Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA , dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA , dan pengamat pasar modal.

KOPI PAGI

Harga Diri Emiten

Selasa, 15 September 2020 | 07:14 WIB
Oleh Hari Prabowo

Investor.id - Saat ini bursa saham sedang bergerak dengan volatilitas yang tinggi dan susah diduga arah pergerakkannya. Tolok ukur yang biasa kita gunakan adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencerminkan rerata naik turunnya seluruh harga saham di bursa.

IHSG pekan lalu sempat anjlok parah karena pengaruh eksternal yaitu melemahnya indeks bursa global yang dimotori penurunan indeks di Wall Street, yakni Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite. Ambrolnya harga saham-saham teknologi menjadi penekan saham-saham di bursa AS.

Dari sisi internal, IHSG mendapat sentimen negatif dari rencana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jakarta. Spekulasi terkait PSBB membuat IHSG pada Kamis pekan lalu anjlok tajam, bahkan perdagangan sempat dihentikan oleh otoritas bursa.

Namun, ketika PSBB diberlakukan pada Senin (14/9/2020), justru IHSG naik cukup tinggi 2,9% di level 5161. Inilah salah datu "seni" dalam perdagangan saham bahwa apa yang diperkirakan belum tentu terjadi bahkan bisa berlawanan faktanya.

Hal yang menarik dari anjloknya harga saham pekan lalu, ada beberapa saham yang justru "melawan arus" sehingga harganya malahan naik. Salah satunya adalah PT Bank Central Asia Tbk dengan kode saham BBCA.

Saham yang berkapitalisasi paling besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini nampak ditekan dengan aksi penjualan oleh investor asing secara masif dengan jumlah nyaris Rp1 triliun, namun terus mendapat perlawanan dari investor lokal sehingga harga saham BBCA bisa ditutup naik lebih tinggi dari sebelumnya.

Siapa pembeli lokal tersebut yang berani melawan aksi jual investor asing dengan cara membeli di pasar reguler ? Baru kemarin diberitakan bahwa ternyata salah satu pengurus Bank BCA yang memborong diatas Rp 500 miliar sendiiri.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa ada pengendali emiten / perusahaan publik yang punya tanggung jawab dan harga diri dalam menjaga nilai perusahaannya.

Ketika harga sahamnya mendapat tekanan jual yang tidak wajar, mereka punya kemampuan untuk menampung sahamnya sehingga mampu bertahan dari penurunan harga secara tajam.

Keberanian mencerminkan bahwa pengurus, baik itu anggota Direksi atau Komisaris, sangat percaya terhadap prospek perusahaan dan mengetahui fundamental dengan baik, selain mempertahankan nilai harga diri emitennya.

Ini mirip program "buy back" , hanya saja kalau buy back dilakukan dengan dana emiten. Sementara itu, pembelian kali ini langsung dilakukan oleh pengurus dengan dana pribadi , yang kemudian dilaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah terjadinya transaksi.

Menurut saya, ada baiknya investor juga memasukkan pengendali suatu emiten dalam mempertimbangkan ketika memilih saham yang akan dibeli untuk portfolionya selain analisa yang lain.

Ini ibarat mau naik mobil kita mesti lihat kondisi mobil dan sopirnya. Tidak jarang pula pengendali emiten yang tidak peduli dengan harga sahamnya yang ada dipasar dan menyerahkan pada kekuatan pasar. Berbeda dengan BBCA.

***Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN