Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, Pemerhati Pasar Modal, mantan DIrut PT Bursa Efek Indonesia.

Hasan Zein Mahmud, Pemerhati Pasar Modal, mantan DIrut PT Bursa Efek Indonesia.

Celotehan Saham

Memadamkan Kebakaran di Pasar Modal

Oleh Hasan Zein Mahmud, Jumat, 29 November 2019 | 10:15 WIB

JAKARTA, Investor. id -Di tempat lain, saya menulis banyak tentang kasus asuransi Jiwasraya, lalu Asabri, dan kasus reksadana (RD) Narada dan Mina Padi. Juga warning tentang dampak domino yang akan ditimbulkannya bagi saham saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saya tak hendak mengulangi celotehan itu. Lebih baik memotret kondisi mutakhir, saat ini

IHSG menutup perdagangan pada Rabu lalu, 28 November 2019 dengan miris. November kelabu! Ambang psikologis, 6.000, jebol sudah. Ditutup pada 5.953, turun 1,16%. Turun 14 sesi berturut-turut! Year to date (YTD ) IHSG kehilangan nilai hampir 4%. Dan itu terjadi bersamaan dengan rekor demi rekor yang dipecahkan oleh DJIA, S&P, dan NASDAQ. Bersamaan dengan pulihnya indeks FTSE, DAX dan CIC.

Turunnya harga saham saham BEI pada saat naiknya rata – rata saham global, relatif akan membuat harga saham BEI menjadi lebih murah. Lalu logika sederhana, air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tapi kenapa asing terus menerus pull out, dan harga nyaris tak menunjukkan perlawanan.

JP Morgan mempublikasikan prediksi bullish nya terhadap pasar ekuitas Indonesia. Diiming- imingi Omnibus Law, pelonggaran moneter dan stabilitas politik (koalisi pemerintah menguasai hampir tiga perempat parlemen).

Pasar modal merupakan salah satu sektor yang akan memperoleh “durian runtuh” kalau Omnibus Law terkait pajak bisa efektif tahun 2020. Bayangkan! PPh Badan akan turun berangsur dari 25% ke 20%. Emiten yang sudah bercokol di BEI selama lima tahun akan dapat insentif lagi 3%. Pajak dividen akan tidak dipungut. Wow. Sekali lagi wow.

Lalu kenapa berita gembira itu disambut bukan hanya dengan dingin, tapi dengan “melengos”?. Dalam pandangan saya satu faktor yang mendesak diperbaiki adalah TRUST. No well-functioning capital market without trust. When it comes into trust, there is no quick fix. You can-not buy trust. You have to build it brick by brick. You have to earn it through deeds and conducts.

Contagion effects dari kasus Jiwasraya, Asabri, Narada, Mina Padi mulai bicara. Ada asset under management (AUM) besar yang harus dilego. Penurunan tajam pada nilai aktiva bersih (NAB) banyak reksadana. Tekanan likuiditas akan mendorong panic selling dan transaksi repo agar para manajer investasi (MI) itu tidak default. Default, suka tidak suka akan menjadi spiral penurunan kepercayaan terhadap pasar.

Saya mengusulkan membuka rute alternatif untuk mengurangi selling pressures. Antara lain, menghimbau emiten untuk buy back, membeli kembali unit penyertaan dengan membayar pakai efek, bahkan memindahkan pengelolaan reksadana bermasalah kepada MI lain

Saya juga sadar alternatif alternatif itu selain perlu persetujuan dan pedoman Otoritas, juga sangat tidak mudah. Manajemen pemadam kebakaran memang tak pernah mudah…..

*** Hasan Zein Mahmud, Pemerhati Pasar Modal, mantan Dirut PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA