadi pertimbangkan dengan baik dalam memilih saham IPO yang prospektif dan harganya wajar. Di sisi lain banyak pula saham yang punya fundamental bagus tapi harganya sedang terdiskon saat ini.
 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN