Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nadia Hasnah  Humaira, ambassador dari Padusi.id, sebuah wadah anak muda Indonesia untuk berbincang, tukar pikiran dan menyerap ilmu dari sederetan narasumber inspiratif yang sudah berkarya secara nyata. ( Foto: Istimewa )

Nadia Hasnah Humaira, ambassador dari Padusi.id, sebuah wadah anak muda Indonesia untuk berbincang, tukar pikiran dan menyerap ilmu dari sederetan narasumber inspiratif yang sudah berkarya secara nyata. ( Foto: Istimewa )

Menanamkan Jiwa 'Solution Maker' pada 'Sociopreneur'

Selasa, 27 April 2021 | 12:20 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Hal paling utama yang harus tertanam dalam mindset seorang pebisnis adalah menjadi problem solver atau solution maker. Melalui mindset tersebut pebisnis akan terpacu menjadi lebih kreatif dan inovatif, yang mana merupakan karakter pengusaha sekaligus jiwa seorang sociopreneur.

Demikian benang merah sociopreneur discussion series ke-4 yang dihelat pada Senin (26/4), dengan menghadirkan bintang tamu CEO dan Founder Wahyoo, Peter Shearer dan dipandu oleh Nadia Hasna Humaira, seorang penggiatsociopreneur sekaligus brand ambassador Padusi.id.

Dalam acara diskusi itu, Peter – yang merupakan pelaku sociopreneur – mengaku solution maker adalah tuntutan yang harus dihadapi saat memberikan pendampingan kepada para mitra Wahyoo. Namun justru dengan terbiasanya mencari solusi, mereka terpacu menjadi lebih kreatif dan inovatif yang semakin memperkuat karakter dan jiwa pengusaha mereka.

“Kita harus melihat setiap masalah untuk dihadapi, bukan dihindari. Inilah yang membentuk jiwa pengusaha kita,” ujar dia dalam siaran pers, Senin.

Sebagai informasi, Wahyoo adalah perusahaan start-up local yang focus membantu warung makan tradisional untuk meningkatkan daya saingnya melalui pendampingan usaha berkelanjutan. Layanan yang disediakan platform ini meliputi kemudahan berbelanja, layanan teknologi pendukung, pelatihan wirausaha, kegiatan komunitas, dan renovasi warung.

Nadia pun mendukung pernyataan Peter. Menurutnya, saat seseorang membangun bisnis maka pada dasarnya ia sedang membangun orang, dan kemudian orang tersebut membangun bisnis. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa pada dasarnya sifat dasar manusia adalah saling menjaga.

“Saya sangat setuju dengan pernyataan Richard Branson bahwa jika Anda tidak membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain, maka Anda tidak boleh berbisnis,” katanya, menyitir ketegasan sang legenda bisnis yang banyak menjadi inspirator pebisnis dunia.

Senada dengan keyakinan Nadia, Peter mengungkapkan sudah merasakan masa tidak pernah mencapai titik puas saat bisnisnya hanya fokus hanya pada tujuan pribadi. Namun begitu pikirannya terbuka, bahwa bisnis harus memberi dampak baik kepada orang lain, hanya dengan sharing yang sederhana saja, ia merasa mendapatkan kepuasan tak terhingga.

“Ada perasaaan lebih dari sekadar uang, rasa puas yang tak terhingga. Jadi uang tidak lagi menjadi tujuan akhir, tapi sebagai alat agar dapat menciptakan dampak social yang lebih besar,” tuturnya, menceritakan perasaannya ketika Wahyoo berhasil memberangkatkan umroh mitra bisnisnya atau saat memberikan bea siswa kepada pemilik warung keluarga Wahyoo besar.

Secara teori, Peter sudah membuktikan rekomendasi sebuah riset, bahwa bisnis yang memiliki tujuan baik akan lebih mudah mendapatkan customer. Termasuk hasil riset lain yang menyatakan, karyawan pada perusahaan yang memliki dampak sosial baik akan lebih bersemangat, dan memiliki motivasi lebih tinggi dalam berkarya. Oleh karena itu tidak heran, perusahaan berkarakter sociopreneurship biasanya lebih mudah mendapatkan karyawan terbaik.

Dan dengan dukungan customer serta karyawan secara internal, tidak heran jika perusahaan dengan karakter tersebut bisa berputar lebih cepat dibanding kompetitornya. “Karena itu, kalau mau bisnis, buatlah bisnis yang bertujuan untuk memberikan dampak positif kepada banyak orang,” tambah dia.

Wahyoo, startup perusahaan sosial yang berfokus pada digitalisasi dan modernisasi warung makan melalui platform teknologi, telah menggadeng 12 ribu mitra warung makan. Dalam rangka mengapresiasi pencapaian tersebutz Wahyoo mengadakan acara yang bertema Pikniknye Wahyoo: Warungku, Pahlawanku sebagai ajang silaturahmi bersama 2.000 mitra warung makan, sekaligus memperkenalkan app Wahyoo terbaru dengan tampilan yang lebih fresh dan lebih mudah digunakan.
Wahyoo, startup perusahaan sosial yang berfokus pada digitalisasi dan modernisasi warung makan melalui platform teknologi, telah menggadeng 12 ribu mitra warung makan. Dalam rangka mengapresiasi pencapaian tersebutz Wahyoo mengadakan acara yang bertema Pikniknye Wahyoo: Warungku, Pahlawanku sebagai ajang silaturahmi bersama 2.000 mitra warung makan, sekaligus memperkenalkan app Wahyoo terbaru dengan tampilan yang lebih fresh dan lebih mudah digunakan.

Warteg sebagai Penggerak Ekonomi Mikro

Saat menceritakan pilihannya untuk membantu keberadaan warung-warung makan tradisional yang begitu akrab dengan keseharian masyarakat kebanyakan, Peter berpendapat bahwa warteg dan sejenisnya, harus diakui, punya peran penting dalam menggerakkan perekonomian Indonesia di sektor mikro.

Diakuinya, tidak mudah mengubah kebiasaan manual dari para pemilik warung tradisional pada budaya digital. Namun dengan prinsip teknologi hadir untuk membantu memudahkan dan mengefisieankan pekerjaan manusia, Wahyoo saat ini berhasil merangkul lebih dari 16 ribu warung makan di kawasan Jabodetabek.

Menurut Peter, keberhasilan itu tidak lepas dari keberhasilan Wahyoo dalam memberikan beberapa manfaat nyata kepada para mitra. Selain mendatangkan customer lebih banyak secara daring, fitur Wahyoo juga memungkinkan mereka mendapatkan bahan baku hasil pertanian dan sembako berkualitas dari brand mitra Wahyoo yang lain.

“Dan dari sisi bisnis, layanan ini sekarang malah berkembang menjadi salah satu backbone bisnis kami. Karena itu, jangan segan-segan ngobrol dengan customer untuk mencari masukan, kalau jeli kita akan mendapatkan berbagai opportunity dari sana,” lanjutnya.

Pada dasarnya, jelas Peter, pengusaha harus memliki mindset seperti dokter yang melakukan diagnosa untuk mencari tahu apa penyakit/masalah yang diderita pasien. Jika masalah berhasil dicarikan solusi, Peter yakin ‘pasien’ bersedia membayar berapa pun asalkan masalah teratasi.

Karena itu, Wahyoo juga menyediakan fitur yang memudahkan para pemilik warung dalam mengelola keuangan mereka. Jamak dipahami, salah satu kebocoran bisnis warung makanan segmen kelas bawah seperti warteg adalah banyaknya konsumen yang berutang. Untuk mengatasi masalah ini, Wahyoo menyediakan fitur yang membantu mengingatkan masa jatuh tempo setiap pengutang.

“Harapan kami sih, bisnis mereka bisa berjalan layaknya resto modern,” ujar Peter.

Sedangkan saat ditanya seputar masalah penurunan bisnis, Peter menegaskan loyalty program adalah salah satu kunci sukses semua usaha termasuk bisnis berbasis sosial (sociopreneurship).

“Seorang pengusaha memang harus ‘tergila-gila’ kepada pelanggannya. Sama seperti bisnis konvensional, agar konsumen datang kembali untuk membeli, langkah selanjutnya adalah customer service satisfaction. Untuk itu, alangkah baiknya kita membuat sebuah program loyalty, apakah dengan system membership, point reward, cashback dan lain-lain,” kata dia saat menanggapi keluhan seorang mahasiswa dari Makasar soal usaha warung jusnya yang turun ketika ditinggal pulang kampung.

Peter mencatat, konsumen Indonesia memiliki karakter khas yaitu suka dilayani dan diperhatikan. Oleh karena itu ia menyarankan agar selain terbuka dengan masukan pelanggan, kita juga ingat hal-hal sederhana seperti ingat nama mereka.

“Walaupun sederhana, hal itu penting karena mereka merasa dihargai. Karena itu kalau perlu pembawaan Anda yang seru dan rame ini dijadikan semacam SOP karena mudah menarik pelanggan,” sarannya.

Dalam acara diskusi itu, Peter juga membagikan strategi untuk bersaing dengan kompetitor yang sudah eksis, yakni harus mampu menemukan apa differensiasi dan uniq selling propositionnya

“Cari kekuatan kita, apakah ada di harga, kualitas produk, servis, apa saja yang bikin unik. Selain itu kita juga harus terbuka terhadap review dan masukan dari pelanggan. Tanyakan kepada customer ada masukan apa. Khusus untuk bisnis kuliner, hal yang paling krusial adalah kualitas makanan. Kalau nggak enak, jangan harapkan bisnis bisa naik. Pastikan makanan benar-benar enak, hingga bikin orang ketagihan,” demikian penjelasannya.

Peter mengingatkan, bisnis tidak cukup diawali dengan passion dan skill. Pasalnya, sebelum mulai bisnis, seorang pemula mesti sudah mengetahui dulu apakah produknya cocok dengan daerah tersebut serta seberapa besar market size yang ia sasar. Setelah tahap tersebut, ia juga harus melakukan mapping untuk memetakan siapa saja kompetitor yang sudah bermain di kolam tersebut.

“Banyak yang mulai bisnis tanpa memperhitungkan potensi pasar dan strategi, akhirnya putus di tengah jalan. Karena itu, selain memastikan ada target yang memang mau mengonsumsi produk kita, pastikan juga bahwa mereka mau membayar untuk mendapatkannya,” tambahnya.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN