Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
*** Budi Purnomo Karjodiharjo, praktisi media dan komunikasi.

*** Budi Purnomo Karjodiharjo, praktisi media dan komunikasi.

Pemulihan Citra Staf Khusus Milenial

Oleh Budi Purnomo, Selasa, 3 Desember 2019 | 10:28 WIB

JAKARTA, Investor.id – Siapa pun tokohnya, apakah tokoh muda ataupun tua, tokoh kekinian atau tokoh kekunoan, dia ingin citranya selalu cantik, dan reputasinya senantiasa bersinar. Sang tokoh akan selalu berusaha untuk tidak akan melakukan kesalahan dan mengupayakan agar selalu berbuat benar. Jika berbuat salah? Tetap sama, dia ingin citra dan reputasinya tetap baik.

Di sinilah peranan ilmu komunikasi hadir mengemas situasi krisis yang terjadi dan bisa membawa ke arah perbaikan dan pemulihan citra melalui strategi public relations dengan pendekatan teori restorasi citra maupun online reputation management.

Studi kasus komunikasi yang aktual adalah masalah cuitan Staf Khusus (Milenial) Presiden Jokowi, Billy Mambrasar, yang akhirnya menyatakan bahwa dirinya tidak bermaksud berpihak pada kelompok masyarakat apa pun.Tidak cukup itu, Billy juga minta maaf kepada publik karena telah memicu polemik lewat cuitannya di Twitter dengan menyinggung kalimat 'kubu sebelah megap-megap'.

Dari kacamata teori komunikasi, terutama Image Restoration Theory (pemulihan citra atau restorasi reputasi), setidaknya Billy sudah menggunakan dua strategi dalam upayanya memulihkan citra sebagai pejabat publik .

Pertama, Strategi Reducing Offensiveness of Event. Dalam strategi ini ada pengkondisian bahwa meskiun ada kesalahan sebenarnya sangat pantas diberikan keringanan, bahkan diberikan pengampunan.

Mengacu pada strategi ini, ada enam pilihan implementasi yang bisa dilakukan agar mendapatkan apresiasi publik yang positif sesuai dengan yang diharapkan. Semuanya ada plus dan minusnya, tergantung seberapa besar krisis yang sedang dihadapi. Selain itu langkah strategi pemulihan citra itu pun memiliki konsekuensinya masing-masing.

Nah, dari sekian pilihan itu, menurut saya disadari atau tidak, Billy menggunakan taktik Minimalization, untuk mengurangi gelombang besar yang akan menggerus reputasinya, dengan menyampaikan background dirinya.

"Sedari kecil saya diajari indahnya perdamaian dan saling sayang yang diajarkan Islam dan Kristen. Saya menyaksikan keindahan dari hidup di Indonesia, di tengah-tengah keluarga kami. Dan tidak pernah sekalipun saya menyatakan hal-hal berbau ujaran kebencian dan kecurigaan terhadap agama apa pun," tulis Billy dalam cuitan twitter klarifikasinya

Kedua, Strategi Mortification. Strategi ini menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam Image Restoration Theory (teori pemulihan citra). Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Menurut Wikihow, permintaan maaf merupakan ungkapan penyesalan untuk kesalahan yang sudah diperbuat, dan berfungsi sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan setelah kesalahan terjadi.

"Saya pertama memohon maaf atas kesalahpahaman yang muncul karena salah satu cuitan saya yang menggunakan kata yang menimbulkan multitafsir, yaitu kata: 'kubu'," cuit Billy di akun twitter @kitongbisa.

Mestinya Case Close
Billy sudah menghapus cuitan yang membuat polemik di masyarakat. Itu saja tidak cukup. Penggunaan strategi Reducing Offensiveness of Event saja pun, saya kira tidak cukup. Setidaknya menggunaan dua strategi (sekaligus) komunikasi pemulihan citra ini, yang akan efektif untuk menangani masalah manajemen reputasi seperti ini.

Sulit dibayangkan seperti apa jadinya jika strategi Mortification ini tidak diambil. Bisa jadi urusannya akan menjadi lebih lebar dan bertambah panjang.

Contoh kasus terbaru yang sukses menggunakan strategi Mortification adalah Sukmawati Soekarnoputri. Baik pembacaan puisi atau pun pidatonya sempat menggegerkan umat, tapi kini adem setelah minta maaf.

Pemberian maaf terjadi ketika orang yang merasa disakiti tergerak hatinya untuk memperbaiki hubungan dengan orang yang telah menyakitinya. Secara spiritual, memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan, merupakan perbuatan terpuji yang diyakini akan mendatangkan pahala dan keselamatan dari Allah. (*)

***Budi Purnomo, Praktisi Media dan Komunikasi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA