Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat dalam seminar

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat dalam seminar "Peluang dan Tantangan Ekonomi Siantar-Simalungun 2020" yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) bekerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Siantar, belum lama ini.

Sumut Perlu Dorong Sektor Potensial sebagai Sumber Ekonomi Baru

Listyorini, Jumat, 28 Februari 2020 | 13:29 WIB

PEMATANGSIANTAR, Investor.id – Untuk mengembangkan ekonomi Sumatera Utara (Sumut), sektor-sektor potensial perlu didorong sebagai sumber perekonomian baru, seperti hilirisasi perkebunan, perikanan, dan alumunium, penguatan sektor pariwisata, serta penguatan peran usaha kecil dan menengah (UKM).

Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat dalam seminar "Peluang dan Tantangan Ekonomi Siantar-Simalungun 2020" yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) Cabang Siantar bekerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Siantar, belum lama ini. Selain Wiwiek, seminar tersebut juga menghadirkan pembicara dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Utara yang diwakili oleh Sujatmiko, Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) Murbanto Sinaga, dan perwakilan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Renny Maisyarah. Seminar dibuka oleh Walikota Pematangsiantar H Hefriansyah SE MM.

Selain mendorong sektor-sektor potensial, ada sejumlah rekomendasi lain dari Bank Indonesia untuk mendorong perekonomian Sumut pada 2020-2021, yakni perbaikan sumber daya manusia, pemanfaatan digitalisasi sebagai kekuatan baru perekonomian, dan meningkatkan investasi swasta sebagai sumber pembiayaan daerah.

Menurut Wiwiek, produk Sumut memiliki pangsa besar terhadap perdagangan dunia. Sayangnya, masih sebatas komoditas primer. "Beberapa komoditas, seperti CPO dan lainnya yang diekspor masih jauh dari medium and high skill," katanya. Padahal kalau diolah akan mempunyai nilai tambah yang jauh lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi baru wilayah Sumut bisa dikembangkan dengan mendorong komoditas unggulan, seperti hilirisasi perkebunan, alumunium, dan perikanan.

Pengembangan hilirisasi komoditas juga ditunjangoleh tiga kawasan industri dengan aksesibilitas ke pelabuhan dan bahan baku yang cukup baik. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan utilisasi kawasan industri melalui dukungan pengaturan harga kebutuhan dasar industri.

Penguatan Pariwisata

Dalam kesempatan itu, Wiwiek menekankan tentang potensi pariwisata Sumut untuk dikembangkan menjadi sumber devisa. "Danau Toba sebagai kawasan pariwisata superprioritas menjadi kekuatan dan ikon pariwisata yang berpotensi menjadi sumber ekonomi daerah," kata dia. Komitmen Pemerintah Pusar untuk membangun infrastruktur penunjang pariwisata Toba juga dapat menjadi daya ungkit perekonomian Sumatera Utara ke depan.

Berdasarkan kajian Passenger Exit Survei di Bandara Silangit, kata dia, wisata yang paling diminati di Danau Toba adalah Bukit Holbung, Pulau Samosir, dan Air Terjun Sipiso-piso. Hanya saja, kualitas infrastruktur, kebersihan, amenitas, dan transportasi masih perlu ditingkatkan.

"Tantangan muncul dari sisi amenitas. Meskipun jumlah hotel di Sumut masih memadai, namun yang bertaraf internasional masih kurang," kata dia. Selain itu, ketersediaan Tourist International Center (TIC) masih terbatas, hanya tersedia di Bandara Kualanamu.

Untuk penguatan UMKM, banyak komoditas unggulan Sumut yang masih berpotensi untuk dikembangkan, seperti komoditas padi sawah, kelapa sawit, budidaya ikan danau, produk kerajinan ulos dan lainnya.

Tantangan Global

Wiwiek Sisto Widayat juga mengungkapkan tantangan ekonomi global saat ini, seperti dampak virus corona (COVID-19) yang diprediksi akan menekan perekonomian Tiongkok dan menghambat keberlanjutan pemulihan global terutama awal tahun 2020. Sebagai respon berapa negara di Asia Tenggara menurunkan suku bunga sebagai antisipasi dampak pelemahan ekonomi akibat COVID-19. Bank Indonesia juga telah melakukan penyesuaian melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Februari 2020 dengan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,75%.

Dari sisi perekonomian domestik, prospek ekonomi Indonesia pada tahun 2020 diprakirakan akan tumbuh lebih rendah menjadi 5,0-5,4%, dari prakiraan semula 5,1-5,5%, namun akan membaik pada tahun 2021. Peran Tiongkok yang cukup besar dalam peta ekspor, pariwisata, dan investasi Indonesia berisiko menahan prospek percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020. Secara spasial, perekonomian Provinsi Sumatera Utara tahun 2019 tumbuh 5,22% (yoy), lebih tinggi dari tahun sebelumnya 5,18% (yoy). Realisasi ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2019 sebesar 5,02% (yoy) dan Wilayah Sumatera sebesar 4,57% (yoy).

Hasil pembahasan seminar tersebut menunjukkan masih adanya peluang bagi Pematangsiantar dan Simalungun di tengah berbagai tantangan yang ada, yaitu:

1. Stakeholder perlu memberikan penekanan peningkatan kontribusi sektor perekonomian utama di daerah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sektor pertanian dan perkebunan, industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, dan konstruksi sebagai penyumbang 72% pertumbungan ekonomi di Sumatera Utara dapat menjadi prioritas pembangunan di Pematangsiantar dan Simalungun.

2. Posisi geografis Kota Pematangsiantar sebagai gerbang ke arah kawasan Pantai Barat dan KSPN Danau Toba sangat strategis dalam menunjang terciptanya titik tumbuh ekonomi serta distribusi barang dan jasa. Kota Pematangsiantar sebagai pintu gerbang menuju kawasan wisata Danau Toba, dengan terhubungnya Kota Medan – Pematangsiantar menuju Kota Parapat pada akhir tahun 2020 dapat berfungsi sebagai kota jasa perhotelan, jasa kuliner bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Danau Toba.

3. Ekonomi Provinsi Sumatera Utara yang berbasiskan sumber daya alam dan hasil pertanian serta didukung oleh industri pengolahan dan pengembangan sektor pariwisata cukup potensial untuk menjadi motor penggerak perekonomian ke depan. Peningkatan perdagangan internasional masih bisa ditingkatkan khususnya dengan negara yang sudah memiliki perjanjian Free Trade Area dengan Indonesia.

4. Perlunya kerjasama dan dukungan dari berbagai stakeholder di daerah untuk dapat turut serta memajukan Pematangsiantar dan Simalungun, terutama dalam upaya mengembangkan UMKM di daerah.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN