Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Safitri Siswono, pengusaha muda

Safitri Siswono, pengusaha muda

Investasi Masa Pandemi, Mengapa Tidak?

Sabtu, 5 Juni 2021 | 10:27 WIB
Oleh Safitri Siswono

Investor.id- Wabah pandemi Covid-19 sudah melewati dua belas kali purnama, bukan hanya di Indonesia, juga dunia. Sepertinya kita tidak bisa menunggu peristiwa luar biasa ini tuntas, baru beraktivitas. Seperti layaknya menunggu malam usai, dan menyambut hari yang baru di pagi nanti.

Banyak pelaku usaha, maupun anggota masyarakat, penduduk dunia, yang batas kemampuannya bertahan hidup sudah sampai di kerongkongan. Kita harus bergerak menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Sedihnya, zaman ini adalah zaman pandemi. Tetapi, harus kita hadapi sebagai bagian dari tantangan hidup, ujian yang harus dilewati. Tak bisa dihindari.

Kita harus percaya bahwa manusia adalah makhluk adaptif, yang memiliki akal budi untuk mencari cara menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya. Karena, jika tidak punya kemampuan ini, species manusia pasti sudah punah sejak lama.

Tak terkecuali diriku, yang harus beradaptasi dalam situasi ini. Kebetulan aku memimpin grup bisnis yang memiliki berbagai lini, yaitu hotel, tempat wisata, air minum kota, konstruksi, retail, properti dan masih banyak lainnnya. Bisakah dibayangkan betapa beratnya beban yang aku hadapi, seorang perempuan bertubuh kecil ini, dalam setahun terakhir. Namun, aku tidak ingin berbagi bebanku dalam tulisan ini.

Aku lebih mau berbagi apa yang bisa dipelajari dari situasi selama setahun ini. Aku ingin berbagi pengalaman dari perjalananku. Ini adalah kisahku di bisnis tempat wisata. Aku suka bisnis ini, karena selalu menyentuh ke masyarakat di akar rumput. Konsumen yang datang biasanya siap untuk bersenang-senang. Meraka akan datang dengan wajah gembira bersama keluarga. Namun, bisnis tempat wisata di masa pandemi, terkena pukulan hebat badai pandemi. Grup bisnisku memiliki beberapa tempat wisata, tetapi ada satu cerita yang sangat menarik.

Hari itu, Jumat 20 Maret 2020. Seorang karyawanku memberi laporan. “Bu, Lembah Cisadane (Lemcis) diminta tutup sementara karena pandemi Covid 19,” ujarnya melalui pesan ponsel yang aku terima. Leherku rasanya tercekat. Aku baru buka tempat ini bulan November 2019. Terletak di Ciseeng, Kabupaten Bogor. Di area wisata ini dibangun kolam renang, tempat makan, wahana untuk keluarga, agro wisata, camping ground dan outbound. Baru buka kurang lebih empat bulan, sudah pasti belum balik modal. Tapi mau bagaimana lagi. Paling hanya disuruh tutup satu minggu, kataku dalam hati sambil menguatkan diri.

Satu minggu kemudian, aku kembali mendapatkan laporan. “PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diperpanjang lagi, Lemcis belum boleh buka, Bu,” ujar stafku. Sementara itu, badai dari bisnis lain pun ikut-ikutan datang menerpa, kencang, kompak dan berbondong bondong. Aku rasanya sulit bernafas, berada di tengah pusaran badai yang belum pernah aku alami. Dunia pun rasanya berkabut.

Sebulan berlalu dan tempat wisata masih belum boleh buka. Karyawanlah yang paling aku khawatirkan. Sebagian dari mereka baru pertama kali bekerja formal. Semua dari kita belum pernah memiliki tempat kerja yang tutup karena pandemi, dan belum jelas kapan bisa bekerja lagi. Terlihat jelas di tatapan mereka, kecemasan dan harapan yang belum bersambut. Saat itu aku putuskan, Lemcis harus move on. Kasak punya kusuk, konon kabarnya kedai atau resto bisa tetap buka. Jika tempatnya outdoor, sudah pasti boleh buka. Demikianlah kabar burung yang tersiar.

Sadar melakukan investasi pada saat pandemi baru dimulai adalah hal yang sangat berat. Saat itu, aku sebetulnya cukup enggan untuk investasi lagi di Kawasan ini. Karena baru selesai investasi di Lemcis, dan jelas-jelas belum balik modal. Mungkin karena rasa engganku tercium, maka kemudian Tuhan pun turun tangan. Saat rasanya mulai frustasi, aku dipertemukan kembali dengan partner lama di bisnis wisata lainnya, yang kebetulan mau bekerja sama untuk mendirikan tempat kopi.

Kopi Kayangan

Maka mulailah kami mencari Bandung Bondowoso yang bisa membangun resto outdoor dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kurang dari sebulan, lahirlah Kopi Kayangan, tempat ngopi trendi di dalam kawasan wisata Lembah Cisadane. Kita memang harus yakin bahwa Tuhan akan memberikan kemudahan disetiap ujian-Nya.

Mengapa diberi nama Kopi Kayangan? Karena tempat ini berada di atas lembah, dengan pemandangan jejeran gunung bumi Pasundan. Di pagi hari, kita bisa menikmati matahari terbit di kejauhan, dan bersyukur kepada Tuhan karena telah dipertemukan dengan hari yang baru. Jauh di kakinya, mengalir sungai Cisadane yang yang lebar dan perkasa, melantunkan persembahan kepada Sang Pencipta. Kopi Kayangan, sepertinya nama ini mudah diingat, diiringi sejuta doa dari jiwa-jiwa yang mengharap berkah.

Lahirnya Kopi Kayangan diikuti dengan problema bisnis biasa. Masalah pertama adalah bagaimana cara memasarkannya? Konsumen dari lokasi sekitar cukup banyak yang datang, namun tentunya belum cukup. Karena lokasi Lemcis ini berada di pinggiran, maka Kopi Kayangan berusaha untuk mendatangkan konsumen dari tempat yang lebih jauh, seperti Jakarta, Bintaro, BSD, Bekasi, Depok dan Bogor. Ingatlah bahwa Tuhan selalu menjanjikan kemudahan, pandemi ini membuat hobi bersepeda dapat berkembang menjadi komunitas-komunitas yang fanatik.

Beberapa teman dengan komunitas sepedanya masing-masing, melakukan gowes ke Kopi Kayangan. Rute yang ditempuh mayoritas BSD – Kopi Kayangan atau Bogor Kota – Kopi Kayangan, yang terjauh mungkin Jati Asih – Kopi Kayangan. Teman-teman yang baik ini memposting aktivitas mereka di berbagai grup gowes, sehingga akhirnya Kopi Kayangan dikenal dan menjadi salah satu tujuan para komunitas sepeda. Kemudian teman-teman yang lain pun ikutan datang, memposting konten di media sosialnya masing-masing dan tempat ini pun mulai dikenal.

Empat bulan sejak pertama kali ditutup, akhirnya Lemcis boleh dibuka kembali. Jika aku kilas balik sekarang, saat Lemcis dipaksa tutup, sepertinya Tuhan ingin menunjukkan sesuatu padaku. Bagaimana menyentuh hati para karyawan agar mau berjuang bersama, membuka diri terhadap perubahan, mengingat lagi bahwa rezeki kita dititipkan pada manusia lainnya, dan terutama ditunjukkan caranya membuat tempat ini bertambah maju.

Setelah berjalan, aku berusaha untuk menyambangi setiap tempat usahaku minimal satu minggu sekali. Walaupun terkadang janji itu sangat susah untuk ditepati. Beberapa hari yang lalu saat briefing bersama di Lemcis, kutatap mata setiap mereka. Aku hafal semua nama, bahkan sampai ke tukang kebun sekali pun. Wajah mereka merah merona, matanya bersinar cemerlang, dalam hati aku bersyukur, sungguh berbeda dari yang kulihat setahun yang lalu. Aku sangat berterima kasih pada mereka, dan sepertinya mereka juga berterima kasih padaku. Kami sama-sama grateful for each other, dan hatiku pun terasa hangat.

Saat memulai usaha, kita pasti berpikiran besar dan mendambakan pencapaian yang membanggakan. Sudah seharusnya memang begitu. Namun ternyata kita hidup dari pencapaian-pencapaian kecil. Menyambung nafas dari sorot mata terima kasih yang bahkan tidak terucap. Mengaliri darah dengan perasaan memberi makna. Berusaha mengendus kebahagiaan orang lain, karena itu yang mengisi lambung kita. Dan perjalanan ini memaksaku menjadi orang yang spiritual. Ya, spiritual, dan bukan kata lainnya.

Menikmati Kopi Kayangan dan alam Cisadane
Menikmati Kopi Kayangan dan alam Cisadane

Belajar dari Masa Pandemi

Aku belajar, dan dalam masa pandemi ini terpaksa kuperdalam lagi, bahwa semua pencapaian itu adalah hal yangg materiil. Sering kita terbatasi dengan semua hal yang sifatnya materi, berapa banyak, berapa kuat, berapa cepat, dan seterusnya. Padahal sesungguhnya hasil bukanlah urusan manusia. Justru itulah tantangannya, untuk bisa melepaskan diri dari semua ikatan dengan materi. Karena sesungguhnya itu semua bukan milik kita, dan pada akhirnya bukan itu pula yang kita butuhkan.

Namun sebagai manusia, sungguh wajar jika kita selalu ingin lebih. Karena itu, saat mengejar pencapaian kita harus selalu mengingat Sang Pencipta, agar hati kita menjadi tenang. Bagaimana cara mengejar pencapaian besar dengan mengingat Tuhan? Jangan fokus pada piala atau pencapaian besarnya, tapi nikmati pencapaian-pencapaian kecilnya. Karena ternyata spiritual kita dibentuk dari hal-hal yang sifatnya immateriil, seperti perasaan bermakna, keterikatan dengan orang lain, senang karena memberi, dan sebagainya.

Dengan begitu, dimana pun pencapaian kita, jika itu di atas, maka kita bisa menekan rasa sombong (karena semua itu milik Tuhan). Jika ternyata itu di bawah, tidak akan ada penyesalan (karena hidup ini bermakna). Dan dimanapun kita mencapai, kita merasa disayangi (karena sudah menabur).

Berkali-kali disebutkan dalam Al Quran, dan pasti serupa juga dalam kitab suci lainnya, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. Aku mengenal kata itu, jauh sebelum mengerti artinya. Hari itu aku menerima pemberian dari salah seorang karyawanku, dua kantong makanan sederhana yang selalu aku suka. Namun maknanya membuat hatiku sunggu bergetar. Di tengah cakap dan senda gurau kami, aku “Amin” kan lagi ayat tersebut. Dan pemberian ini pun, rasanya luar biasa.

*** Safitri Siswono, pengusaha muda.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN