Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Seni Menikmati Pergerakan Saham

Oleh Hari Prabowo, Jumat, 27 Maret 2020 | 10:44 WIB

JAKARTA, Investor.id - Saya sering mengatakan bahwa investasi di bursa saham ini adalah "seni", dimana jiwa kita bisa dibawa pada suasana yang beragam antara kebahagiaan, kegalauan, kelucuan, dan bahkan kesedihan dari suatu gerak harga saham.

Kadang begitu bahagianya ketika harga saham yang dibeli naik drastis, serasa mudah cari rejeki di investasi saham. Namun suatu saat kita juga merasakan begitu kejam dan sulitnya mencari rejeki di bursa ini ketika saham turun drastis dalam sekejap.

Sebagai investor, hendaklah kita memahami hal tersebut karena ini memang karater investasi di bursa saham.
Kita mesti siap, terutama aspek psikologi  dalam menghadapi situasi apa pun yang ada, baik ketika bursa dalam kondisi normal, kondisi baik (bullish),  maupuni buruk (bearish). Untuk itu jangan sombong, jangan tamak, jangan emosional, dan jangan mudah grogi.

Semua dilakukan terukur pada batas apa yang bisa kita lakukan sesuai kemampuan kita, termasuk dalam menghadapi risiko serta managemen keuangan. Kegagalan dalam berinvestasi di saham kebanyakan justru karena kesalahan kita sendiri karena psikologi yang rentan dan managemen keuangan yang tidak bagus.

Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita mengenal "karakter" masing-masing saham.
Karakter saham ini tidak sama. Investor yang sudah punya jam terbang tinggi, mungkin bisa merasakan karakter pergerakkan harga setiap saham.

Beberapa karakter saham antara lain;
1. Saham yang reaksi pergerakkan harganya cepat menyesuaikan pergerakkan IHSG, naik turunnya tergantung IHSG.
2. Saham yang pergerakkan harganya lebih agresif dari IHSG, misalnya IHSG naik 1%, maka saham tersebut bisa naik lebih tinggi dari IHSG. Demikian pula sebaliknya, jika IHSG turun maka saham tersebut penurunan harganya bisa lebih tajam.
3. Saham yang pergerakkan harganya lebih lambat reaksinya terhadap pergerakkan IHSG. Ketika IHSG naik, maka harga saham ini juga lambat naiknya, demikian pula sebaliknya
4. Saham yang harganya tidak selalu searah dengan pergerakkan IHSG, bahkan bisa jadi "anomali", ketika IHSG naik malah harga saham ini turun dan sebaliknya.

Jadi inilah yang saya mangsudkan bahwa investasi maupun trading saham itu adalah menikmati "seni", sehingga kita yang mesti bisa merasakan masing-masing.

Silahkan investor menyesuaikan kesenangannya masing-masing, saham seperti apa karakternya agar bisa dinikmati.

Ibarat menikmati lagu ada yang suka kroncong, rock, slow, atau ndangdut. Jangan paksakan diri menikmati lagu yang tidak cocok dengan jiwa dan kesenangan Anda. Demikian pula investasi di saham, sesuaikan dengan sifat pribadi Anda.

*** Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA, dan pengamat Pasar Modal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN