Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gustav A Husein, investor anggota Komunitas Investa.

Gustav A Husein, investor anggota Komunitas Investa.

Omnibus Law, Serikat Pekerja Vs Serikat Penganggur

Kamis, 8 Oktober 2020 | 07:26 WIB
Oleh Gustav A Husein

Investor.id – Kontroversi tentang Omnibus Law UU Cipta Kerja hingga kini belum berakhir. Banyak serikat pekerja turun ke jalan menuntut perlindungan lebih dari yang diberikan UU tersebut.

Ada perbedaan pandangan yang mendasar antara pemerintah dan pekerja dalam menyikapi UU Cipta Kerja. Di satu sisi, pemerintah sangat yakin bahwa UU itu bisa meningkatkan investasi yang mempunyai multiplier effect bagi penciptaan lapangan kerja mengingat jumlah pengangguran di Indonesia masih tinggi dan makin bertambah akibat dampak pandemi Covid-19.

Di sisi lain, ada kekhawatiran kuat dari kalangan pekerja bahwa pemberlakuan UU itu akan membuat posisi mereka sebagai pribadi menjadi sangat lemah dalam dunia bisnis. Karena itu, mereka menuntut perlindungan Negara.

Berbeda sekali dengan para profesional yang percaya diri dengan kemampuan pribadinya, sehingga tak merasa perlu demo meminta perlindungan. Para profesional ini berani bertarung di dunia bisnis secara pribadi, bahkan sebagian dengan mudah berpindah tempat kerja karena kemampuan pribadi nya memang diperebutkan.

Sebaliknya, merasa lemah dalam dunia bisnis, kalangan pekerja ini justru merasa sangat kuat berhadapan dengan Negara. Mereka berdemo dengan tampilan garang, seragam yang bersuasana tempur, dan jumlah yg menakutkan. Sering pimpinan mereka menekan Negara dengan ancaman akan mengirim berjuta juta demonstran. Ngeri..

Tekanan agresif ini tentu tak sekedar menakutkan publik sesaat. Tapi juga menakutkan para pengusaha, yang tentu akan memikirkannya secara sungguh-sungguh untuk membuka bisnis baru atau memperluas bisnisnya pada saat ini.

Keriuhan demo buruh dalam menolak UU Omnibus Law membuat pengusaha memilih wilayah tenang, tidak heboh karena mereka memang mau bekerja. Akibatnya, investasi tidak bertumbuh, dan tujuan penciptaan lapangan baru menjadi gagal total.

Makin agresif pekerja di suatu wilayah tertentu, akan makin menutup peluang pekerjaan yang baru di wilayah tersebut. Tentu saja akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat luas.

Serikat Pengangguran
Kalau saja ada Serikat Pengangguran, mungkin akan terjadi gesekan keras dengan Serikat Pekerja. Yang nganggurlah yang butuh lapangan kerja baru. Yang sudah kerja tentu tak butuh lagi.

Namun kalau melihat perkembangan dunia bisnis, sepertinya sikap agresif ini akan menurun sendiri di masa depan.

Infrastruktur jalan raya yang baru, membuka peluang munculnya kawasan industri di wilayah baru. Akan terjadi kompetisi antar wilayah untuk semakin ramah terhadap bisnis.

Bahkan, bisa jadi karena masing-masing wilayah berlomba untuk menciptakan iklim bisnis yang ramah (business friendly) akan memunculkan serikat pekerja baru dengan cara pandang yang berbeda, yang bisa saja tidak tunduk pada Serikat Pekerja yang lebih senior dari wilayah lama. Mungkin akan muncul semacam kompetisi antara Serikat yunior dengan Serikat senior.

Saya perhatikan di Jepang, dan di Eropa, wilayah kawasan industrinya lebih kecil, suasana perburuhannya tampak lebih tenang. Manajemen dan buruh saling kenal akrab, sering bertemu, minum sake atau ngopi bareng di cafe desa.

Mungkin hal itu bisa terjadi karena kawasan industrinya tidak terlalu besar sehingga orang-orang lebih akrab. Mungkin juga karena masyarakat daerah tersebut banyak menggantungkan ekonominya dari industri di kawasan itu sehingga mereka saling menjaga. Ada rasa hormat satu sama lain.

Ada baiknya merancang kawasan industri dengan wilayah yang lebih kecil dan lokasiya lebih ke daerah-daerah karena toh akses jalan saat ini sudah lebih lancar. Infrastruktur dibangun secara masif untuk menyambungkan antar-daerah.

Pembangunan infrastruktur, internet, dan kucuran kredit mikro, akan lebih mendorong usaha rakyat di daerah dalam bidang pertanian, nelayan, makanan, dll. Digitalisasi juga telah memunculkan banyak pengusaha muda dengan bisnis startup nya.

Ke depan, menjadi buruh mungkin bukan lagi pilihan utama masyarakat. Secara alamiah, masyarakat non-buruh akan semakin besar dan bisa jadi akan makin meredam aksi buruh yang terlalu agresif. Teknologi juga berpihak pada suasana perburuhan yang lebih ramah.

Teknologi robot, otomasi, komputerisasi dan digitalisasi yang makin canggih dan makin murah, akan mendorong pengusaha untuk menggunakannya secara maksimal. Karena itu, secara bertahap jumlah buruh dalam suatu industri akan terus mengecil dibandingkan hasil produksinya, sehingga porsi biayanya pun makin mengecil dibanding biaya produksi keseluruhan.

Sebaliknya, peran individu pekerja dalam industri akan makin besar, makin berdaya, sehingga perusahaan akan lebih mampu memberikan penghasilan yang lebih memuaskan pekerja.

Transformasi bisnis ke arah digitalisasi telah mengubah tatanan industri dunia. Pilihan ada di tangan masing-masing pekerja untuk menyikapinya dengan cerdas dengan terus meningkatkan kemampuan diri sehingga mampu bertarung di dunia bisnis secara pribadi.


*** Gustav A Husein, investor anggota Komunitas Investa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN