Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Pemerhati Pasar Modal

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Pemerhati Pasar Modal

Memasuki Siklus Quantitative Easing

Jumat, 6 Desember 2019 | 13:56 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

JAKARTA, Investor.id - Ketika Federal Reserve (The Fed) membanjiri pasar dengan likuiditas, membeli lebih dari US$ 2 triliun treasuries dan mortgage backed securities, yang popular dengan kebijakan quantitative easing pada 2011, harga emas naik mencatat rekor sepanjang sejarah, US$ 1,923.70 per troy ounce. Harga emas tahun ini memang sudah naik sekitar 15%. Namun masih jauh di bawah rekor 2011 tersebut.

Saya memperkirakan tahun 2020 akan memasuki siklus quantitative easing kembali. Dunia kini kembali bergerak ke arah “zero interest rate”. Bank of Japan (BOJ), pada sidangnya akhir Oktober lalu, mengikuti penurunan tingkat bunga yang dilakukan The Fed, tetap mempertahankan tingkat bunga acuan negatif – 0,1%. Kebijakan tingkat bunga negatif telah dipertahankan bank sentral Jepang itu sejak 2016.

Bank of England mempertahankan tingkat bunga rendah, tapi positif. 0,75%. Pada saat yang hampir bersamaan, European Central Bank (ECB) mempertahankan tingkat bunga deposit – 0,5% dan refinancing rate pada 0,00%

Tak cukup dengan tingkat bunga rendah, tahun 2020 juga akan ditandai dengan semakin besarnya stimulus yang dipompakan kebijakan moneter untuk mendorong laju mesin ekonomi. ECB, BOJ sudah siap dengan kucuran stimulus yang besar.

Hal lain yang berpeluang mengerek harga emas lebih tinggi adalah perdagangan internasional yang semakin protektif. Pembicaraan AS-China yang semula dijhadwalkan 15 Desember, ditunda sampai tahun depan. UU yang membela demonstran Hongkong yang ditandatangani presiden Trump baru-baru ini, bagi Tiongkok merupakan campur tangan urusan dalam negeri. Perang hegemoni dan perebutan dominasi semakin menunjukkan wajahnya. Dari arena perdagangan, ke teknologi, kini bergerak ke arena diplomatik. Di medan manakah perrebutan hegemoni itu berlanjut?.

Tarif bea masuk Trump kini juga semakin melebar ke Argentina, Brazil dan Perancis. Eropa nampaknya kompak bersiap melakukan retaliasi. Perdagangan internasional semakin begerak dari globalisasi yang saling ketergantungan ke arah nasionalisme proteksionistis yang saling mengerdilkan satu sama lain.

Diskusi tentang kemungkinan resesi 2020, nampakny mereda. Namun mereka yang rajin mengamati indikator, tentu dapat melihat bahwa perlambatan ekonomi masih beringsut di sana.

*** Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut Bursa Efek Jakarta, Pemerhati Pasar Modal

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN