Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mentor Komunitas Investa yang juga mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud.

Mentor Komunitas Investa yang juga mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud.

Saham Bergerak Liar, Ini Tipsnya

Jumat, 16 Oktober 2020 | 06:24 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Harga saham belakangan ini bergerak sangat liar dengan volatilitas tinggi. Dalam satu hari perdagangan, harga saham bisa naik lebih dari 10% dan pada hari yang sama bisa ditutup negatif.

Ada juga yang dalam beberapa hari naik tajam hingga terkena batas kenaikan atas sebesar 25% (autor reject atas/ARA), namun ketika perdagangan keesokan harinya dibuka kembali langsung terkena auto reject bawah (ARB) karena turun hingga 6 %.

Mentor komunitas Investa yang juga mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, menjelaskan bahwa pergerakan harga saham yang seperti roller coaster mencerminkan tingginya faktor ketidakpastian.

Pandemi virus corona (Covid-19) yang belum berakhir, resesi ekonomi, pilpres AS, dan faktor geopolitik dalam negeri sangat mempengaruhi sentimen investor sehingga menyebabkan harga bergerak sangat fluktuatif.

"Kalau saya tetap memilih saham-saham yang mempunyai prospek bagus. Jadi kalau toh harga saham yang kita beli turun tajam, suatu saat pasti kembali, bahkan bisa untung," katanya saat berbicara dengan Komunitas Investa dengan tema "Beberapa Indikator Ekonomi Terkini."

Meski investasi saham mempunyai horison jangka panjang, kata dia, dalam kondisi pasar yang volatile juga dibutuhkan strategi jangka pendek agar bisa memanfaat peluang meraih capital gain di tengah gelombang naik turunnya harga saham.

Analisis fundamental, kata dia, mengalami kesulitan karena investor banyak yang tidak rasional. Padahal fundamental berangkat dari investasi yang dilakukan secara rasional. "Ini merupakan kelemahan sekaligus kekuatan dari analisis fundamental," katanya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya investor mempunyai horison investasi yang bisa dibagi dalam empat kuadran:

1. Kondisi buruk dan prospeknya juga buruk.

2. Kondisi bagus tetapi prospeknya buruk.

3. Kondisi buruk tapi prospeknya bagus.

4. Kondisi bagus dan prospeknya bagus.

"Dalam memilih saham, saya menyukai kuadran 3 dan 4. karena ada potensi kenaikan kinerja perusahaan yang nantinya berkorelasi terhadap harga," jelasnya.

Salah satu obyek investasi yang menarik, menurut Hasan Zei, adalah saham perusahaan yang kondisinya saat ini masih rugi tetapi memiliki peluang yang besar untuk memperoleh laba.

Indikator

Hasan Zein menjelaskan beberapa indikator ekonomi yang perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap pergerakan indeks harga saham. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi resesi ekonomi dengan kontraksi minus 1,5%.

Selain itu juga perlu diperhatikan risiko politis yang tinggi, domestik maupun global, seperti pemilihan presiden di AS. "Kalau risiko ekonomi bisa dikalkulasi, sedang politik sangat sulit diprediksi,"ujarnya.

Indikator inflasi rendah yang disebabkan oleh lemahnya belanja masyarakat, defisit APBN juga perlu disikapi. Utang pemerintah yang membengkak menjadi sekitar Rp 1.400 triliun, dan juga pelemahan dolar AS.

Ia menjelaskan, terjadi divergensi ekonomi dengan bursa saham, ketika ekonomi mengalami kontraksi, bursa saham justru rally. Contohnya, ekonomi AS dalam dua kuartal kontraksi sekitar 9,5%, indeks Nasdaq dan S&P justru memecahkan rekor tertinggi baru. Demikian juga dengan Indonesia, ketika pada kuartal kedua ekonomi kontraksi, IHSG naik 15% quarter on quater (QoQ), meskipun secara year on year (YOY) masih negatif.

Dibalik rally harga saham, ada faktor katalis yang mendorongnya, berupa stimulus fiskal dan moneter hampir di semua negara untuk merehabilitasi ekonomi yang rusak akibat pandemi. Selain itu, emiten juga melakukan aksi korporasi seperti merger dan akusisi, juga buy back yang masif di AS, serta ekspektasi pemulihan ekonomi secara cepat.

Hasan Zein Mahmud memberikan tips untuk investor pemula:

1. Tetapkan tujuan dalam berinvestasi.

2. Jangan menggunakan uang fondation atau tabungan. Pakai dana yang memang diperuntukkan untuk investasi di saham.

3. Jangan menggunakan pinjaman, fasilitas margin trading, dan short selling.

4. Pilih saham-saham yang akan dibeli, sekitar 4 saham untuk investasi dan satu saham untuk trading. Alasannya, jika portfolio terlalu banyak menjadi tidak fokus.

5. Jangan menghabiskan semua peluru, karena investor membutuhkan dana untuk menghadapi tren dengan average down jika saham yang dibelinya turun, atau sebaliknya.

6. Perlu diperhatikan tata kelola perusahaan dari saham yang akan dibeli.

7. Investor perlu memahami rasio-rasio, termasuk indikator ekonomi. "Indikator ekonomi seperti lampu aladin, yang bisa dipakai untuk meramal masa depan," katanya.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN