Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: Investor saham

Ilustrasi: Investor saham

Pahami Teknikal dan Fundamental Analisis

Selasa, 7 Juli 2020 | 17:08 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

JAKARTA, Investor.id- Pandemi virus corona telah mengubah kebiasaanbanyak orang, termasuk kebiasaan bekerja dari rumah (work from home/WFH). Ternyata, ada fenomena menarik bahwa selama pandemi corona terjadi penambahan signifikan investor retai saham.

Banyak orang beranggapan, berdagang saham dari rumah bisa menghasilkan tambahan pendapatan, meskipun mempunyai risiko kerugian yang cukup besar pula. Agar investor pemula tidak terjebak dalam kerugian, perlu dipahami beberapa hal terkait keputusan untuk menjual atau membeli saham.

Mengutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dijelaskan, pembentukan harga saham terjadi karena adanya demand dan supply atas saham yang dipengaruhi banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik berhubungan saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut berada) maupun faktor yang sifatnya makro atau eksternal, seperti perkembangan tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar, dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik.

Investor dapat membeli saham suatu perusahaan melalui dua cara:

1. Membeli di Pasar Perdana, yaitu pada saat saham ditawarkan pertama kalinya kepada masyarakat/investor (yang lazim disebut Penawaran Umum Saham Perdana atau IPO atau go public).

2. Membeli di Pasar Sekunder, yaitu membeli saham yang dimiliki investor lainnya melalui Perusahaan Efek (broker) yang menjadi Anggota Bursa (AB). Hanya Perusahaan Efek yang menjadi Anggota Bursa (AB) yang dapat melakukan jual-beli saham melalui sistem perdagangan di Bursa Efek Indonesia (Jakarta Automated Trading System/JATS).

Investasi saham bukan semata-mata spekulasi tanpa logika, karenanya perlu dipahami dua jenis analisis, yakni :

1. Analisis Fundamental

        Analisis yang bertujuan untuk memilih saham mana yang patut diinvestasikan dengan mempelajari hal- hal yang berhubungan dengan kondisi keuangan suatu perusahaan.

       2. Analisis Teknikal

Analisis yang bertujuan untuk mengetahui target harga dan kapan sebaiknya melakukan transaksi dengan menggunakan data harga dan volume perdagangan di masa lalu untuk memprediksi pergerakan harga yang akan terjadi.

Kedua jenis analisis di atas harus disesuaikan dengan tujuan dalam berinvestasi. Jika ingin melakukan perdagangan cepat atau trading, maka diperlukan analisis teknikal. Sedangkan, jika tujuannya untuk berinvestasi jangka panjang maka perlu menekankan analisis fundamentalnya.

Jenis-Jeni Saham

Berikut jenis-jenis saham yang perlu dipahami.

1.      Blue Chip Stocks

Jenis saham ini banyak diburu investor karena berasal dari perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, merupakan leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

2.      Income Stocks

Jenis saham emiten ini juga mempunyai keunggulan dalam hal kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.

3.      Growth Stocks

- (Well-Known)

Mirip dengan blue chip, saham jenis ini memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis dan dikenal sebagai perusahaan yang mempunyai reputasi tinggi.

- (Lesser-Known)

Walaupun bukan sebagai leader dalam industri, namun jenis saham ini tetap memiliki ciri growth stock. Biasanya merupakan saham dari perusahaan daerah dan kurang populer di kalangan emiten.

4.      Speculative Stocks

Investor dengan profil risiko high risk, bisa mencoba jenis saham ini. Saham ini berpotensi menghasilkan laba tinggi di masa mendatang, namun tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun.

5.      Counter Cyclical Stocks

Jenis saham ini paling stabil saat kondisi ekonomi bergejolak karena tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Jika terjadi resesi ekonomi, maka harga saham ini tetap tinggi, dimana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi.

Emiten seperti ini biasanya bergerak dalam produk yang selalu dibutuhkan masyarakat seperti consumer goods dan rokok.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN