Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Biji-biji kopi untuk Kopi Sirap. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Biji-biji kopi untuk Kopi Sirap. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Sihir Kopi Sirap

Listyorini, Minggu, 15 September 2019 | 10:50 WIB

SEMARANG, investor.id – Sirap dalam Bahasa Jawa sering disamakan dengan sirep yang artinya sihir. Banyaknya orang memperbincangkan kopi produksi Doesoen Sirap belakangan ini bisa jadi sebagai tanda bahwa “sihir” dari Doesoen Sirap, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini mulai berkerja.

Kopi Sirap memang mempunyai rasa khas dan aroma yang unik.”Ada rasa mocca, karamel, dan sedikit lemon. Uniknya, ada aroma pinus di dalamnya. Ini sangat langka,” kata Reza Adam Ferdian, salah satu master kopi Indonesia yang juga co-founder Kopisob.

Usut punya usut, ternyata memang benar, tanah perkebunan kopi yang berada di ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut itu pernah ditanami pinus sehingga aroma khas pinus keluar.

Aroma floral (tumbuh-tumbuhan) mempunyai “sihir” untuk relaksasi. “Penikmat kopi akan merasakan efek tenang dan menyegarkan,” kata Reza saat peresmian Doesoen Kopi Sirap oleh PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, Minggu (8/9/2019).

Kopi Sirap yang mempunyai rasa khas dan aroma yang unik. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL
Kopi Sirap yang mempunyai rasa khas dan aroma yang unik. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Melalui Bakti BCA Peduli, bank swasta dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia itu memberikan bantuan untuk pemberdayaan masyarakat Doesoen Sirap yang mayoritas menggantungkan hidupnya dari bertanam kopi.

Menurut Reza, nilai jual kopi robusta dari Doesoen Sirap bisa ditingkatkan jika pemrosesannya dilakukan secara benar. Harga biji kopi Sirap robusta Rp 21 ribu per kilogram dari petani, bisa ditingkatkan menjadi berkisar Rp 35–40 ribu per kilogram. “Nilai tertinggi robusta terbaik bisa sampai Rp 110 ribu per kilogram dan itu ada di Bali,” katanya.

Kepala Kecamatan Jambu, Edi Sukarno mengatakan, jika tidak ada dukungan dari pemerintah dan swasta, nasib Kopi Sirap bisa menyedihkan. “Saya prediksi, dua generasi berikutnya sudah tidak mengenal Kopi Sirap jika tidak ada support untuk melestarikan kebun kopi untuk kesejahteraan warga,” katanya.

Ia telah berupaya untuk membina anak-anak muda Doesoen Sirap agar mencintai kopi.”Kami selalu melibatkan anak-anak muda untuk budidaya tanaman kopi dan sering membuat lomba dengan memanfaatkan era digital. Yang banyak mendapat like yang menang kontes,” katanya.

Ia berharap, generasi-generasi selanjutnya mampu menjadi pengembang Kopi Sirap sehingga kemasyuran kopi tersebut tetap dapat menyihir masyarakat, bukan tinggal kenangan karena minimnya support dan rendahnya harga jual kopi dari petani. Jangan sampai “sihir” itu musnah karena himpitan kebutuhan hidup yang memaksa petani kopi menjual lahannya dan generasi muda memilih menjadi pekerja daripada petani kopi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN