Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Leading dan lagging indicator

Ilustrasi Leading dan lagging indicator

Ini Dia Pengertian Leading dan Lagging Indicator di Kripto

Rabu, 18 Mei 2022 | 12:00 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Leading dan lagging indicator adalah indikator yang banyak diaplikasikan oleh investor untuk memantau kinerja dan memprediksi pergerakan harga aset di masa depan. Dikutip dari Pintu Academy, lagging indicator adalah salah satu indikator penting yang berfungsi untuk mengkonfirmasi tren pasar yang sudah terjadi atau sedang terjadi.

Dilansir dari laman IG Markets, lagging indicator merupakan indikator yang banyak digunakan oleh trader untuk mengonfirmasi tren harga aset sebelum mereka membuka posisi. Jika tren harga yang sedang berlangsung sesuai dengan asumsi yang dibuat, trader akan lebih percaya diri ketika memasuki pasar.

Berlawanan dengan lagging indicator, leading indicator adalah indikator yang digunakan untuk memprediksi tren atau peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang mengenai kinerja bisnis, kondisi pasar aset, dan perubahan ekonomi. Istilah ini berasal dari ilmu ekonomi yang diartikan sebagai faktor terukur sebelum kondisi pasar mengikuti tren. Selain itu, leading indicator merupakan indikator yang banyak digunakan investor sebagai panduan ketika menyusun strategi investasi guna mengantisipasi kondisi pasar di masa depan.

Baca juga: Harap Tenang! Meski Kripto Anjlok Berlarut Investor Diimbau Tak Perlu Panik

Jenis-Jenis Lagging dan Leading Indicator:

1.Moving Averages (MA)

Indikator ini didasarkan pada data historis harga aset. Persilangan antara garis MA dengan dua rentang waktu yang berbeda bisa menjadi sinyal pembelian maupun penjualan aset.

2.Indikator MACD

Pada dasarnya, MACD didasarkan pada tiga komponen utama, yaitu dua garis MA dan histogram yang bisa menjadi sinyal kapan trader harus buka atau tutup posisi.

3.Bollinger Bands

Indikator ini didasarkan pada rata-rata pergerakan aset dalam rentang waktu tertentu (Moving Average) dan standar deviasi positif maupun negatif sebagai indikasi volatilitas. Deviasi besar mengindikasikan volatilitas yang meningkat, sedangkan deviasi kecil menunjukkan volatilitas yang menurun.

Baca juga: Apa Itu Wyckoff Schematics dalam Perdagangan Kripto?

Secara umum, terdapat empat leading indikator yang umum digunakan oleh para trader dan investor. 

1.Relative Strength Index (RSI)

RSI adalah indeks momentum yang digunakan trader untuk mengenali kondisi overbought atau oversold di pasar. RSI menampilkan sinyal dari skala 0 sampai 100. RSI di atas 70 mengindikasikan kondisi overbought (grafik merah), sedangkan RSI di bawah 30 berarti menunjukkan kondisi oversold (grafik hijau).

2.Stochastic Oscillator (OS)

Indikator ini digunakan untuk membandingkan level harga penutupan baru-baru ini dengan harga perdagangan sebelumnya. Jika osilator menunjukkan angka lebih dari 80, maka pasar dianggap overbought. Sebaliknya, jika nilai OS di bawah 20, maka mengindikasikan kondisi oversold.

3.Williams %R

William %R adalah salah satu indikator yang memiliki kemiripan dengan Stochastic Oscillator, tetapi rentang skalanya negatif, yaitu dari 0 sampai -100. Bedanya adalah nilai -20 menunjukkan sinyal overbought, sedangkan nilai -80 mengindikasikan kondisi oversold.

4.On-Balance Volume (OBV)

OBV adalah indikator yang menunjukkan kenaikan maupun penurunan volume transaksi. Trader akan menggunakan data tersebut untuk menganalisis kemungkinan kenaikan atau penurunan harga dalam waktu dekat. Dalam praktiknya, OBV sering digunakan bersama dengan indikator lagging.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN