Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Diskusi daring dengan tema

Diskusi daring dengan tema "Fraud pada Keperantaraan Pedagang Efek (Case Study)" diselenggarakan oleh Ikatan Dosen Pasar Modal Indonesia (IDPMI) bekerjasama dengan LP3M Investa.

Hati-Hati Saham Gorengan

Minggu, 12 Juli 2020 | 09:30 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Gorengan memang rasanya gurih dan nikmat, tetapi di dalamnya terkandung kolesterol yang membahayakan. Demikian juga dalam perdagangan saham yang dikenal dengan saham "gorengan", jika tidak hati-hati investor akan terjebak dalam kerugian yang bisa membawa penyakit dalam porfolio kita.

Dalam diskusi daring, Ketua LP3M Investa Hari Prabowo menjelaskan tentang modus penggorengan saham. Memang nikmat jika investor masuk (membeli) pada saat yang tepat, tetapi banyak di antaranya justru terjebak dalam kerugian.

"Harga saham-saham tiba-tiba melonjak tinggi tanpa ada faktor fundamental yang mendukung. Transaksinya sangat aktif sehingga menarik investor untuk ikut trading dengan harapan mendapat cuan, tetapi tidak sedikit yang justru harus menelan kerugian karena ketika membeli sahamnya tak bisa dijual karena harganya rontok dalam waktu singkat," katanya dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Dosen Pasar Modal Indonesia (IDPMI) bekerjasama dengan LP3M Investa.

Diskusi dengan tema "Fraud pada Keperantaraan Pedagang Efek (Case Study)" tersebut juga diikuti oleh Direktur Pemeriksaan Riset dan Pengembangan PPATK Ivan Yustia Vandana, serta Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia periode 2015-2018 Hamdi Hassyarbaini.

Menurut Hari, ada sejumlah modus kejahatan di pasar modal:

1. Penggorengan saham yang melibatkan sejumlah pihak. Dalam istilah pasar sering disebut sebagai bandar, yang menjadi strudara dalam penggorengan saham. Bandar ini bisa terafiliasi dengan emiten, manajer investasi (MI), dan sekuritas.

Tujuan konspirasi adalah mencari keuntungan. Namun, langkah yang dilakukan bisa desain menjadi unsur kejahatan (fraud).

Ia mencontohkan kasus Jiwasraya yang menaikkan harga portfolio melalui produk reksa dana tunggal (RDT) dimana bandar terus menggerakkan harga saham-saham dalam RDT. "Saat ini Otoritas Jasa Keuangan telah menyetop RDT karena berpotensi ada unsur fraud," katanya.

Ia menjelaskan, ulah bandar yang membentuk harga semu membuat investor merugi karena saham-saham tersebut susah dijual di pasar dan tak jarang harganya jatuh ke titik paling rendah, yakni Rp 50.

Hari juga melihat fenomena penggorengan saham saat IPO. "Banyak harga saham waktu listing perdana langsung naik hingga 70% dan terkena auto reject atas (ARA). Tapi apakah harga itu benar-benar riil," tanyanya.

Ia melihat, saham-saham yang baru IPO mengalami oversubcribe (kelebihan permintaan) sehingga publik hanya dapat sangat sedikit lot dalam penjatahan. Padahal sebenarnya saham-saham itu dipegang pihak-pihak tertentu agar saat melantai langsung ARA, dan setelah beberapa hari kemudian harganya rontok.

"Ada pekerjaan yang seperti itu, mengumpulkan nama-nama aspal (asli tapi palsu) agar terkesan penawaran saham mengalami oversubscripe agar jatah publik sangat sedikit," ujarnya. Ia menyadari, sulit untuk membuka modus seperti ini.

Ketua LP3M Investa Hari Prabowo
Ketua LP3M Investa Hari Prabowo

Informasi Tidak Benar

2. Modus kejahatan lainnya adalah memberikan informasi yang tidak benar. Contohnya, rekomendasi buy untuk investor padahal sekuritas mau melakukan sell, atau sebaliknya.

Ketua LP3M Investa ini meminta para investor juga berhati-hati terhadap informasi yang tidak benar karena adanya benturan kepentingan antara fungsi perantara dan pedagang sehingga merugikan nasabah.

3. Kejahatan lainnya yang perlu dicermati adalah mengeluarkan produk investasi, baik langsung atau tidak langsung yang tidak sesuai aturan. Modusnya dengan melakukan kerja sama dangan pihak lain memanfaatkan perizinan dari otoritas untuk menarik dana dari publik yang akhirnya tidak bisa dikembalikan. Contohnya adalah kasus Antaboga Sekuritas.

4.Terlibat transaksi REPO (repurchase ageement) dengan instrumen saham "abal-abal" yang gagal di kemballikan dananya. "Transaksi REPO dengan jaminan saham perlu dicermati karena bisa jadi menjadi instrumen kejahatan," katanya.

Ia mencontohkan, REPO dengan jaminan saham senilai Rp 20 miliar untuk pinjaman senilai Rp 10 miliar pada jangka waktu tertentu. Kondisi ini seolah aman karena ada jaminan 2 kali nilai awal tetapi harus diwaspadai karena harga saham tidak menutup kemungkinan sudah digoreng terlebih dahulu sehingga sebelum jatuh tempo bisa saja harga saham akan turun signifikan bahkan dibawah nilai awalnya

5. Tidak melakukan pelaporan
Modus ini dengan cara perusahaan sekuritas melaporan MKBD (modal kerja bersih yang disesuaikan) yang tidak benar kepada pihak Bursa dan OJK dan hal ini mempengaruhi nilai transaksi harian dan fasilitas margin yang bisa diberikan

Selain itu perusahaan sekuritas juga dapat berpotensi menjadi sarana pencucian uang dengan tidak melakukan pelaporan kepada PPATK sebagaimana mestinya.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN