Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dr S Benny Pasaribu, MEC (Ekonom Senior, Mantan Ketua KPPU RI)

Dr S Benny Pasaribu, MEC (Ekonom Senior, Mantan Ketua KPPU RI)

Paket Sembako, Menguntungkan Usaha Besar

Oleh Dr. Ir Benny Pasaribu Phd, Minggu, 17 Mei 2020 | 07:56 WIB

JAKARTA, Investor.id - Sejak Pemerintah Pusat menetapkan peraturan jarak sosial (sosial distancing) dan memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah, kita menyaksikan sejumlah usaha dan perkantoran harus ditutup dan karyawannya dirumahkan atau diberhentikan.

Dampak dari langkah ini mengakibatkan penghasilan sebagian warga masyarakat semakin memprihatinkan. Daya beli menurun. Sebagian lagi harus menghadapi kesulitan untuk mencari makan, bahkan ada yang kelaparan.

Tentu saja kondisi yang sama juga terjadi di banyak negara yang terpapar pandemi Covid 19. Hal ini menjadi dilema karena di satu sisi ingin tetap di rumah saja sesuai aturan pemerintah, tetapi di sisi lain keluarga menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehingga terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah. Jika bertahan di rumah saja maka besar kemungkinan akan sakit karena kurang gizi, kalau belum waktunya meninggal.

Oleh karenanya, situasi new normal mulai terbentuk di tengah masyarakat. Jiwa dan semangat gotong royong semakin berkembang.

Pemerintah juga berupaya memberikan bantuan sosial dan stimulus kepada yang terdampak. Bahkan dana APBN telah direvisi dengan mengalihkan belanja sebesar Rp 405,1 triliun untuk membiayai penanganan Covid 19 dan untuk memitigasi dampaknya.

Pemerintah telah mendistribusikan sembako yang diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat. HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) yang dikomandani Jenderal TNI (Purn) Moeldoko juga ikut aktif bergotong royong memberikan bantuan makanan sehat, alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis, dan sembako.

Dalam hal distribusi sembako, mendapat sorotan tajam dari media dan pengamat sosial karena sejumlah faktor:

1. Banyak sembako diterima oleh keluarga yang tidak pantas menerima, sementara warga yang berhak belum menrimanya. Hal ini menyangkut validasi data penerima. Artinya, sejak puluhan tahun lalu data ini tidak divalidasi secara reguler.

2. Isi sembako juga disoroti. Kebanyakan komponen paket sembako merupakan hasil produksi pabrikan yang notabene milik korporasi.

Beras dari BULOG, gula, supermie dan minyak goreng dari pabrik milik para samurai/ konglomerat, dan sebagainya. Artinya kaum kapitalis justru makin berkembang dan meraup untung besar saat warga dalam keadaan susah.

Di sisi lain, para petani yang sedang panen merasa sulit mencari pasar. Restoran dan hotel banyak yang tutup. Posisi tawar petani masih lemah.

Petani mampu memproduksi padi, ubi, buah-buahan, sayuran, temu lawak, jahe, bawang, dan sebagainya, tetapi pasarnya sangat tipis. Apakah tidak lebih baik jika isi paket sembako ditambah dengan produk lain dari hasil petani dan UMKM?

Kondisi ini perlu disikapi secara konkrit oleh pemerintah dan setiap elemen masyarakat yang aktif menyediakan paket sembako.

Saat inilah kita perlu menyadari pentingnya semangat gotong royong untuk membela yang lemah. Pengadaan sembako perlu diprioritaskan dari produk langsung petani dan UMKM daripada produk pabrikan. Paket sembako akan lebih bermutu jika diisi dengan produk yang masih segar dan sehat karena baru panen langsung dari petani.

Apabila masih kurang, tentu dapat diambil dari stok Bulog dan pabrikan sebagai jalan alternatif, bukan sebaliknya.

Berbuat baik kepada yang lemah pasti dapat pahalanya. Semoga negara tercinta ini dapat melaju kencang keluar segera dari cengkeraman pandemi Covid 19 dan sekaligus kita perlihatkan kekuatan baru ekonomi bangsa ini berada di tangan UMKM dan Petani kita. Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Penulis:
Dr. Ir. Benny Pasaribu, PhD
Petani HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN