Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa dan pengamat pasar modal.

Peran "Bandar" Saham dalam Kasus Jiwasraya

Oleh Hari Prabowo, Senin, 27 Januari 2020 | 09:59 WIB

JAKARTA, Investor.id - Sebutan "bandar" di bursa saham sebenarnya lebih populer dibanding istilah "predator" atau manipulator seperti yang disebutkan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Presiden Joko Widodo. "Bandar: memang cenderung berkonotasi negatif karena menjurus ke arah perjudian, tapi demikianlah faktanya. Bagi pelaku pasar hal itu sudah tidak asing lagi.

Istilah investasi di saham juga masih banyak yang mengatakan "main saham". Demikian pula return atau hasil dan kerugian dari investasi saham, sering disebut "menang atau kalah". Tak bisa dipungkiri, ini memang bahasa populer yang menggelitik di kalangan pelaku pasar.

"Bandar" saham adalah pihak yang mengatur naik turunya harga saham tertentu di bursa. Mereka bisa melakulan dengan berbagai cara yang cukup rapi dan "menyesuaikan" peraturan yang ada sehingga menyulitkan pengawas transaksi, baik Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menuduh telah terjadi "fraud" atau pelanggaran di bursa. Para "bandar" memang telah mempelajari peraturan, mencari terobosan dan celah untuk menjalankan aksinya.

Berbagai modus yang dilakukan oleh "bandar" ternyata tidak hanya sekedar "menggoreng" harga saham namun bisa menggunakan instrumen Repurchase Agreement (REPO), mengatur Manajer Investasi sampai menyiapkan perusahaan (emiten) yang sahamnya digunakan untuk target sang "bandar" dalam menjalankan aksinya. Tujuan Bandar tentu saja mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dari para investor.

Target para "bandar" itu bukan saja investor ritel yang baru belajar "Yuk menabung saham" tapi investor-investor institusi yang punya dana besar. Maka tidak heran ketika saya membaca bahwa Asuransi Jiwasraya kebobolan triliunan rupiah dari investasi mereka, barangkali saja mereka masuk dalam perangkap para "bandar" saham yang memang lihai dan licik itu.

Para investor institusi mungkin sekarang sedang "shock" berat karena dalam portofolio mereka tanpa sengaja juga terdapat saham-saham yang sama dengan portofolio Jiwasraya. Mereka khawatir dituduh ada konspirasi dan terkait dengan kasus Jiwasraya, padahal sebenarnya para investor institusi tersebut juga menjadi korban dari "jebakan" aksi para "bandar" saham. Akibatnya para investor institusi dilematis untuk investasi dalam bentuk saham sementara ini sehingga terasa transaksi bursa mengalami penurunan. Fatalnya lagi sebagian investasinya yang dipercayakan kepada para Manajer Investasi ternyata Manajer Investasinya juga terjebak dalam kasus Jiwasraya sehingga Nilai Aktiva Bersih (NAB) ikut anjlok.

Seperti kita ketahui, kasus Jiwasraya sudah ditangani aparat hukum sehingga kelak bisa diketahui siapa saja yang "bermain" dan bagaimana sebenarnya yang terjadi. Namun aparat hukum rasanya juga perlu ekstra hati-hati dalam penanganannya karena ini menyangkut kondisi pasar yang sangat sensitif. Jangan sampai investor kehilangan kepercayaan dan serba ketakutan dalam berinvestasi di instrumen pasar modal yang sebenarnya sangat kita harapkan sebagai sarana pembiayaan jangka panjang. Pemblokiran beberapa rekening efek harus selektif jangan sampai menjadi masalah baru terutama para investor institusi yang membutuhkan kepercayaan publik.

Kasus Jiwasraya ini memang menjadi pengalaman pahit baik bagi Investor dan juga pengawas maupun penyelenggara pasar yaitu OJK dan BEI. Berharap ini menjadi pembenahan menyeluruh agar pasar modal kita bisa berjalan dan berkembang dengan baik.

*** Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA