Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Djoko Santoso CFP, Ketua Financial Planning Standards Board Indonesia (FPSBI).

Tri Djoko Santoso CFP, Ketua Financial Planning Standards Board Indonesia (FPSBI).

Pensiun yang Sukses

Tri Joko Santoso, Senin, 12 Agustus 2019 | 12:26 WIB

Menurut sebuah penelitian di Amerika, kelompok orang-orang berusia produktif 45 - 50 tahun adalah kelompok yang paling serius dan khawatir memikirkan masa pensiun mereka. Apakah uang pensiun cukup? Apakah saya dan uang saya harus bekerja lebih keras dan lebih panjang?

Pensiun sukses menurut pakar keuangan Robert Kyosaki adalah ketika mereka memilih pensiun dari rutinitas kerja dan menikmati “momen-momen emas” bersama keluarga, aktif dalam kegiatan sosial, banyak teman dan bebas finansial. Maksud dari bebas finansial adalah mereka bebas dari hutang, tetap memiliki penghasilan, rumah nyaman, asuransi kesehatan, serta rencana legasi untuk keluarga.

Pensiun disebut gagal apabila mereka gagal mencapai kebebasan finansial. Kegagalan karena mereka barangkali lalai menabung atau menjaga tabungan hingga lenyap karena beberapa hal, seperti :

  • Ikut-ikutan bisnis tanpa perhitungan matang

  • Berinvestasi terlalu berani

  • Tertipu investasi bodong

  • Uang dipinjam saudara atau teman tidak kembali.

  • Belanja berlebihan.

  • Banyak pengeluaran tanpa rencana

Ketika seseorang memiliki akses dana tunai, kecenderungan belanja dan investasi penuh risiko cenderung meningkat. Bila dia tidak memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan akan timbul potensi “kebangkrutan” atau tidak bisa menikmati masa tuanya.

Menurut pakar keuangan Dave Ramsei, kemampuan seseorang untuk mengelola keuangan didasari oleh 80% perilaku dan 20% pengetahuan orang tersebut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan indeks literasi masyarakat Indonesia sekitar 27,9%. Ini menunjukan bahwa lebih dari 72% masyarakat dari berbagai latar belakang memiliki masalah perilaku dan pengetahuan keuangan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, strategi asset preservasi dirancang untuk mengendalikan perilaku keuangan seseorang sekaligus membiasakan mereka untuk hidup hemat dan wajar sesuai budget (anggaran), dan tidak tergoda tawaran-tawaran yang tidak perlu. Prinsip asset preservasi adalah melestarikan uang untuk jangka waktu panjang lintas generasi.

Dalam ilmu perencanaan keuangan, tersedia dua jenis asset bagi nasabah yaitu asset investasi dan asset personal. Sesuai namanya, asset investasi bertujuan mencari peluang akumulasi modal agar asset investasi mampu tumbuh dan berkembang. Prinsip high risk - high gain dan risk profile test menunjukan porsi saham dan kemampuan seseorang menanggung risiko.

Kebalikannya, asset personal menawarkan prinsip konservatif, pasti, aman dan terkendali untuk pertumbuhan investasi. Uang dalam asset preservasi biasanya disimpan dalam deposito bank, reksadana pasar uang, reksadana obligasi, dan sedikit saham blue chip.

Asset preservasi adalah bagian dari asset personal dengan tujuan spesifik. Uang dalam asset preservasi dipisahkan berbeda dari jenis asset personal lainnya. Biasanya dalam bentuk polis asuransi jiwa.

Kenapa polis asuransi jiwa? karena melalui sarana polis asuransi jiwa nilai asset preservasi diakumulasi dengan tiga cara yaitu hasil investasi konservatif, klaim kematian, dan klaim kecelakaan. Kontrak asuransi akan mengatur agar saat pensiun, Anda akan menerima penghasilan tahunan bebas pajak dalam jangka waktu tertentu misalnya 20 tahun dengan nilai penghasilan yang dirancang agar Anda bebas finansial. Bila tertanggung meninggal dalam masa kontrak, penghasilan bertahap bebas pajak tersebut menjadi penghasilan legasi bagi pasangan dan anak-anak tercinta. Pola penghasilan ini dapat menjaga seseorang dari penggunaan uang secara berlebihan.

Penghasilan dari asset preservasi hanya ketika Anda pensiun saja. Polis asuransi bekerja menunda pembayaran bertahap jangka panjang bebas pajak. Pola pembayaran memungkinkan Anda melunasi sisa hutang lebih cepat dan menikmati masa pensiun sesuai budget belanja. Ketika meninggal dalam masa kontrak pembayaran bertahap bebas pajak terus berjalan untuk keluarga tercinta.

Ketika asset investasi Anda bekerja keras dan asset personal bekerja aman, asset preservasi akan menjadi bantal safety keluarga saat pensiun

*** Tri Djoko Santoso CFP, Ketua Financial Planning Standards Board Indonesia (FPSBI).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA